Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
Rabu, 14 Februari 2024 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
Sama halnya dengan keputusan Marus yang memilih pesantren sebagai sarana untuk menyembuhkan Halal, tapi pada akhirnya tidak sejalan dengan yang diharapkan.
The Three Blackbirds dibuka dengan kepulangan Halal setelah tiga tahun menempuh pendidikan agama di pesantren. Pemilihan tone warna hitam-putih dan pembangunan atmosfer yang sunyi seolah menggambarkan kepulangan Halal bukan merupakan sesuatu yang menggembirakan baginya.
![Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami]()
Foto: Vidsee
Esok harinya suara azan berkumandang dari mulut sang ayah, diiringi dengan suara tangisan bayi. Ini seolah mengartikan bahwa Halal, anak bungsunya telah terlahir dengan jiwa yang berbeda, kembali menjadi anak yang suci dan terlepas dari dosa-dosanya.
Berbeda dengan Halal, sang kakak, Kan'an, memiliki kepribadian yang berbanding terbalik, mungkin hingga 180 derajat. Halal cenderung terlihat seperti anak yang pendiam dan penurut, berbeda dengan Kan'an yang terlihat seperti anak nakal.
Film ini menggambarkan homoseksual sebagai sebuah dosa yang sangat berat. Namun uniknya juga memperlihatkan adanya inkonsistensi moral terhadap nilai Islam yang dipegang teguh oleh Marus.
Meski terlihat seperti orang yang taat pada ajaran Islam, tapi nyatanya sang ayah malah menutup mata terhadap dosa lain. Ia hanya berfokus pada dosa anaknya yang mempunyai ketertarikan terhadap sesama jenis.
Kalau ingin membandingkan, tentu sang kakak juga tak luput dari dosa. Namun dosa tersebut agaknya tertutup oleh karakter Kan’an yang lebih terlihat ‘lelaki’ dibanding adiknya, jadilah dosanya seolah termaafkan.
Namun substansi film rasanya bukan untuk mencari mana dosa yang lebih berat, atau mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Justru The Three Blackbirds ingin mengajak penonton untuk turut merasakan bagaimana seseorang yang dinilai memiliki penyimpangan seksual hidup di tengah lingkungan yang konservatif dan kuat dalam menganut ajaran Islam.
Baca Juga: Sambut Valentine, Ini 7 Film Romantis Asia yang ada di Netflix
Baik The Three Blackbirds maupun sejumlah film bertema sejenis yang disebutkan di awal memiliki benang merah tentang penerimaan terhadap individu queer oleh masyarakat. Masing-masing film menggambarkan bagaimana realitas kehidupan mereka sering kali dipenuhi dengan tantangan yang berat, termasuk sulitnya mendapatkan penerimaan dari berbagai lapisan masyarakat.
Meski masyarakat telah berkembang dalam berbagai aspek, stigma dan diskriminasi terhadap komunitas queer tetap menjadi kenyataan yang masih sulit dihindari.
Nurreza Alfariz Nugraha
Penulis ulasan film amatir yang juga aktif sebagai host podcast film Flickerbox
The Three Blackbirds dibuka dengan kepulangan Halal setelah tiga tahun menempuh pendidikan agama di pesantren. Pemilihan tone warna hitam-putih dan pembangunan atmosfer yang sunyi seolah menggambarkan kepulangan Halal bukan merupakan sesuatu yang menggembirakan baginya.

Foto: Vidsee
Esok harinya suara azan berkumandang dari mulut sang ayah, diiringi dengan suara tangisan bayi. Ini seolah mengartikan bahwa Halal, anak bungsunya telah terlahir dengan jiwa yang berbeda, kembali menjadi anak yang suci dan terlepas dari dosa-dosanya.
Berbeda dengan Halal, sang kakak, Kan'an, memiliki kepribadian yang berbanding terbalik, mungkin hingga 180 derajat. Halal cenderung terlihat seperti anak yang pendiam dan penurut, berbeda dengan Kan'an yang terlihat seperti anak nakal.
Film ini menggambarkan homoseksual sebagai sebuah dosa yang sangat berat. Namun uniknya juga memperlihatkan adanya inkonsistensi moral terhadap nilai Islam yang dipegang teguh oleh Marus.
Meski terlihat seperti orang yang taat pada ajaran Islam, tapi nyatanya sang ayah malah menutup mata terhadap dosa lain. Ia hanya berfokus pada dosa anaknya yang mempunyai ketertarikan terhadap sesama jenis.
Kalau ingin membandingkan, tentu sang kakak juga tak luput dari dosa. Namun dosa tersebut agaknya tertutup oleh karakter Kan’an yang lebih terlihat ‘lelaki’ dibanding adiknya, jadilah dosanya seolah termaafkan.
Namun substansi film rasanya bukan untuk mencari mana dosa yang lebih berat, atau mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Justru The Three Blackbirds ingin mengajak penonton untuk turut merasakan bagaimana seseorang yang dinilai memiliki penyimpangan seksual hidup di tengah lingkungan yang konservatif dan kuat dalam menganut ajaran Islam.
Baca Juga: Sambut Valentine, Ini 7 Film Romantis Asia yang ada di Netflix
Baik The Three Blackbirds maupun sejumlah film bertema sejenis yang disebutkan di awal memiliki benang merah tentang penerimaan terhadap individu queer oleh masyarakat. Masing-masing film menggambarkan bagaimana realitas kehidupan mereka sering kali dipenuhi dengan tantangan yang berat, termasuk sulitnya mendapatkan penerimaan dari berbagai lapisan masyarakat.
Meski masyarakat telah berkembang dalam berbagai aspek, stigma dan diskriminasi terhadap komunitas queer tetap menjadi kenyataan yang masih sulit dihindari.
Nurreza Alfariz Nugraha
Penulis ulasan film amatir yang juga aktif sebagai host podcast film Flickerbox
(ita)
Lihat Juga :