CERMIN: Barbie, Proust, Patriarki, dan Eksistensialisme
Jum'at, 28 Juli 2023 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Hingga di sebuah hari yang biasa, Barbie bertemu dengan situasi yang tak biasa. Ia memikirkan kematian. Sebuah boneka dengan standar kesempurnaannya memikirkan kematian? Well, hanya Greta yang bisa melakukannya dan isu soal kematian, juga tentu saja eksistensialisme, mulai berkelindan dengan menarik ke dalam cerita.
![CERMIN: Barbie, Proust, Patriarki, dan Eksistensialisme]()
Foto: Warner Bros
Barbie tahu bahwa apa yang ia rasakan kemungkinan besar dirasakan oleh si pemiliknya. Ia tahu soal cerita ini dari apa yang pernah menimpa Barbie Aneh. Barbie tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Ia harus melakukan perjalanan dari Dunia Barbie ke Dunia Nyata.
Seperti kata Proust, perjalanan dari suatu penemuan bukan dengan mencari pemandangan baru, tetapi dengan memiliki ‘mata baru, Barbie pun melihat apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata.
Berbeda dengan Barbie, Ken yang biasanya jadi pelengkap justru menemukan kenyataan bahwa perjalanannya kali ini membawanya untuk memahami soal patriarki. Greta menggunakan perspektifnya sebagai perempuan untuk berbicara soal male gaze ini dengan sangat pedas, bahkan mungkin bisa membuat sebagian pria terbatuk-batuk ketika mencoba menelannya.
Kritikus Christian Toto bahkan menganggap Barbiesebagai “Atwo hour wake-a-thon brimming with feminist lectures and nuclear-level weapon rage against men”.
Barbie dan Ken mengalami pengalaman yang berbeda di dunia nyata dan membuat Dunia Barbie berantakan ketika mereka kembali. Untungnya memang ada Gloria, satu-satunya pekerja perempuan di Mattel, perusahaan yang memproduksi boneka Barbie.
Dalam pidatonya yang panjang dan sekaligus menggugah, Gloria menyentil kita, utamanya pria seperti saya, yang selalu melihat perempuan dalam berbagai standar yang kerap kali mengungkung mereka.
![CERMIN: Barbie, Proust, Patriarki, dan Eksistensialisme]()
Foto: Warner Bros

Foto: Warner Bros
Barbie tahu bahwa apa yang ia rasakan kemungkinan besar dirasakan oleh si pemiliknya. Ia tahu soal cerita ini dari apa yang pernah menimpa Barbie Aneh. Barbie tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Ia harus melakukan perjalanan dari Dunia Barbie ke Dunia Nyata.
Seperti kata Proust, perjalanan dari suatu penemuan bukan dengan mencari pemandangan baru, tetapi dengan memiliki ‘mata baru, Barbie pun melihat apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata.
Berbeda dengan Barbie, Ken yang biasanya jadi pelengkap justru menemukan kenyataan bahwa perjalanannya kali ini membawanya untuk memahami soal patriarki. Greta menggunakan perspektifnya sebagai perempuan untuk berbicara soal male gaze ini dengan sangat pedas, bahkan mungkin bisa membuat sebagian pria terbatuk-batuk ketika mencoba menelannya.
Kritikus Christian Toto bahkan menganggap Barbiesebagai “Atwo hour wake-a-thon brimming with feminist lectures and nuclear-level weapon rage against men”.
Barbie dan Ken mengalami pengalaman yang berbeda di dunia nyata dan membuat Dunia Barbie berantakan ketika mereka kembali. Untungnya memang ada Gloria, satu-satunya pekerja perempuan di Mattel, perusahaan yang memproduksi boneka Barbie.
Dalam pidatonya yang panjang dan sekaligus menggugah, Gloria menyentil kita, utamanya pria seperti saya, yang selalu melihat perempuan dalam berbagai standar yang kerap kali mengungkung mereka.

Foto: Warner Bros
Lihat Juga :