Stres Bisa Bikin Kulit Kusam dan Cepat Menua, Dosen IPB University Jelaskan Penyebabnya
Rabu, 24 September 2025 - 06:30 WIB
loading...
Kondisi psikologis seseorang juga memiliki pengaruh besar terhadap penampilan dan kesehatan kulit. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Kesehatan kulit sering kali dikaitkan dengan faktor luar seperti paparan sinar matahari, polusi, atau gaya hidup. Namun, ternyata kondisi psikologis seseorang juga memiliki pengaruh besar terhadap penampilan dan kesehatan kulit.
Hal ini dijelaskan oleh Widya Khairunnisa Sarkowi, dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University , saat mengulas hasil berbagai studi terbaru mengenai hubungan stres dengan kondisi kulit.
Menurut dr. Widya, penelitian yang dilakukan terhadap wanita berusia 18 hingga 34 tahun menemukan fakta menarik. Sebanyak 43,5 persen responden yang mengalami stres mengaku memiliki permasalahan kulit kusam. Kondisi ini, kata dia, erat kaitannya dengan peran hormon kortisol yang dilepaskan tubuh saat seseorang sedang mengalami tekanan psikologis.
Baca juga: Atasi Kulit Kusam dengan Serum Vitamin C
Hormon kortisol dikenal sebagai hormon stres. Ketika produksinya meningkat, tubuh dapat mengalami berbagai perubahan, termasuk pada kulit. Kortisol memicu terjadinya peradangan, menurunkan aliran darah ke jaringan kulit, serta merusak skin barrier atau lapisan pelindung alami kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih kering, kusam, bahkan lebih rentan berjerawat. Selain itu, hormon ini juga meningkatkan pembentukan pigmen dan merangsang produksi minyak berlebih, yang semakin memperburuk kondisi kulit.
“Dampaknya, kulit terlihat kusam, mudah berjerawat, dan terasa kering. Kortisol juga mempercepat kerusakan kolagen yang berfungsi menjaga elastisitas kulit. Jika kolagen berkurang, kulit akan lebih cepat kendur, keriput, dan menua,” jelas dr. Widya.
Baca juga: Jangan Risaukan Flek Hitam saat Bersepeda hingga Siang Hari
Tak hanya itu, hormon kortisol juga berperan dalam memicu terbentuknya radikal bebas serta kerusakan DNA sel kulit. Situasi ini dapat memperburuk tampilan kulit dan mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan. Dengan kata lain, stres tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan kulit seseorang.
Lebih lanjut, dr. Widya menambahkan bahwa kesehatan kulit merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun dari luar. Sinar ultraviolet (UV) misalnya, menjadi salah satu penyebab utama penuaan dini yang ditandai dengan flek hitam, keriput, dan kulit kendur. Polusi udara serta asap rokok juga tidak kalah berbahaya, karena keduanya mampu meningkatkan produksi radikal bebas dalam tubuh. Bila kondisi eksternal ini bertemu dengan stres batin, maka efeknya bisa saling memperburuk sehingga kulit tampak jauh lebih kusam dan tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat.
Ia juga mengingatkan bahwa stres jangka panjang atau kronis merupakan kondisi yang patut diwaspadai. Kortisol yang terus berada pada level tinggi akan mempercepat kerusakan kolagen, meningkatkan pigmentasi, dan membuat kulit semakin sensitif. “Itulah mengapa orang dengan stres kronis sering terlihat lebih cepat menua dibandingkan mereka yang mampu mengelola stres dengan baik,” tegasnya.
Sebagai solusi, dr. Widya menekankan pentingnya perawatan kulit yang menyeluruh. Penggunaan skincare memang diperlukan, khususnya tabir surya atau sunblock untuk melindungi dari sinar UV, pelembap untuk menjaga hidrasi, serta produk antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas. Namun, menurutnya, perawatan luar saja tidak cukup jika penyebab utama kerusakan kulit berasal dari dalam, yaitu stres.
“Perawatan kulit dengan skincare sebaiknya diimbangi dengan pengelolaan stres. Caranya bisa dengan tidur yang cukup, olahraga teratur, serta melakukan aktivitas mindfulness seperti yoga atau meditasi. Gaya hidup sehat, pola makan bergizi seimbang, dan asupan cairan yang cukup juga sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit,” pungkas dr. Widya.
