alexametrics

Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

loading...
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget
A+ A-
Kecanggihan teknologi membuat para orang tua mulai kedodoran. Anak-anak menjadi pribadi yang super sibuk dengan dunia gadget-nya. Alhasil, problematika mulai muncul di rumah. Sebagai orang tua tak pelak harus mendampingi anak-anak dalam mengarungi era digital. Perbedaan generasi menuntut orang tua juga harus tahu fungsi semua itu.

Buku Digital ParenThink menuntun kita untuk menyelami dunia digital dalam pola asuh kids zaman now. Sang penulis, Mona Ratuliu, berbagi pengalamannya dalam menghadapi tiga anak milenialnya. Tidak dipungkiri, Mona juga sempat merasa kewalahan dalam mendidik anak-anaknya. Tetapi, Mona terus belajar untuk tetap bisa mendampingi tumbuh kembang anaknya sesuai zamannya.

Jelas, kita tak bisa terus-menerus melindungi anak-anak dari tantangan zaman. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi sambil terus membimbing mereka agar bisa melindungi dirinya sendiri. Nah, ini yang membedakan kita dengan orang tua zaman dulu (h. 23).



Orang tua harus mampu memahami anak-anak yang terlahir di era digital ini. Hal ini bisa disebut dengan generasi NET. Di mana para generasi yang tak lepas dari dunia internet. Mereka cenderung memiliki karakteristik yang unik karena mereka terlahir di dunia yang serbainstan sehingga anak-anak generasi NET lebih menyukai sesuatu yang praktis. Para orang tua perlu mendidik anak-anaknya agar mengerti konsep proses, daya tahan, dan juga komitmen dalam menyelesaikan tugas.

Segala yang berlebihan pastinya tidak akan memberikan dampak baik. Demikian pula dengan penggunaan teknologi berupa gadget sehingga perlunya keseimbangan dalam penggunaannya. Menurut Abimanyu Wahjoehidajat, seorang pakar telematika Indonesia, orang tua harus bisa melihat fungsi gadget di rumah.

Ketika gadget masih dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari informasi penting, alat bantu untuk mengerjakan tugas sekolah, menonton film bersama keluarga, atau bermain game edukasi dengan batas waktu tertentu, tentunya gadget masih bisa dikatakan bermanfaat untuk anak-anak. Namun, apabila gadget dirasakan sudah berubah fungsi menjadi senjata yang mematikan, yang menimbulkan keresahan dan kekhawatiran terhadap kesehatan fisik maupun mental, sebaiknya pertimbangkan lagi kalau ingin membiarkan anak bermain gadget. Bahkan, seorang psikolog juga menyatakan bahwa ketika hal itu terjadi, orang tua harus berani mengambil tindakan tegas untuk mengevaluasi kembali penggunaan gadget pada anak (h. 56).

Menurut survei yang diselenggarakan oleh Google pada Desember 2014 hingga Februari 2015, rata-rata masyarakat Indonesia secara akumulatif menghabiskan waktu 5,5 jam sehari menatap layar smartphone-nya. Aktivitas keseharian sudah terdominasi oleh kehadiran gadget dan media elektronik lainnya. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah smartphone yang beralih fungsi menjadi pengganti baby sitter.

Belakangan semakin banyak orang tua yang ketagihan melihat anaknya duduk diam dengan gadget di tangan. Efek sampingnya, anak juga jadi ketagihan ber-gadget ria. Gadget menjadi senjata paling ampuh untuk menghentikan kerewelan anak. Namun, hal ini justru menyebabkan anak menjadi semakin rewel dan merengek supaya diberikan gadget (h. 66).

Penggunaan gadget yang berlebihan memberikan dampak masalah yang mulai bermunculan. Yang sering terjadi adalah perilaku adiksi gadget, yakni kondisi ketergantungan yang tidak bisa dihentikan dan mengganggu fungsi serta tanggung jawab dalam hidup sehari-hari. Ketika adiksi gadget terjadi, diperlukan detoks segera. Detoks yang berarti menghentikan ketergantungan dalam jangka waktu tertentu. Waktu yang dibutuhkan sistem saraf untuk reset kurang lebih sekitar 4-6 minggu.

Melewati masa-masa detoks akan berdampak pada frustrasi anak. Anak-anak akan merasa resah, bingung, uring-uringan, hingga rewel saat menghadapi hari-harinya tanpa benda-benda canggih yang biasa menemaninya. Sehingga anak-anak memerlukan pendampingan orang tua. Masa pendampingan ini sebagai momentum untuk memberikan pemahaman dalam menggunakan gadget secara bijak. Sekaligus membuat kesepakatan dalam penggunaan gadget, memanfaatkannya sebagai alat untuk berprestasi.

Buku ini juga menampilkan curahan hati anak-anak dalam menyikapi dunia digitalisasi dengan prestasi. Seperti Naura, anak kedua dari Mona Ratuliu, yang mampu wujudkan mimpi menjadi seorang penyanyi. Anak ketiganya, Naya, penjual slime online yang gemar bersedekah. Sedangkan Mima sebagai anak tertua lebih memilih untuk produktif tanpa smartphone.

Buku ini menyuguhkan informasi padu, memotivasi para orang tua dalam mendidik anak-anak kids zaman now. Mimpi dari seorang Mona Ratuliu, mengajak para orang tua untuk bersama-sama membentuk manusia-manusia Indonesia berkualitas melalui pola asuh yang baik sehingga terwujud masa depan Indonesia yang lebih cemerlang.


Judul : Digital ParenThink

Penulis : Mona Ratuliu

Penerbit : Noura

Cetakan : I, Juli 2018

Tebal : x + 199 halaman

ISBN : 978-602-385-513-1
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak