CERMIN: John Green dan Keberaniannya Membuka Diri soal Isu Kesehatan Mental
Jum'at, 10 Mei 2024 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
Aza punya kekhawatiran berlebihan terhadap bakteri yang menginvasi seluruh pemikirannya. Ia membiarkan pemikiran itu sering kali menyetir bagian-bagian paling penting dalam hidupnya termasuk saat seharusnya ia menikmati ciuman pertamanya.
Dalam film yang tayang di HBO Go ini, sutradara Hannah Marks membiarkan kita mengintip ketakutan demi ketakutan yang silih berganti menghinggapi Aza melalui voice-over. Meski sering kali efektif, terkadang voice-over itu terasa terlalu berlebihan dan terasa supercerewet untuk sebuah adegan yang sesungguhnya tak memerlukannya.
Pendekatan voice-over ini memang berisiko besar. Untungnya memang Hannah berhasil menghindari kekacauan demi kekacauan yang mungkin datang dari pendekatan ini.
Kita pun mendengar bagaimana kekhawatiran Aza ini terasa sangat menganggu hidupnya. Jika seorang remaja perempuan sepertinya menginginkan ciuman pertama yang sempurna, Aza justru terkesan takut melakukannya atas sebuah hal yang belum tentu terjadi.
Aza lalu menyemburkan kekhawatirannya kepada psikiaternya dengan seruan, “How can I have a boyfriend if I hate the idea of kissing him?”. Termasuk pikiran-pikiran yang terus bergejolak dalam kepalanya yang memuncratkan ide seperti, “You’ll get his bacteria in your mouth. His bacteria will make you sick”, tentu saja bisa dengan mudah membuat kehidupan Aza begitu rapuhnya.
![CERMIN: John Green dan Keberaniannya Membuka Diri soal Isu Kesehatan Mental]()
Foto: HBO Go
Untungnya memang Aza punya Daisy, sahabat sejati yang selalu berada di sisinya. Berusaha memahami sisi-sisi terburuknya yang nyaris tak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun.
Daisy berusaha mengerti bahwa sering kali Aza dan masalahnya mengambil alih semesta persahabatan mereka dan membuat Aza terus menerus menjadi pemeran utamanya. John begitu cerdik menempatkan dua karakter yang terkesan bertolak belakang, tapi justru karena ketaksamaan keduanya lah yang membuat mereka lebih mudah memahami satu sama lain.
Membicarakan isu kesehatan mental pada hari-hari ini masih tak mudah. Masih banyak yang menghindarinya, masih banyak yang ingin membicarakannya sekadar bisik-bisik.
Padahal sejumlah survei sudah memperlihatkan betapa rentannya generasi muda di negeri ini dengan isu tersebut. Keberanian John dan penulis-penulis lainnya untuk membicarakannya secara terbuka adalah sebuah keberanian yang patut diberi keplokan meriah.
Dalam film yang tayang di HBO Go ini, sutradara Hannah Marks membiarkan kita mengintip ketakutan demi ketakutan yang silih berganti menghinggapi Aza melalui voice-over. Meski sering kali efektif, terkadang voice-over itu terasa terlalu berlebihan dan terasa supercerewet untuk sebuah adegan yang sesungguhnya tak memerlukannya.
Pendekatan voice-over ini memang berisiko besar. Untungnya memang Hannah berhasil menghindari kekacauan demi kekacauan yang mungkin datang dari pendekatan ini.
Kita pun mendengar bagaimana kekhawatiran Aza ini terasa sangat menganggu hidupnya. Jika seorang remaja perempuan sepertinya menginginkan ciuman pertama yang sempurna, Aza justru terkesan takut melakukannya atas sebuah hal yang belum tentu terjadi.
Aza lalu menyemburkan kekhawatirannya kepada psikiaternya dengan seruan, “How can I have a boyfriend if I hate the idea of kissing him?”. Termasuk pikiran-pikiran yang terus bergejolak dalam kepalanya yang memuncratkan ide seperti, “You’ll get his bacteria in your mouth. His bacteria will make you sick”, tentu saja bisa dengan mudah membuat kehidupan Aza begitu rapuhnya.

Foto: HBO Go
Untungnya memang Aza punya Daisy, sahabat sejati yang selalu berada di sisinya. Berusaha memahami sisi-sisi terburuknya yang nyaris tak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun.
Daisy berusaha mengerti bahwa sering kali Aza dan masalahnya mengambil alih semesta persahabatan mereka dan membuat Aza terus menerus menjadi pemeran utamanya. John begitu cerdik menempatkan dua karakter yang terkesan bertolak belakang, tapi justru karena ketaksamaan keduanya lah yang membuat mereka lebih mudah memahami satu sama lain.
Membicarakan isu kesehatan mental pada hari-hari ini masih tak mudah. Masih banyak yang menghindarinya, masih banyak yang ingin membicarakannya sekadar bisik-bisik.
Padahal sejumlah survei sudah memperlihatkan betapa rentannya generasi muda di negeri ini dengan isu tersebut. Keberanian John dan penulis-penulis lainnya untuk membicarakannya secara terbuka adalah sebuah keberanian yang patut diberi keplokan meriah.
Lihat Juga :