CERMIN: Pain is Temporary, Film is Forever
Sabtu, 27 Januari 2024 - 12:26 WIB
loading...
A
A
A
Sebelumnya Pae melakukan kesalahan besar dengan menyakiti mantan kekasihnya yang membuatnya harus dikeluarkan dari sekolah. Tekanan dari ayahnya membuat Pae menjadi siswa yang murung.
Hingga ia harus pindah sekolah, ditempatkan di sebuah kelas dan duduk berdampingan dengan Joe. Dan dari sini lah semua berawal.
![CERMIN: Pain is Temporary, Film is Forever]()
Foto: GDH 559
Not Friends menggunakan film sebagai medium bagi karakter utamanya untuk mendapatkan sesuatu. Pae yang merasa tak pintar-pintar amat dalam bidang akademik merasa mendapat kesempatan kedua ketika sebuah perguruan tinggi menawarkan siswa-siswi di sekolahnya membuat film sebagai syarat masuk untuk lolos tanpa tes. Tentu saja hanya siswa dengan film terbaik yang akan beroleh privilege itu.
Dalam dorongan dan ambisi itu, Pae ingat bahwa ia memegang hard disk dari Joe. Setelah mengintipnya ia menemukan sebuah cerpen yang dirasanya amat memadai untuk dijadikan film pendek demi mengenang Joe.
Tapi berbeda dengan Agni dalam Catatan Akhir Sekolah yang sudah punya dua sahabat, Alde dan Arian, untuk diajaknya membuat film, Pae nyaris tak punya teman. Hingga kelak ia bertemu dengan siswi bernama lucu, Bokeh. Sebuah tim kecil produksi film pun terbentuk.
Tapi mereka yang sudah tercebur dalam industri film seperti saya pun tahu bahwa membuat film tak semudah yang dibayangkan. Ada begitu banyak orang yang terlibat, begitu banyak ego yang mesti diredam, dan tak cukup banyak waktu, juga uang, untuk membuat sebuah film menjadi sesempurna yang diinginkan.
Kita melihat bagaimana film menjadi sebuah medium bagi Pae menemukan teman-teman sejatinya. Sekilas membuat film memang menyengsarakan sementara waktu, tapi pengalaman membuat film akan abadi selamanya di hati kita.Pain is temporary, film is forever.
![CERMIN: Pain is Temporary, Film is Forever]()
Foto:GDH 559
Susah sekali untuk tak menyukai Not Friends sepenuh hati dengan segala pengalaman yang saya miliki. Saya melihat diri saya dalam beragam wujud dalam film ini.
Hingga ia harus pindah sekolah, ditempatkan di sebuah kelas dan duduk berdampingan dengan Joe. Dan dari sini lah semua berawal.

Foto: GDH 559
Not Friends menggunakan film sebagai medium bagi karakter utamanya untuk mendapatkan sesuatu. Pae yang merasa tak pintar-pintar amat dalam bidang akademik merasa mendapat kesempatan kedua ketika sebuah perguruan tinggi menawarkan siswa-siswi di sekolahnya membuat film sebagai syarat masuk untuk lolos tanpa tes. Tentu saja hanya siswa dengan film terbaik yang akan beroleh privilege itu.
Dalam dorongan dan ambisi itu, Pae ingat bahwa ia memegang hard disk dari Joe. Setelah mengintipnya ia menemukan sebuah cerpen yang dirasanya amat memadai untuk dijadikan film pendek demi mengenang Joe.
Tapi berbeda dengan Agni dalam Catatan Akhir Sekolah yang sudah punya dua sahabat, Alde dan Arian, untuk diajaknya membuat film, Pae nyaris tak punya teman. Hingga kelak ia bertemu dengan siswi bernama lucu, Bokeh. Sebuah tim kecil produksi film pun terbentuk.
Tapi mereka yang sudah tercebur dalam industri film seperti saya pun tahu bahwa membuat film tak semudah yang dibayangkan. Ada begitu banyak orang yang terlibat, begitu banyak ego yang mesti diredam, dan tak cukup banyak waktu, juga uang, untuk membuat sebuah film menjadi sesempurna yang diinginkan.
Kita melihat bagaimana film menjadi sebuah medium bagi Pae menemukan teman-teman sejatinya. Sekilas membuat film memang menyengsarakan sementara waktu, tapi pengalaman membuat film akan abadi selamanya di hati kita.Pain is temporary, film is forever.

Foto:GDH 559
Susah sekali untuk tak menyukai Not Friends sepenuh hati dengan segala pengalaman yang saya miliki. Saya melihat diri saya dalam beragam wujud dalam film ini.
Lihat Juga :