Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer
Senin, 07 September 2020 - 13:15 WIB
loading...
A
A
A
Avidan menjelaskan, tidur yang cukup meliputi kuantitas maupun kualitas. Banyak orang berpikir bahwa semakin bertambah usia, hanya butuh tidur sebentar. “Ini tidak benar, baik Anda 18 ataupun 80 tahun. Untuk usia 18 tahun, kuantitas tidur harus antara 7-8 jam. Ini sesuai rekomendasi yang dianjurkan,” beber Avidan.
Dia juga meluruskan bahwa waktu tidur idealnya tidak dipecah antara waktu tidur malam dan tidur siang, tetapi harus dalam satu waktu. Sedangkan merujuk pada kualitas, tidur yang cukup bisa dilihat dari tahapan tidur. Misalkan, jika seseorang tidur antara 7-8 jam dan mereka terbangun dalam kondisi pening, bisa jadi ada isu kesehatan yang diderita.
“Mungkin ada isu kesehatan yang mengganggu tidur, seperti nyeri, sleep apnea, atau penggunaan alkohol yang bisa mengganggu kelancaran tidur,” ujar Avidan. Bukan hanya Alzheimer yang harus diwaspadai. Faktanya, tidur yang tidak nyenyak dapat memicu berbagai gangguan. Max Kerr DDS,D-ABDSM, pakar pengobatan tidur Sleep Better Austin di Texas, AS, mengatakan, secara fisik, tidur yang tidak berkualitas bisa berakibat kesulitan mengatur berat badan, diabetes, dan disfungsi tiroid yang disebabkan gangguan hormoni. (Lihat videonya: Kemarau Panjang, Warga Kabupaten Bekasi Mengalami Kekeringan)
Sedangkan secara mental, tidur yang tidak berkualitas bisa meningkatkan risiko gelisah, depresi, sulit mengingat, dan penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan demensia. Penyakit ini dapat muncul terutama kalau ada gangguan tidur dan/atau tidak cukup tidur. Kerr membeberkan bahwa sistem saraf dan memori terjaga selama tidur REM (tidur dengan gerak mata cepat). Rapid eye movement (REM) adalah kondisi normal dari tidur yang ditandai dengan gerakan cepat dan acak dari mata. Masalahnya, acapkali tahapan tidur REM ini terlewat karena adanya gangguan tidur. (Sri Noviarni)
Dia juga meluruskan bahwa waktu tidur idealnya tidak dipecah antara waktu tidur malam dan tidur siang, tetapi harus dalam satu waktu. Sedangkan merujuk pada kualitas, tidur yang cukup bisa dilihat dari tahapan tidur. Misalkan, jika seseorang tidur antara 7-8 jam dan mereka terbangun dalam kondisi pening, bisa jadi ada isu kesehatan yang diderita.
“Mungkin ada isu kesehatan yang mengganggu tidur, seperti nyeri, sleep apnea, atau penggunaan alkohol yang bisa mengganggu kelancaran tidur,” ujar Avidan. Bukan hanya Alzheimer yang harus diwaspadai. Faktanya, tidur yang tidak nyenyak dapat memicu berbagai gangguan. Max Kerr DDS,D-ABDSM, pakar pengobatan tidur Sleep Better Austin di Texas, AS, mengatakan, secara fisik, tidur yang tidak berkualitas bisa berakibat kesulitan mengatur berat badan, diabetes, dan disfungsi tiroid yang disebabkan gangguan hormoni. (Lihat videonya: Kemarau Panjang, Warga Kabupaten Bekasi Mengalami Kekeringan)
Sedangkan secara mental, tidur yang tidak berkualitas bisa meningkatkan risiko gelisah, depresi, sulit mengingat, dan penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan demensia. Penyakit ini dapat muncul terutama kalau ada gangguan tidur dan/atau tidak cukup tidur. Kerr membeberkan bahwa sistem saraf dan memori terjaga selama tidur REM (tidur dengan gerak mata cepat). Rapid eye movement (REM) adalah kondisi normal dari tidur yang ditandai dengan gerakan cepat dan acak dari mata. Masalahnya, acapkali tahapan tidur REM ini terlewat karena adanya gangguan tidur. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :