CERMIN: setelah 6 Tahun, Apa Lagi yang Ingin Dibicarakan Dilan?
Sabtu, 13 Januari 2024 - 10:16 WIB
loading...
A
A
A
Apa yang terjadi? Dugaan saya memang karena keinginan untuk setia mati-matian kepada materi aslinya dan tak berusaha untuk menyegarkan sosok Dilan maupun pengalaman yang dirasakannya pada 1995 pada masa sekarang atau tahun 2024. Tapi saya mengapresiasi sosok Dilan yang kini jauh lebih dewasa, terasa lebih cool dan tak klemer-klemer lagi.
Sesuai judulnya, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, fokus cerita tentu saja pada sosok Ancika, gadis cantik dengan sikap yang dingin. Tak ada penjelasan apa pun kenapa dia harus terus konsisten bersikap seperti itu (dan membuat kita capek melihatnya), latar belakang keluarga Ancika yang tak dalam digali juga sama sekali tak membantu kita memahami Ancika.
Tapi tiba-tiba saja gadis sedingin es seperti Ancika lumer begitu saja oleh Dilan. Saya yang laki-laki tulen masih tak mengerti sampai hari ini kenapa sosok Dilan bisa dibikin begitu mudah dijatuhi cinta oleh perempuan yang ditaksirnya. Padahal banyak yang mau dengan Ancika karena memang sosoknya bikin gemas (bayangkan Ancika di tangan Zee JKT48 seperti apa).
![CERMIN: setelah 6 Tahun, Apa Lagi yang Ingin Dibicarakan Dilan?]()
Foto: MD Pictures
Namun di luar karakterisasi yang terasa satu dimensi, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 terasa jauh lebih baik dari Dilan 1990. Di tangan Benni Setiawan sebagai sutradara membuat ritme cerita lebih mudah diikuti.
Bagian-bagian yang membuat ngantuk mulai berkurang banyak, dan terutama kita melihat skenario memberi ruang bagi kita melihat Dilan dalam sosok berbeda: seseorang yang belajar dari kegagalan cintanya pada masa lalu, dan menjadi lebih dewasa karenanya. Di luar dugaan, Arbani Yasiz bahkan terasa lebih rileks dan seperti tanpa beban memainkan peran ikonis ini.
Namunmemang tak bisa berharap banyak akan ada hal-hal inventif yang tiba-tiba muncul dalam Ancika: Dia yang Bersamaku 1995. Kita cuma melihat dalam beberapa adegan bagaimana Dilan berada di tengah gemuruh demonstrasi yang memang meruyak di sekitar tahun-tahun sebelum kejatuhan Soeharto. Tapi ya sebatas itu, tak lebih.
Setelah Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, mungkin Pidi Baiq perlu mulai memikirkan untuk meremajakan sosok Dilan. Bukan dengan membuat usianya jadi lebih muda tapi lebih menggali sisi-sisi pribadi yang belum banyak dieksplorasi. Sehingga kita bisa melihat Dilan menjadi sosok yang lebih mudah diterima generasi Z yang mungkin sudah tak mudah terbuai lagi oleh gombalan-gombalan usang dan garing itu.
Sesuai judulnya, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, fokus cerita tentu saja pada sosok Ancika, gadis cantik dengan sikap yang dingin. Tak ada penjelasan apa pun kenapa dia harus terus konsisten bersikap seperti itu (dan membuat kita capek melihatnya), latar belakang keluarga Ancika yang tak dalam digali juga sama sekali tak membantu kita memahami Ancika.
Tapi tiba-tiba saja gadis sedingin es seperti Ancika lumer begitu saja oleh Dilan. Saya yang laki-laki tulen masih tak mengerti sampai hari ini kenapa sosok Dilan bisa dibikin begitu mudah dijatuhi cinta oleh perempuan yang ditaksirnya. Padahal banyak yang mau dengan Ancika karena memang sosoknya bikin gemas (bayangkan Ancika di tangan Zee JKT48 seperti apa).

Foto: MD Pictures
Namun di luar karakterisasi yang terasa satu dimensi, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 terasa jauh lebih baik dari Dilan 1990. Di tangan Benni Setiawan sebagai sutradara membuat ritme cerita lebih mudah diikuti.
Bagian-bagian yang membuat ngantuk mulai berkurang banyak, dan terutama kita melihat skenario memberi ruang bagi kita melihat Dilan dalam sosok berbeda: seseorang yang belajar dari kegagalan cintanya pada masa lalu, dan menjadi lebih dewasa karenanya. Di luar dugaan, Arbani Yasiz bahkan terasa lebih rileks dan seperti tanpa beban memainkan peran ikonis ini.
Namunmemang tak bisa berharap banyak akan ada hal-hal inventif yang tiba-tiba muncul dalam Ancika: Dia yang Bersamaku 1995. Kita cuma melihat dalam beberapa adegan bagaimana Dilan berada di tengah gemuruh demonstrasi yang memang meruyak di sekitar tahun-tahun sebelum kejatuhan Soeharto. Tapi ya sebatas itu, tak lebih.
Setelah Ancika: Dia yang Bersamaku 1995, mungkin Pidi Baiq perlu mulai memikirkan untuk meremajakan sosok Dilan. Bukan dengan membuat usianya jadi lebih muda tapi lebih menggali sisi-sisi pribadi yang belum banyak dieksplorasi. Sehingga kita bisa melihat Dilan menjadi sosok yang lebih mudah diterima generasi Z yang mungkin sudah tak mudah terbuai lagi oleh gombalan-gombalan usang dan garing itu.
Lihat Juga :