alexametrics

3 Tren Wisata yang Muncul Pascapandemi

loading...
3 Tren Wisata yang Muncul Pascapandemi
Gunung Bromo di Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia. Foto/SINDOmedia/Dyah Ayu Pamela
A+ A-
Pandemi COVID-19 mendorong sejumlah negara di dunia melakukan pembatasan wilayah dan larangan perjalanan untuk meredam penyebaran virus corona, yang berdampak pada dunia pariwisata. Lalu, akan seperti apakah tren pariwisata ke depan?

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat pandemi COVID-19 lantaran negara-negara di seluruh dunia memberlakukan pembatasan perjalanan. Dalam perkembangannya, sejumlah negara telah melewati krisis terburuk atau mengalami penurunan kasus, sehingga muncul pertimbangan dan kecenderungan untuk membuka kembali sejumlah destinasi pariwisata.

Namun, wisatawan diprediksi masih akan berhati-hati terkait tren pariwisata, melakukan perjalanan, atau destinasi yang ingin mereka kunjungi. Muncul pula pola perilaku baru di masyarakat yang lebih memerhatikan kesehatan dan keselamatan. (Baca Juga: Buka Kembali, The Nusa Dua Tawarkan Promo dan Beragam Fasilitas)

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah berupaya menyiapkan protokol kesehatan dan verifikasi implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Clean, Health, and Safety (CHS). Skema tatanan kenormalan baru ini dianggap sangat penting dalam mendorong sektor pariwisata di masa depan.



Protokol CHS dibuat untuk meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan wisatawan terhadap industri pariwisata dan destinasi di Indonesia usai COVID-19. Harapannya, destinasi akan siap menerima kembali kunjungan para wisatawan yang dimulai dari wisatawan domestik.

Batam Tourism Polytechnic (BTP), salah satu politeknik swasta terbaik di bidang pariwisata yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau, memberikan tiga tren pariwisata usai pandemi. Berikut ulasannya.



1. Prosedur Perjalanan yang Lebih Ketat
Protokol kesehatan pada berbagai moda transportasi diperkirakan akan terus berlanjut untuk menjaga kenyamanan para wisatawan. Salah satu contoh yang paling mudah diamati adalah prosedur bepergian dengan pesawat. Di Indonesia sendiri, sektor penerbangan kini mewajibkan para penumpang untuk menyertakan surat keterangan bebas COVID-19.

Meskipun dimunculkan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), peraturan ini mungkin akan menjadi salah satu persyaratan wajib di masa depan. Melihat pentingnya dokumen kesehatan penumpang, bandara dituntut untuk turut mengembangkan pelayanannya dengan menyediakan pemeriksaan dan tes kesehatan secara langsung, khususnya pada bandara dengan destinasi wisata yang populer. Prosedur ini bisa diterapkan pada moda transportasi apapun baik bus, kereta, pesawat, maupun kapal laut.

2. Perlengkapan Kebersihan Menjadi Vital
Perilaku hidup bersih kini menjadi kebiasaan baru yang akan dipraktikkan dalam berwisata. Dengan demikian, perlengkapan kebersihan seperti sabun cuci tangan, hand sanitizer, tisu, dan masker akan menjadi barang yang wajib dibawa oleh para wisatawan.

Dalam merespon kebutuhan tersebut, destinasi wisata ataupun area publik harus peduli serta selalu menerapkan prosedur kebersihan dan physical distancing. Prosedur yang ketat dan berkesinambungan ini harus menjadi prioritas seluruh industri pariwisata. Pasalnya, aspek kebersihan akan menjadi salah satu pertimbangan esensial saat pengunjung memilih tempat wisata, seperti restoran dan hotel.

Oleh karena itu, industri bisnis harus memerhatikan dan mengampanyekan standar kebersihan yang diterapkan sehingga dapat meningkatkan kredibilitas bisnis di mata wisatawan. (Baca Juga: Kemenparekraf Gelar Acara Indonesian Sellers Meeting untuk Pasar Australia)

3. Pariwisata Tanpa Sentuhan
Salah satu perubahan yang mungkin paling terlihat adalah pergeseran pola wisata menjadi touchless, mulai dari bandara hingga check-in di hotel. Pasalnya, meskipun destinasi dan tempat publik mempunyai protokol kebersihan yang ketat, masih ada risiko infeksi yang tinggi. Mulai dari pemeriksaan dokumen perjalanan (paspor dan boarding pass), sentuhan selama check-in, keamanan, dan lain-lain.

Karena itu, pemanfaatan teknologi di masa depan akan menjadi norma baru di mana wisatawan tidak perlu menyentuh area publik, sehingga mengurangi kemungkinan transmisi virus. Teknologi ini bisa berupa touchless document scanning, voice command, atau sensor pendeteksi gerak.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali telah menerapkan sistem teknologi berupa penggunaan sistem Online Customer Service, boarding pass scanner, serta Digital Meeting Point (DMP) untuk mengurangi interaksi fisik antarmanusia di terminal.
(tsa)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak