CERMIN: Kisah Romeo dan Juliet Versi PKI
Jum'at, 09 Februari 2024 - 12:46 WIB
loading...
A
A
A
Dalam durasinya yang 113 menit, skenario tak pernah memperlihatkan kepada penonton mengapa hubungan mereka layak dipertahankan mati-matian. Akhirnya memang kita melihat Amanda Manopo dan Chicco Kurniawan yang meski berusaha mati-matian memainkan karakternya sepenuh hati, tetap saja kurang terasa jalinan kimiawi di antara mereka berdua yang sampai ke hati penonton.
Kedua, sangat disayangkan cerita yang meminjam latar kekacauan yang terjadi antara GP Ansor dan PKI di Banyuwangi pada 1965, tapi abai menginjeksi detail-detail menarik yang bisa membuat filmnya menjadi lebih dramatik dan terasa lebih bernyawa. Padahal ada banyak hal yang bisa digali dan menjadi informasi baru bagi penonton.
![CERMIN: Kisah Romeo dan Juliet Versi PKI]()
Foto: Maxima Pictures
Sayangnya, hingga film berakhir hal tersebut tak tersajikan. Sekali lagi kita hanya melihat kisah cinta Ning dan Ikhsan yang terasa kosong dan over-melodramatic di tengah kekacauan.
Ketiga, dan mungkin yang paling fatal, adalah keputusan untuk membuat karakter Ikhsan sebagai tokoh yang sesungguhnya sangat lemah dalam bingkai cerita. Ia hanya punya relasi sebagai adik dari Rasyid, tokoh GP Ansor dan memilih tak terlibat dalam kekacauan yang terjadi di sekelilingnya.
Dengan pilihan senekat ini, apa pun yang terjadi pada Ikhsan, bisa jadi kita tak mempedulikannya. Karena Ikhsan pun memilih tak peduli pada apa pun yang terjadi di sekitarnya, ia hanya terlihat sebagai cowok bucin yang egois.
Namunyang selalu menarik dalam sejumlah film Indonesia yang lemah dalam skenario adalah bahwa sinematografi justru terasa menonjol. Di tangan Padri Nadeak yang sudah beroleh dua nomine Piala Citra untuk film Rumah di Seribu Ombak dan Dua Garis Biru, gambar-gambar yang dirakitnya dalam Kupu-Kupu Kertas menjelma bak lukisan nan magis.
![CERMIN: Kisah Romeo dan Juliet Versi PKI]()
Foto: Maxima Pictures
Nyaris tak ada gambar yang tak diorkestrasi untuk hadir dengan komposisi yang enak dipandang. Tentu saja kerja keras dari Padri menutupi lemahnya film ini dari sisi penceritaan.
Kedua, sangat disayangkan cerita yang meminjam latar kekacauan yang terjadi antara GP Ansor dan PKI di Banyuwangi pada 1965, tapi abai menginjeksi detail-detail menarik yang bisa membuat filmnya menjadi lebih dramatik dan terasa lebih bernyawa. Padahal ada banyak hal yang bisa digali dan menjadi informasi baru bagi penonton.

Foto: Maxima Pictures
Sayangnya, hingga film berakhir hal tersebut tak tersajikan. Sekali lagi kita hanya melihat kisah cinta Ning dan Ikhsan yang terasa kosong dan over-melodramatic di tengah kekacauan.
Ketiga, dan mungkin yang paling fatal, adalah keputusan untuk membuat karakter Ikhsan sebagai tokoh yang sesungguhnya sangat lemah dalam bingkai cerita. Ia hanya punya relasi sebagai adik dari Rasyid, tokoh GP Ansor dan memilih tak terlibat dalam kekacauan yang terjadi di sekelilingnya.
Dengan pilihan senekat ini, apa pun yang terjadi pada Ikhsan, bisa jadi kita tak mempedulikannya. Karena Ikhsan pun memilih tak peduli pada apa pun yang terjadi di sekitarnya, ia hanya terlihat sebagai cowok bucin yang egois.
Namunyang selalu menarik dalam sejumlah film Indonesia yang lemah dalam skenario adalah bahwa sinematografi justru terasa menonjol. Di tangan Padri Nadeak yang sudah beroleh dua nomine Piala Citra untuk film Rumah di Seribu Ombak dan Dua Garis Biru, gambar-gambar yang dirakitnya dalam Kupu-Kupu Kertas menjelma bak lukisan nan magis.

Foto: Maxima Pictures
Nyaris tak ada gambar yang tak diorkestrasi untuk hadir dengan komposisi yang enak dipandang. Tentu saja kerja keras dari Padri menutupi lemahnya film ini dari sisi penceritaan.
Lihat Juga :