Konflik Israel dan Palestina Buat Anak-anak di Gaza Alami PTSD hingga Butuh Bantuan Psikolog
Selasa, 21 November 2023 - 22:50 WIB
loading...
A
A
A
Dari orang-orang yang berada di rumah pamannya malam itu, hanya ibunya, tiga saudara laki-lakinya, dan dua sepupunya yang selamat dari pengeboman tersebut. Ketiga pamannya serta keluarga telah terbunuh. Ayah Hamsa dan saudara-saudaranya yang lain masih berada di Kota Gaza.
Keadaan tersebut tentu menyisakan trauma untuknya. Segala ketakutannya itu dia curahkan kala hadir mengikuti acara dukungan mental yang dibuat oleh Abushawish. Hamsa menyampaikan, dirinya sangat takut terhadap perang dan ingin konflik ini berakhir. Kini, dirinya masih terus dihantui rasa tidak aman.
Baca Juga: Dampak Perang Israel-Palestina pada Anak-Anak, Alami Trauma Jangka Panjang
Di samping itu, ada juga Anas al-Mansi yang berusia 12 tahun yang mengaku awalnya tidak tertarik dengan kegiatan anak-anak itu. Dirinya mengungkapkan tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun setelah kehilangan ayah dan bibinya secara tragis akibat serangan udara di rumah mereka di Deir el-Balah seminggu lalu.
Namun, lambatlaun dirinya berhasil terbujuk untuk bergabung dengan kegiatan yang diadakan Abushawish. Dirinya bercerita segala masalah yang traumatik yang dilalui.
Dia menggambarkan suatu malam ketika mereka tertidur lelap dan tiba-tiba sebuah ledakan besar menghancurkan kedamaian. Anas tidak dapat mengingat detail spesifikasinya, kecuali kata-kata terakhir ayahnya, yang memerintahkan mereka untuk mengucapkan “Syahadatain” (pernyataan iman).
“Suara ayah saya perlahan menghilang dan saya mendapati diri saya terkubur di bawah puing-puing dan debu. Saya telepon ayah saya, tapi dia tidak menjawab. Saya tahu dia mungkin dibunuh," ungkap Anas.
Keadaan tersebut tentu menyisakan trauma untuknya. Segala ketakutannya itu dia curahkan kala hadir mengikuti acara dukungan mental yang dibuat oleh Abushawish. Hamsa menyampaikan, dirinya sangat takut terhadap perang dan ingin konflik ini berakhir. Kini, dirinya masih terus dihantui rasa tidak aman.
Baca Juga: Dampak Perang Israel-Palestina pada Anak-Anak, Alami Trauma Jangka Panjang
Di samping itu, ada juga Anas al-Mansi yang berusia 12 tahun yang mengaku awalnya tidak tertarik dengan kegiatan anak-anak itu. Dirinya mengungkapkan tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun setelah kehilangan ayah dan bibinya secara tragis akibat serangan udara di rumah mereka di Deir el-Balah seminggu lalu.
Namun, lambatlaun dirinya berhasil terbujuk untuk bergabung dengan kegiatan yang diadakan Abushawish. Dirinya bercerita segala masalah yang traumatik yang dilalui.
Dia menggambarkan suatu malam ketika mereka tertidur lelap dan tiba-tiba sebuah ledakan besar menghancurkan kedamaian. Anas tidak dapat mengingat detail spesifikasinya, kecuali kata-kata terakhir ayahnya, yang memerintahkan mereka untuk mengucapkan “Syahadatain” (pernyataan iman).
“Suara ayah saya perlahan menghilang dan saya mendapati diri saya terkubur di bawah puing-puing dan debu. Saya telepon ayah saya, tapi dia tidak menjawab. Saya tahu dia mungkin dibunuh," ungkap Anas.
Lihat Juga :