Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer
Senin, 07 September 2020 - 13:15 WIB
loading...
Foto/dok
A
A
A
JAKARTA - Tidur bukan hanya ritual memejamkan mata demi melepas lelah atau mengikuti rutinitas. Faktanya, tidur bermanfaat mencegah penyakit seperti Alzheimer.
Penelitian dari Boston University menggambarkan bahwa otak terlibat dalam “pembersihan” selagi kita tertidur. Proses ini ternyata bermanfaat dalam mencegah penyakit seperti demensia. Penelitian ini menyempurnakan penelitian sebelumnya, di mana ditegaskan bahwa otak bekerja lebih baik saat tubuh beristirahat. (Baca: Opini Publik Dinilai Ganggu Penyidikan Kasus Jaksa Pinangki)
Proses ini melibatkan sistem glymphatic, yaitu sistem pembersihan untuk sistem saraf pusat kita. Ketika terbangun, protein yang disebut amyloid-betas menumpuk di otak. Tetapi selama jam tidur, otak meluluhkan protein ini guna mencegah terbentuknya plak dan akirnya merusak saraf. Tanpa tidur yang cukup, otak tidak akan efektif membersihkan protein ini.
Nah, penumpukan protein ini berhubungan dengan tingginya risiko terkena demensia yang dapat merusak saraf. Terkait hal ini, Dr Alon Y Avidan MPH menjelaskan, selagi kita tidur, sistem glymphatic bekerja membersihkan protein, racun, maupun produk “sampah” lainnya.
“Kurang tidur membuat sistem ini kurang efektif bekerja. Protein ini diketahui sebagai racun terhadap sel dan saraf. Penumpukan protein ini bisa menyebabkan peradangan dan penurunan fungsi saraf di otak yang seiring waktu berkontribusi pada risiko Alzheimer,” papar Direktur UCLA Sleep Disorder Center sekaligus profesor di Departemen Neurology di David Geffen School of Medicine, UCLA.
Meski begitu, bukan berarti jika hanya tidur empat jam dalam sehari kemudian dalam 20 tahun ke depan Anda akan menderita Alzheimer. “Belum ada buktinya, tapi yang jelas ada tren seperti itu,” imbuhnya dikutip dari Healthline. Asosiasi Alzheimer sendiri menyetujui bahwa terlalu dini untuk membenarkan hubungan sebab-akibat tersebut. “Bukti yang ada menyatakan bahwa gangguan tidur seperti sleep apnea atau gangguan pola tidur dapat meningkatkan risiko Alzheimer dan demensia kelak atau bisa menjadi tanda awal penyakit ini,” kata Heather Synder PhD, Wakil Presiden Medical and Scientific Operations Asosiasi Alzheimer. (Baca juga: Turki Peringatkan Perang dengan Yunani hanya Tinggal Masalah Waktu)
Namun, Synder menggarisbawahi, masih dibutuhkan banyak penelitian untuk memahami hubungan antara tidur dan demensia. “Contohnya, apakah perubahan otak disebabkan penyakit akibat adanya gangguan tidur atau justru perubahan pola tidur yang meningkatkan risiko demensia atau keduanya?" kata Synder.
Penelitian dari Boston University menggambarkan bahwa otak terlibat dalam “pembersihan” selagi kita tertidur. Proses ini ternyata bermanfaat dalam mencegah penyakit seperti demensia. Penelitian ini menyempurnakan penelitian sebelumnya, di mana ditegaskan bahwa otak bekerja lebih baik saat tubuh beristirahat. (Baca: Opini Publik Dinilai Ganggu Penyidikan Kasus Jaksa Pinangki)
Proses ini melibatkan sistem glymphatic, yaitu sistem pembersihan untuk sistem saraf pusat kita. Ketika terbangun, protein yang disebut amyloid-betas menumpuk di otak. Tetapi selama jam tidur, otak meluluhkan protein ini guna mencegah terbentuknya plak dan akirnya merusak saraf. Tanpa tidur yang cukup, otak tidak akan efektif membersihkan protein ini.
Nah, penumpukan protein ini berhubungan dengan tingginya risiko terkena demensia yang dapat merusak saraf. Terkait hal ini, Dr Alon Y Avidan MPH menjelaskan, selagi kita tidur, sistem glymphatic bekerja membersihkan protein, racun, maupun produk “sampah” lainnya.
“Kurang tidur membuat sistem ini kurang efektif bekerja. Protein ini diketahui sebagai racun terhadap sel dan saraf. Penumpukan protein ini bisa menyebabkan peradangan dan penurunan fungsi saraf di otak yang seiring waktu berkontribusi pada risiko Alzheimer,” papar Direktur UCLA Sleep Disorder Center sekaligus profesor di Departemen Neurology di David Geffen School of Medicine, UCLA.
Meski begitu, bukan berarti jika hanya tidur empat jam dalam sehari kemudian dalam 20 tahun ke depan Anda akan menderita Alzheimer. “Belum ada buktinya, tapi yang jelas ada tren seperti itu,” imbuhnya dikutip dari Healthline. Asosiasi Alzheimer sendiri menyetujui bahwa terlalu dini untuk membenarkan hubungan sebab-akibat tersebut. “Bukti yang ada menyatakan bahwa gangguan tidur seperti sleep apnea atau gangguan pola tidur dapat meningkatkan risiko Alzheimer dan demensia kelak atau bisa menjadi tanda awal penyakit ini,” kata Heather Synder PhD, Wakil Presiden Medical and Scientific Operations Asosiasi Alzheimer. (Baca juga: Turki Peringatkan Perang dengan Yunani hanya Tinggal Masalah Waktu)
Namun, Synder menggarisbawahi, masih dibutuhkan banyak penelitian untuk memahami hubungan antara tidur dan demensia. “Contohnya, apakah perubahan otak disebabkan penyakit akibat adanya gangguan tidur atau justru perubahan pola tidur yang meningkatkan risiko demensia atau keduanya?" kata Synder.
Lihat Juga :