alexametrics

Latih Anak Kerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

loading...
Latih Anak Kerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
Latih Anak Kerjakan Pekerjaan Rumah Tangga. (Istimewa).
A+ A-
ACAP kali orangtua enggan meminta anak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dengan alasan masih kecil. Padahal sejak dini anak sudah bisa diberikan tugas sesuai umurnya.

“Ayo dibereskan mainannya sayang,” pinta Hilda kepada Alana putrinya yang berusia delapan tahun. Di lantai tampak berserakan mainan masak-masakan, squishy, belum lagi mainan slime yang lengket di lantai. “Malas ma, mama aja yang beresin. Alana ngantuk,” ujarnya. Hilda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mulai membenahi mainan sang putri.

Ketika ditanya kenapa ia tidak mengajari anaknya membereskan mainan sendiri, Hilda beralasan Alana masih lagi kecil. “Kalau sudah gedean juga dia bisa merapikan barang-barangnya sendiri nanti,” jawab ibu yang tinggal di wilayah Sentul itu. Padahal, ada nilai yang terselip dari kegiatan yang dianggap Hilda sepele itu. Yaitu melatih anak tanggung jawab sejak dini.



Seperti dikatakan Pakar Parenting Jim Fay, sejatinya kita perlu untuk merasa dibutuhkan dan mengetahui bahwa kita memiliki suatu kontribusi terhadap keluarga tidak terkecuali anak-anak. “Tapi mereka tidak bisa merasakan ini jika mereka tidak diberi tugas rumah tangga dan membuat kontribusi di keluarga,” jelas Fay penggagas Love and Logic website dikutip dari WebMD.com.

Dibenarkan oleh Roger W. McIntire, Profesor Psikologi dari University of Maryland yang juga penulis buku Raising Good Kids in Tough Times, menurutnya anak juga perlu diberi tanggung jawab. Meski begitu bukan berarti lantas tugas rumah tangga yang diberikan kepada anak haruslah dikerjakan dengan sempurna. Sebaliknya, biarkan anak mengerjakan sebisa mereka.

Jika menetapkan aturan hasilnya harus bersih atau rapi, Anda yang jadi repot sendiri nantinya. Atau malah Anda yang menggantikan tugas anak dan mereka tidak akan mendapat pelajaran dari situ. Tidak sedikit orangtua yang berpikir sama seperti Hilda. Merasa anak masih terlalu kecil. Padahal besar kemungkinan anak justru sudah mampu. Menurut McIntire anak-anak bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga di usia dini. Misalnya saja, memasukkan baju kotor ke dalam keranjang atau membersihkan meja setelah makan. “Orangtua berpikir nanti saja menyuruh anak mengerjakan pekerjaan bebenah. Tapi anak akan belajar sambil mengerjakannya,” tutur McIntire.

Nah, kalau anak sudah mulai mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga maka jangan tunggu sampai ia selesai bebenah baru Anda berikan pujian. Beri motivasi dan pujian ketika ia tengah mengerjakan tugasnya. Dan usahakan tugas yang dia lakukan diberikan secara konsisten. Pengarang buku parenting Kid Cooperation: How to Stop Yelling, Nagging, and Pleading and Get Kids to Cooperate, Elizabeth Pantley mengatakan, jika anak tidak diberikan tugas secara rutin maka mereka akan menunda melakukan tugasnya dengan harapan akan ada orang lain yang mengerjakannya.

Lebih mudahnya, Fay mengajak orang membuat daftar tugas rumah tangga yang bisa dikerjakan anak-anak. Lalu minta anak untuk memilih tugas yang mereka paling sukai. Pastikan setiap anak memiliki tugas rumah tangga sesuai usia mereka. Lalu buat tiga macam kartu. Kartu pertama berisi daftar tugas dan orang yang mengerjakan, kartu kedua berisi dealine tugas yang diberikan, sementara kartu ketiga khusus untuk menulis tanda centang (check list) jika tugas sudah berhasil dikerjakan.

Taruh kartu dimana semua anggota keluarga bisa melihat dan minta anak mengerjakan masing-masing tugasnya. Boleh juga dengan membagi dua kartu yakni untuk tugas harian dan tugas mingguan.

Pantley menjelaskan agar menulis tugas dengan spesifik. Ia mencontohkan, instruksi “bersihkan kamarmu,” tidaklah mendetail. Sebaliknya buat lebih jelas: “taruh baju kotor di keranjang, rapikan buku di raknya, cuci piring, dan masukkan mainan kembali ke kotaknya,”. Jangan langsung memberi anak tugas rumah tanpa lebih dulu memberi contoh. Perlihatkan kepada anak cara mengerjakan tugas tersebut, lalu minta ia membantu Anda menyelesaikan tugas itu.

Barulah minta anak mengerjakan sendiri tugas tadi dengan supervisi Anda. Lama-lama ia akan terbiasa sendiri menyelesaikan tugasnya. Jangan lupa untuk mengingatkan anak tugas masing-masing dan tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Pantley merekomendasikan kata kalau dan maka. Misalnya, “kalau kamu sudah memberi makan kucing maka kamu bisa makan malam,” ungkapnya. (Sri Noviarni)

(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak