Mengenal Trigeminal Neuralgia, Nyeri Saraf Wajah yang Sakitnya Melebihi Melahirkan
Senin, 10 Juli 2023 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
“Penderitaan luar biasa itu yang membuat putus asa sehingga muncul ide mengakhiri hidup mereka,” ujarnya.
Hal ini dialami oleh Rianty dan Edi. Rianty bercerita, sebelum didiagnosis TN pada 1997, dirinya mengalami sakit gigi.
“Saya cabut gigi tahun 1994. Kata dokter ada akar gigi yang ketinggalan, harus dioperasi, saya diperlihatkan dan percaya. Tahun 1996 kok sakit lagi dan lebih dahsyat,” tuturnya.
![Mengenal Trigeminal Neuralgia, Nyeri Saraf Wajah yang Sakitnya Melebihi Melahirkan]()
Dokter Mustaqim Prasetya dan sang pasien, Rianty. Foto/SINDOnews/Inda Susanti
Rianty curiga dirinya terkena malpraktik dan sempat ingin mengajukan tuntutan. Selama setahun dia mengunjungi banyak klinik dan puluhan rumah sakit di Jakarta untuk mencari kebenaran. Hingga akhirnya dokter menyimpulkan biang keladi nyerinya bukan dari gigi melainkan saraf trigeminal.
“Kata dokter, kalau orang giginya sakit itu diketok-ketok bakal terasa ngilu, tapi saya nggak. Jadi, ini masalahnya bukan pada gigi dan mau keliling ke dokter gigi mana pun nggak akan sembuh,” bebernya.
“Ibu itu kena saraf, trigeminal neuralgia. Minum aja obat saraf,” tambah Rianty, menirukan perkataan dokter yang menanganinya.
Edi juga sangat awam, bahkan tak pernah mendengar istilah trigeminal neuralgia. Pria 71 tahun itu mengira rasa sakit di bagian rahang yang muncul pada akhir tahun lalu akibat kondisi giginya yang rusak dan menyisakan akar gigi.
Dia pun mendatangi dokter gigi dan pada pertemuan kedua dilakukan pencabutan gigi. Namun, hal itu tak menyelesaikan masalah.
“Rasa sakit masih sering datang dan saya hanya minum obat pereda nyeri. Sampai akhirnya saya dirujuk ke dokter saraf,” bebernya.
Biasanya dokter saraf akan bertanya tentang frekuensi dan intensitas rasa sakit, hal-hal yang kerap memicu rasa sakit, dan yang membuat rasa sakit jadi membaik atau memburuk.
Lantaran tidak ada tes tunggal untuk TN, mengetahui sifat nyeri adalah kunci dari diagnosis dan dokter yang menangani juga harus paham betul.
“Gejala TN sangat khas. Diagnosisnya pertama kali secara klinis, berdasar keluhan yang dirasakan pasien. Nyeri pada satu sisi wajah, bisa di satu atau lebih cabang persyarafan trigeminal, yang sifatnya hilang timbul dan dipicu oleh hal-hal yang seharusnya tidak menyebabkan nyeri,” jelas Tyo.
“Kalau sudah minum obat nyeri dan tidak mengalami perubahan, maka arahnya cenderung ke TN,” tambah dokter yang mendalami tentang TN di Jepang itu.
Jika sudah ada indikasi TN, dokter biasanya merekomendasikan tes pencitraan atau laboratorium, seperti pemindaian CAT atau MRI resolusi tinggi dari saraf trigeminal dan area sekitarnya. Tes ini dapat membantu menentukan penyebab nyeri TN.
Teknik MRI lanjutan tertentu juga membantu dokter melihat di mana pembuluh darah menekan cabang saraf trigeminal.
“Kita perlu mengetahui penyebabnya karena berhubungan dengan alternatif pengobatan yang akan dilakukan,” tandas Tyo.
Obat yang digunakan bukan penghilang nyeri biasa melainkan golongan antikejang, di antaranya Carbamazepine dan Gabapentin. Sebagian besar pasien memulai dengan dosis rendah, lalu secara bertahap meningkatkan dosis di bawah pengawasan klinis sampai mereka mencapai pereda nyeri terbaik dengan efek samping paling minimal.
“Kita coba dengan satu dosis, evaluasi ketat efek obat tersebut. Kalau tidak ada perubahan bermakna atau reda tapi tidak optimal, bisa menaikkan dosis atau menambah obat dari golongan lain,” terang Tyo.
Tes darah rutin mungkin diperlukan untuk beberapa obat untuk memeriksa jumlah sel darah putih, trombosit, kadar natrium, dan fungsi hati pasien.
“Sembari menjalani pengobatan, bisa dilakuan MRI. Lalu dievaluasi lagi, kalau masih belum optimal harus naik ke jenjang berikutnya,” papar dia.
Operasi atau pembedahan dekompresi mikrovaskular atau MVD dianggap sebagai pengobatan paling tahan lama untuk TN yang disebabkan oleh kompresi pembuluh darah, dan itu membantu sekitar 80% orang dengan diagnosis ini.
Metode ini sangat cocok untuk orang dengan kesehatan yang baik yang dapat mentolerir pembedahan dan anestesi umum, dan yang gaya hidupnya bisa mengakomodasi masa pemulihan selama 4-6 minggu.
