CERMIN: setelah 6 Tahun, Apa Lagi yang Ingin Dibicarakan Dilan?
Sabtu, 13 Januari 2024 - 10:16 WIB
loading...
Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 melanjutkan kisah Dilan dengan gadis baru yang ditaksirnya. Foto/MD Pictures
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2018. Bioskop seluruh Indonesia tiba-tiba tergila-gila dengan Dilan. Pada hari pertama rilisnya, film Dilan 1990 langsung sukses meraup 225 ribu penonton.
Saya tahu sejak awal bahwa saya bukan target market Dilan 1990. Jadi saya menetapkan ekspektasi serendah-rendahnya ketika melakukan ibadah #KamisKeBioskop dan memilih aktivitas unik: memperhatikan penonton film tersebut.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri betapa remaja putri dan ibu-ibu begitu mudahnya tersipu-sipu oleh ujaran, dialog gemas, hingga tingkah laku Dilan yang dibawakan dengan santai oleh Iqbaal Ramadhan. Sebagai non-target market, tentu saja saya tidak tersipu-sipu dan gemas dengan Iqbal, tapi saya tetap bisa melihat betapa menariknya karakter yang diciptakan oleh Pidi Baiq ini.
Baca Juga: CERMIN: Acha Septriasa dalam Penampilan Terbaiknya
Tapi buat saya yang non target market ini, tak ada hal baru yang ditawarkan Dilan. Selama 100 menit durasinya sesekali saya ikut tertawa kecil tapi tak tersipu-sipu, sering kali saya terpesona dengan sosok Milea dan sesekali pula saya menguap lantaran merasa bosan dan akhirnya jatuh tertidur.
Karena itulahketika mendengar rencana produksi Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, pertanyaan pertama yang hinggap di kepala saya adalah, apa yang akan ditawarkan Dilan selain gombalan-gombalan yang mungkin mulai terdengar usang dan garing setelah selang waktu enam tahun?
![CERMIN: setelah 6 Tahun, Apa Lagi yang Ingin Dibicarakan Dilan?]()
Foto: MD Pictures
Betul dugaan saya. Gombalan-gombalan itu terasa usang dan garing terutama bagi generasi Z. Pengalaman menonton Dilan 1990 dan Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 terasa cukup berbeda. Ketika menyaksikan Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, penonton tak sebanyak dan seantusias Dilan 1990 dan terutama tak setersipu-sipu penonton Dilan 1990.
Saya tahu sejak awal bahwa saya bukan target market Dilan 1990. Jadi saya menetapkan ekspektasi serendah-rendahnya ketika melakukan ibadah #KamisKeBioskop dan memilih aktivitas unik: memperhatikan penonton film tersebut.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri betapa remaja putri dan ibu-ibu begitu mudahnya tersipu-sipu oleh ujaran, dialog gemas, hingga tingkah laku Dilan yang dibawakan dengan santai oleh Iqbaal Ramadhan. Sebagai non-target market, tentu saja saya tidak tersipu-sipu dan gemas dengan Iqbal, tapi saya tetap bisa melihat betapa menariknya karakter yang diciptakan oleh Pidi Baiq ini.
Baca Juga: CERMIN: Acha Septriasa dalam Penampilan Terbaiknya
Tapi buat saya yang non target market ini, tak ada hal baru yang ditawarkan Dilan. Selama 100 menit durasinya sesekali saya ikut tertawa kecil tapi tak tersipu-sipu, sering kali saya terpesona dengan sosok Milea dan sesekali pula saya menguap lantaran merasa bosan dan akhirnya jatuh tertidur.
Karena itulahketika mendengar rencana produksi Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, pertanyaan pertama yang hinggap di kepala saya adalah, apa yang akan ditawarkan Dilan selain gombalan-gombalan yang mungkin mulai terdengar usang dan garing setelah selang waktu enam tahun?

Foto: MD Pictures
Betul dugaan saya. Gombalan-gombalan itu terasa usang dan garing terutama bagi generasi Z. Pengalaman menonton Dilan 1990 dan Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 terasa cukup berbeda. Ketika menyaksikan Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, penonton tak sebanyak dan seantusias Dilan 1990 dan terutama tak setersipu-sipu penonton Dilan 1990.
Lihat Juga :