Di Rumah Saja, Anak Harus Tetap Aktif

loading...
Di Rumah Saja, Anak Harus Tetap Aktif
Foto/dok
A+ A-
JAKARTA - Wabah virus corona membuat anak-anak menjadi kurang kesempatan untuk bermain dan belajar secara bebas, kurang dapat bersosialisasi bersama teman-teman, dan belum lagi banyaknya beban aktivitas sekolah dari rumah secara online.

Anak-anak pun mau tak dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan pandemi. Orang tua pun dituntut menyesuaikan diri untuk menjalankan berbagai peran sekaligus yaitu menjadi orangtua, guru, juga sekaligus teman bermain anak.

Menyikapi hal ini, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A, Dokter Spesialis Anak RSUI mengatakan, meski anak di rumah saja namun mereka harus tetap aktif. Hal ini untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan mereka agar tetap optimal. (Baca: Asam Folat vs Folat, Apa Bedanya?)

“Sedentary lifestyle harus dihindari, harus istirahat cukup dan walaupun di rumah aja, penggunaan gadget harus bijak walaupun sekolah pun juga menggunakan gadget. Orang tua harus mempunyai dalih dan strategi untuk mengatur screen time anak,” ujar dokter yang akrab disapa dr. Ninis ini. dalam seminar awam bulanan yang dilaksanakan secara virtual bertajuk Bicara Sehat Ke-21: Menjaga Anak Tetap Ceria di era Adaptasi Kebiasaan Baru yang digelar RSUI.



Screen time untuk anak 0-1 tahun adalah zero atau nol. Tidak boleh ada screen time untuk anak 0-1 tahun. Sedangkan untuk anak di atas usia 1-2 tahun, orang dewasa harus selalu mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan gawainya. Beberapa tanda-tanda anak yang adiksi gawai perlu diwaspadai, seperti anak sulit konsentrasi, mudah tantrum, dan sejenisnya.

Dr. Ninis juga menyampaikan bahwa untuk mencapai kualitas kehidupan yang baik dan aktif, anak diharuskan melakukan aktivitas fisik selama waktu tertentu yang berbeda untuk setiap umurnya. Dalam sehari, minimal selama 30 menit aktifitas fisik dianjurkan untuk 0-1 tahun, 180 menit anak umur 1-2 tahun dan umur 3-4 tahun. Tentunya, intensitas beratnya aktivitas untuk anak usia 1-2 tahun dan 3-4 tahun berbeda. (Baca juga: Anies Baswedan Bikin Keok Kang Emil, Ganjar dan Khofifah)

Dikatakan Ns. Mila Sri Wardani, Sarjana Keperawatan, masa usia dini disebut juga masa keemasan atau golden years yang menyebabkan si kecil mulai peka menerima berbagai macam rangsangan. Orang tua harus sering merangsang anak-anak ini selama usia emasnya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.



“Masa peka setiap anak berbeda, jadi jangan pernah membandingkan satu anak dan anak lainnya, bahkan anak kembar pun berbeda” ujar Ns. Mila. Pergerakan anak mencakup motorik kasar dan motorik halus tetap harus terpenuhi selama masa pandemi ini.

Motorik kasar dan motorik halus harus seimbang dan hal tersebut merupakan kewajiban orang tua untuk menciptakan permainan yang menyenangkan dan mempertimbangkan pergerakan motoriknya. Tentu saja, protokol kesehatan selama masa pandemi ini harus diperhatikan selama bermain bersama anak. (Lihat videonya: Gunung Sinabung Erupsi, Empat Kecamatan Tertutup Abu Vulkanik)

“Walaupun anak masih kecil, orang tua tidak boleh meng-underestimated anak kita. Mereka memang masih kecil, tapi mereka dapat mengerti maksud orang tua jika disampaikan dengan bahasa anak-anak.” Sambung Ns. Mila.

Anak-anak yang di masa Pandemi, banyak kehilangan waktu bermain di luar rumah, perlu dibantu untuk bermain di dalam rumah. Orang dewasa perlu meningkatkan kreativitasnya sehingga walaupun anak terpaksa bermain dalam rumah, tidak mengalami kebosanan. (Sri Noviarni)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top