CERMIN: John Green dan Keberaniannya Membuka Diri soal Isu Kesehatan Mental
Jum'at, 10 Mei 2024 - 16:21 WIB
loading...
Film Turtles All the Way Down mengisahkan seorang remaja dengan isu kesehatan mental yang takut berciuman. Foto/HBO Go
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2021. Kala seantero dunia sedang dirundung pandemi, saya mengalami fase yang paling tak pernah terpikirkan dalam hidup saya: mengalami depresi.
Saya merasa sudah pernah mengalami segala hal buruk yang pernah diterima oleh seorang manusia. Pada usia 16 tahun, ibu saya meninggal mendadak karena kecelakaan mobil.
Pada usia 27 tahun, adik saya meninggal karena dicengkeram AIDS. Saya akhirnya pun selalu berpikir bahwa saya tak akan melewati usia 40 tahun.
Baca Juga: CERMIN: Belajar Bikin Film yang Keren dan Seksi dari Luca Guadagnino
Namun bukan itu semua yang membuat saya depresi. Pertaruhan besar atas sebuah rencana bisnis yang nyaris gagal total membuyarkan segalanya.
Saya merasa seluruh dunia gelap, saya merasa jatuh ke lubang yang sangat dalam dan tak seorang pun mengulurkan tangan untuk membawa saya kembali naik ke atas.
Pada 2022, saya membaca pengakuan terbuka dari seorang penulis yang saya kagumi soal pengalamannya ingin bunuh diri saat pandemi yang menghancurkan finansialnya. Perlahan saya tahu bahwa banyak orang yang mengalami hal yang sama, dan seperti John Green, saya tak ingin lagi menyembunyikannya. Saya ingin membicarakannya secara terbuka.
Seperti John, saya menginjeksikan secuil pengalaman itu dalam skenario miniseri yang lantas dinovelkan terlebih dahulu oleh Eunike Hanny berjudul Klub Bunuh Diri. Sebuah kisah tentang para pemberani yang mengakui secara lantang terkait masalah yang tak bisa lagi mereka tanggulangi dan mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh mereka yang peduli.
Sementara John ingin menjaga jarak antara kesulitan yang dihadapinya dan naskah novel yang ditulisnya, maka komprominya mewujud ke dalam bentuk karakter utama, seorang remaja perempuan bernama Aza yang mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
![CERMIN: John Green dan Keberaniannya Membuka Diri soal Isu Kesehatan Mental]()
Foto: HBO Go
Saya merasa sudah pernah mengalami segala hal buruk yang pernah diterima oleh seorang manusia. Pada usia 16 tahun, ibu saya meninggal mendadak karena kecelakaan mobil.
Pada usia 27 tahun, adik saya meninggal karena dicengkeram AIDS. Saya akhirnya pun selalu berpikir bahwa saya tak akan melewati usia 40 tahun.
Baca Juga: CERMIN: Belajar Bikin Film yang Keren dan Seksi dari Luca Guadagnino
Namun bukan itu semua yang membuat saya depresi. Pertaruhan besar atas sebuah rencana bisnis yang nyaris gagal total membuyarkan segalanya.
Saya merasa seluruh dunia gelap, saya merasa jatuh ke lubang yang sangat dalam dan tak seorang pun mengulurkan tangan untuk membawa saya kembali naik ke atas.
Pada 2022, saya membaca pengakuan terbuka dari seorang penulis yang saya kagumi soal pengalamannya ingin bunuh diri saat pandemi yang menghancurkan finansialnya. Perlahan saya tahu bahwa banyak orang yang mengalami hal yang sama, dan seperti John Green, saya tak ingin lagi menyembunyikannya. Saya ingin membicarakannya secara terbuka.
Seperti John, saya menginjeksikan secuil pengalaman itu dalam skenario miniseri yang lantas dinovelkan terlebih dahulu oleh Eunike Hanny berjudul Klub Bunuh Diri. Sebuah kisah tentang para pemberani yang mengakui secara lantang terkait masalah yang tak bisa lagi mereka tanggulangi dan mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh mereka yang peduli.
Sementara John ingin menjaga jarak antara kesulitan yang dihadapinya dan naskah novel yang ditulisnya, maka komprominya mewujud ke dalam bentuk karakter utama, seorang remaja perempuan bernama Aza yang mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Foto: HBO Go
Lihat Juga :