Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Mudah Marah Jangan Dianggap Sepele
Minggu, 25 Mei 2025 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kasus Hipertensi dan Kolesterol Naik, Singapura Wajibkan Label Gizi pada Makanan Olahan
Kesulitan untuk mendapatkan tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, atau mengalami insomnia dapat menjadi pertanda awal tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat memengaruhi sistem saraf otonom, yang turut berperan dalam pengaturan siklus tidur. Jika gangguan tidur terjadi secara konsisten, penting untuk memeriksakan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi dapat memicu peningkatan denyut jantung saat beristirahat akibat aktivasi sistem saraf simpatik. Jantung dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, bahkan ketika tubuh dalam kondisi relaksasi. Ini bisa menjadi sinyal bahwa sistem kardiovaskular sedang mengalami tekanan.
Perasaan mudah marah, gelisah, atau sulit berkonsentrasi sering kali dianggap sebagai akibat stres biasa. Namun, menurut Dr. Bhamri, emosi yang meledak-ledak atau kabut kognitif ringan bisa jadi merupakan dampak dari perubahan vaskular akibat tekanan darah tinggi. Hal ini terutama terjadi pada individu berusia di atas 50 tahun, di mana elastisitas pembuluh darah mulai menurun.
Salah satu indikator awal dari kerusakan ginjal akibat hipertensi adalah munculnya protein dalam urine (mikroalbuminuria), meskipun dalam jumlah kecil (30–300 mg/hari). Ini menunjukkan bahwa tekanan darah yang tinggi mulai merusak fungsi filtrasi ginjal dan menyebabkan disfungsi endotel.
Baca Juga: Studi: Orang yang Berjalan Cepat Berisiko Rendah Idap Diabetes dan Hipertensi
1. Susah Tidur
Kesulitan untuk mendapatkan tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, atau mengalami insomnia dapat menjadi pertanda awal tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat memengaruhi sistem saraf otonom, yang turut berperan dalam pengaturan siklus tidur. Jika gangguan tidur terjadi secara konsisten, penting untuk memeriksakan tekanan darah.
2. Denyut Jantung Meningkat saat Istirahat
Tekanan darah tinggi dapat memicu peningkatan denyut jantung saat beristirahat akibat aktivasi sistem saraf simpatik. Jantung dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, bahkan ketika tubuh dalam kondisi relaksasi. Ini bisa menjadi sinyal bahwa sistem kardiovaskular sedang mengalami tekanan.
3. Mudah Tersinggung atau Emosi Tidak Stabil
Perasaan mudah marah, gelisah, atau sulit berkonsentrasi sering kali dianggap sebagai akibat stres biasa. Namun, menurut Dr. Bhamri, emosi yang meledak-ledak atau kabut kognitif ringan bisa jadi merupakan dampak dari perubahan vaskular akibat tekanan darah tinggi. Hal ini terutama terjadi pada individu berusia di atas 50 tahun, di mana elastisitas pembuluh darah mulai menurun.
4. Mikroalbuminuria
Salah satu indikator awal dari kerusakan ginjal akibat hipertensi adalah munculnya protein dalam urine (mikroalbuminuria), meskipun dalam jumlah kecil (30–300 mg/hari). Ini menunjukkan bahwa tekanan darah yang tinggi mulai merusak fungsi filtrasi ginjal dan menyebabkan disfungsi endotel.
Baca Juga: Studi: Orang yang Berjalan Cepat Berisiko Rendah Idap Diabetes dan Hipertensi
Lihat Juga :