Sering Dikira Sakit Gigi
Gejala pada TN bisa serupa dengan yang disebabkan oleh masalah gigi. Sering kali orang dengan TN yang tidak terdiagnosis mencoba melakukan beberapa prosedur gigi untuk mengendalikan rasa sakit.Hal ini dialami oleh Rianty dan Edi. Rianty bercerita, sebelum didiagnosis TN pada 1997, dirinya mengalami sakit gigi.
“Saya cabut gigi tahun 1994. Kata dokter ada akar gigi yang ketinggalan, harus dioperasi, saya diperlihatkan dan percaya. Tahun 1996 kok sakit lagi dan lebih dahsyat,” tuturnya.

Dokter Mustaqim Prasetya dan sang pasien, Rianty. Foto/SINDOnews/Inda Susanti
Rianty curiga dirinya terkena malpraktik dan sempat ingin mengajukan tuntutan. Selama setahun dia mengunjungi banyak klinik dan puluhan rumah sakit di Jakarta untuk mencari kebenaran. Hingga akhirnya dokter menyimpulkan biang keladi nyerinya bukan dari gigi melainkan saraf trigeminal.
“Kata dokter, kalau orang giginya sakit itu diketok-ketok bakal terasa ngilu, tapi saya nggak. Jadi, ini masalahnya bukan pada gigi dan mau keliling ke dokter gigi mana pun nggak akan sembuh,” bebernya.
“Ibu itu kena saraf, trigeminal neuralgia. Minum aja obat saraf,” tambah Rianty, menirukan perkataan dokter yang menanganinya.
Edi juga sangat awam, bahkan tak pernah mendengar istilah trigeminal neuralgia. Pria 71 tahun itu mengira rasa sakit di bagian rahang yang muncul pada akhir tahun lalu akibat kondisi giginya yang rusak dan menyisakan akar gigi.
Dia pun mendatangi dokter gigi dan pada pertemuan kedua dilakukan pencabutan gigi. Namun, hal itu tak menyelesaikan masalah.
“Rasa sakit masih sering datang dan saya hanya minum obat pereda nyeri. Sampai akhirnya saya dirujuk ke dokter saraf,” bebernya.
Diagnosis Trigeminal Neuralgia
Diagnosis Trigeminal Neuralgia melibatkan pemeriksaan fisik dan riwayat medis terperinci untuk menyingkirkan penyebab nyeri wajah lainnya.Biasanya dokter saraf akan bertanya tentang frekuensi dan intensitas rasa sakit, hal-hal yang kerap memicu rasa sakit, dan yang membuat rasa sakit jadi membaik atau memburuk.
Lantaran tidak ada tes tunggal untuk TN, mengetahui sifat nyeri adalah kunci dari diagnosis dan dokter yang menangani juga harus paham betul.
“Gejala TN sangat khas. Diagnosisnya pertama kali secara klinis, berdasar keluhan yang dirasakan pasien. Nyeri pada satu sisi wajah, bisa di satu atau lebih cabang persyarafan trigeminal, yang sifatnya hilang timbul dan dipicu oleh hal-hal yang seharusnya tidak menyebabkan nyeri,” jelas Tyo.
“Kalau sudah minum obat nyeri dan tidak mengalami perubahan, maka arahnya cenderung ke TN,” tambah dokter yang mendalami tentang TN di Jepang itu.
Jika sudah ada indikasi TN, dokter biasanya merekomendasikan tes pencitraan atau laboratorium, seperti pemindaian CAT atau MRI resolusi tinggi dari saraf trigeminal dan area sekitarnya. Tes ini dapat membantu menentukan penyebab nyeri TN.
Teknik MRI lanjutan tertentu juga membantu dokter melihat di mana pembuluh darah menekan cabang saraf trigeminal.
“Kita perlu mengetahui penyebabnya karena berhubungan dengan alternatif pengobatan yang akan dilakukan,” tandas Tyo.
Penanganan TN, Minum Obat hingga Operasi
Pengobatan trigeminal neuralgia bisa dilakukan secara berjenjang. Dokter biasanya dapat menangani TN secara efektif dengan obat-obatan, suntikan, hingga operasi atau pembedahan.Obat yang digunakan bukan penghilang nyeri biasa melainkan golongan antikejang, di antaranya Carbamazepine dan Gabapentin. Sebagian besar pasien memulai dengan dosis rendah, lalu secara bertahap meningkatkan dosis di bawah pengawasan klinis sampai mereka mencapai pereda nyeri terbaik dengan efek samping paling minimal.
“Kita coba dengan satu dosis, evaluasi ketat efek obat tersebut. Kalau tidak ada perubahan bermakna atau reda tapi tidak optimal, bisa menaikkan dosis atau menambah obat dari golongan lain,” terang Tyo.
Tes darah rutin mungkin diperlukan untuk beberapa obat untuk memeriksa jumlah sel darah putih, trombosit, kadar natrium, dan fungsi hati pasien.
“Sembari menjalani pengobatan, bisa dilakuan MRI. Lalu dievaluasi lagi, kalau masih belum optimal harus naik ke jenjang berikutnya,” papar dia.
Operasi atau pembedahan dekompresi mikrovaskular atau MVD dianggap sebagai pengobatan paling tahan lama untuk TN yang disebabkan oleh kompresi pembuluh darah, dan itu membantu sekitar 80% orang dengan diagnosis ini.
Metode ini sangat cocok untuk orang dengan kesehatan yang baik yang dapat mentolerir pembedahan dan anestesi umum, dan yang gaya hidupnya bisa mengakomodasi masa pemulihan selama 4-6 minggu.
Lihat Juga :