Dengan demikian, kesehatan kulit bukan hanya soal perawatan dari luar, melainkan juga cerminan kondisi fisik dan psikis seseorang. Mengelola stres dengan baik, menjalani pola hidup sehat, serta konsisten melakukan perawatan kulit menjadi kunci agar kulit tetap sehat, cerah, dan awet muda meski usia terus bertambah.
Hal ini dijelaskan oleh Widya Khairunnisa Sarkowi, dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University , saat mengulas hasil berbagai studi terbaru mengenai hubungan stres dengan kondisi kulit.
Menurut dr. Widya, penelitian yang dilakukan terhadap wanita berusia 18 hingga 34 tahun menemukan fakta menarik. Sebanyak 43,5 persen responden yang mengalami stres mengaku memiliki permasalahan kulit kusam. Kondisi ini, kata dia, erat kaitannya dengan peran hormon kortisol yang dilepaskan tubuh saat seseorang sedang mengalami tekanan psikologis.
Baca juga: Atasi Kulit Kusam dengan Serum Vitamin C
Hormon kortisol dikenal sebagai hormon stres. Ketika produksinya meningkat, tubuh dapat mengalami berbagai perubahan, termasuk pada kulit. Kortisol memicu terjadinya peradangan, menurunkan aliran darah ke jaringan kulit, serta merusak skin barrier atau lapisan pelindung alami kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih kering, kusam, bahkan lebih rentan berjerawat. Selain itu, hormon ini juga meningkatkan pembentukan pigmen dan merangsang produksi minyak berlebih, yang semakin memperburuk kondisi kulit.
“Dampaknya, kulit terlihat kusam, mudah berjerawat, dan terasa kering. Kortisol juga mempercepat kerusakan kolagen yang berfungsi menjaga elastisitas kulit. Jika kolagen berkurang, kulit akan lebih cepat kendur, keriput, dan menua,” jelas dr. Widya.
Baca juga: Jangan Risaukan Flek Hitam saat Bersepeda hingga Siang Hari
Tak hanya itu, hormon kortisol juga berperan dalam memicu terbentuknya radikal bebas serta kerusakan DNA sel kulit. Situasi ini dapat memperburuk tampilan kulit dan mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan. Dengan kata lain, stres tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan kulit seseorang.
Lebih lanjut, dr. Widya menambahkan bahwa kesehatan kulit merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun dari luar. Sinar ultraviolet (UV) misalnya, menjadi salah satu penyebab utama penuaan dini yang ditandai dengan flek hitam, keriput, dan kulit kendur. Polusi udara serta asap rokok juga tidak kalah berbahaya, karena keduanya mampu meningkatkan produksi radikal bebas dalam tubuh. Bila kondisi eksternal ini bertemu dengan stres batin, maka efeknya bisa saling memperburuk sehingga kulit tampak jauh lebih kusam dan tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat.
Ia juga mengingatkan bahwa stres jangka panjang atau kronis merupakan kondisi yang patut diwaspadai. Kortisol yang terus berada pada level tinggi akan mempercepat kerusakan kolagen, meningkatkan pigmentasi, dan membuat kulit semakin sensitif. “Itulah mengapa orang dengan stres kronis sering terlihat lebih cepat menua dibandingkan mereka yang mampu mengelola stres dengan baik,” tegasnya.
Sebagai solusi, dr. Widya menekankan pentingnya perawatan kulit yang menyeluruh. Penggunaan skincare memang diperlukan, khususnya tabir surya atau sunblock untuk melindungi dari sinar UV, pelembap untuk menjaga hidrasi, serta produk antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas. Namun, menurutnya, perawatan luar saja tidak cukup jika penyebab utama kerusakan kulit berasal dari dalam, yaitu stres.
“Perawatan kulit dengan skincare sebaiknya diimbangi dengan pengelolaan stres. Caranya bisa dengan tidur yang cukup, olahraga teratur, serta melakukan aktivitas mindfulness seperti yoga atau meditasi. Gaya hidup sehat, pola makan bergizi seimbang, dan asupan cairan yang cukup juga sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit,” pungkas dr. Widya.
Dengan demikian, kesehatan kulit bukan hanya soal perawatan dari luar, melainkan juga cerminan kondisi fisik dan psikis seseorang. Mengelola stres dengan baik, menjalani pola hidup sehat, serta konsisten melakukan perawatan kulit menjadi kunci agar kulit tetap sehat, cerah, dan awet muda meski usia terus bertambah.
(nnz)
Lihat Juga :