Di Masa Pandemi, Layanan Kesehatan bagi Penyintas Kanker Jangan Dikesampingkan
Jum'at, 07 Agustus 2020 - 05:56 WIB
loading...
A
A
A
Survei yang dilakukan tersebut menunjukan hasil yang sangat baik terutama terkait pengetahuan responden tentang Covid-19 dan upaya pencegahan yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi risiko penularan. Tingkat kecemasan di kalangan responden ternyata masih terbilang rendah.
"Tercatat sebanyak 73% dari seluruh responden yang mendapat informasi cukup terkait pencegahan Covid-19, seperti selalu memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan menjaga imunitas tubuh. Selain itu, 60,1% responden mengakui tingkat kecemasan mereka akibat Covid-19 cukup rendah," kata dr. Elisna.
(Baca juga: Studi: Anak-anak Bisa Menyebarkan Virus Corona )
"Tiga hal yang sering memicu kecemasan penyintas kanker selama pandemi adalah memburuknya kondisi pasien akibat Covid-19, ditunjukkan di angka 38,8%, selanjutnya 29,2% responden cemas terhadap terganggunya proses terapi dan 22,5%-nya akan gangguan akses ke pusat layanan kesehatan," tambahnya.
Penyintas kanker paru Megawati Tanto, yang juga Koordinator Kanker Paru CISC, turut bicara di #LUNGTalk. Dia mengakui beratnya tantangan yang dihadapi pasien kanker paru. Menurutnya, para pasien kanker, termasuk kanker paru, sangat bergantung pada pelayanan. Jika penindakan dan layanan kesehatan selama masa pandemi terganggu, seperti waktu tunggu yang lama ataupun ketidaktersediaan obat yang dijamin maupun yang tidak dijamin BPJS akan berdampak buruk pada riwayat kesehatan pasien ke depannya.
"Tercatat sebanyak 73% dari seluruh responden yang mendapat informasi cukup terkait pencegahan Covid-19, seperti selalu memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan menjaga imunitas tubuh. Selain itu, 60,1% responden mengakui tingkat kecemasan mereka akibat Covid-19 cukup rendah," kata dr. Elisna.
(Baca juga: Studi: Anak-anak Bisa Menyebarkan Virus Corona )
"Tiga hal yang sering memicu kecemasan penyintas kanker selama pandemi adalah memburuknya kondisi pasien akibat Covid-19, ditunjukkan di angka 38,8%, selanjutnya 29,2% responden cemas terhadap terganggunya proses terapi dan 22,5%-nya akan gangguan akses ke pusat layanan kesehatan," tambahnya.
Penyintas kanker paru Megawati Tanto, yang juga Koordinator Kanker Paru CISC, turut bicara di #LUNGTalk. Dia mengakui beratnya tantangan yang dihadapi pasien kanker paru. Menurutnya, para pasien kanker, termasuk kanker paru, sangat bergantung pada pelayanan. Jika penindakan dan layanan kesehatan selama masa pandemi terganggu, seperti waktu tunggu yang lama ataupun ketidaktersediaan obat yang dijamin maupun yang tidak dijamin BPJS akan berdampak buruk pada riwayat kesehatan pasien ke depannya.
Lihat Juga :