Fenomena Popcorn Brain Jarang Disadari, Ini Fakta dan Cara Mengatasinya
Sabtu, 06 Desember 2025 - 06:30 WIB
loading...
Banyak orang mungkin tidak menyadari terjadi fenomena Popcorn Brain dalam dirinya. Foto/Sci Tech Daily.
A
A
A
JAKARTA - Banyak orang mungkin tidak menyadari terjadi fenomena 'Popcorn Brain' dalam dirinya. Fenomena ini misalnya saat sedang fokus pada suatu hal, namun tiba-tiba teralihkan dengan hal lain yang ada di ponsel.
Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “Popcorn Brain”, kondisi ketika pikiran kita terus meletup dan melompat-lompat tanpa henti. Istilah ini disebut oleh peneliti David Levy pada 2011 untuk menggambarkan keadaan mental perhatiannya terpecah, fokus yang mudah buyar, dan pikiran yang tak pernah berhenti.
Baca juga: Penyebab Pembuluh Darah Pecah seperti yang Dialami Epy Kusnandar, Hipertensi Paling Bahaya
Gambaran ini disebut mirip dengan biji jagung yang meletup dalam panci panas di mana otak kita berpindah topik dengan cepat. Sulit mempertahankan alur berpikir yang utuh, dan rentan terhadap kelebihan beban informasi.
Dampaknya pun tidak main-main, bisa stres meningkat, rasa lelah mental lebih sering muncul, kecemasan bertambah, hingga kualitas hidup dan hubungan sosial yang ikut terpengaruh. Penyebabnua pun tak jauh dari interaksi kita dengan dunia digital.
Di mana platform media sosial saat ini dirancang untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Misalnya dengan guliran tanpa batas, notifikasi real-time, dan algoritma yang memunculkan konten baru setiap detik.
Baca juga: Tren Salmon Candied Viral, Tapi Ternyata Berbahaya Jika Tak Diolah dengan Benar
Hal ini merangsang dopamin dan membuat otak ‘ketagihan’ rangsangan instan, mirip pola yang terjadi pada kecanduan. Peneliti Gloria Mark juga menyebut bahwa rentang fokus manusia merosot drastis dari rata-rata 2,5 menit pada 2004, kini menjadi hanya 47 detik.
Bahkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 menemukan bahwa internet membuat perubahan semakin sering kita terpapar konten cepat, semakin sulit otak mempertahankan fokus mendalam. Akhirnya para ahli pun menyarankan beberapa langkah untuk mengatasi hal ini, di antaranya:
Kurangi waktu layar dan batasi aplikasi tertentu
Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting
Ciptakan ruang dan waktu bebas teknologi misalnya menjauhkan ponsel selama jam kerja
Lakukan digital detox di akhir pekan untuk menurunkan ketergantungan dopamin
Melakukan hal kecil seperti ini dapat meningkatkan fokus secara signifikan dan mengurangi rasa lelah mental.
Selain langkah di atas, bisa juga dengan menetapkan pola kerja dengan ritme yang jelas. Beri jeda secara teratur untuk membantu otak kembali terbiasa pada fokus jangka panjang.
Bisa juga dengan melakukan hal sederhana seperti mengawali hari dengan membaca, journaling, atau menata meja kerja. Popcorn Brain memang cerminan dari gaya hidup modern.
Teknologi menawarkan kenyamanan, tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan mengontrol diri. Dengan batasan yang tepat, kita bisa kembali mengajarkan otak untuk fokus.
Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “Popcorn Brain”, kondisi ketika pikiran kita terus meletup dan melompat-lompat tanpa henti. Istilah ini disebut oleh peneliti David Levy pada 2011 untuk menggambarkan keadaan mental perhatiannya terpecah, fokus yang mudah buyar, dan pikiran yang tak pernah berhenti.
Baca juga: Penyebab Pembuluh Darah Pecah seperti yang Dialami Epy Kusnandar, Hipertensi Paling Bahaya
Gambaran ini disebut mirip dengan biji jagung yang meletup dalam panci panas di mana otak kita berpindah topik dengan cepat. Sulit mempertahankan alur berpikir yang utuh, dan rentan terhadap kelebihan beban informasi.
Dampaknya pun tidak main-main, bisa stres meningkat, rasa lelah mental lebih sering muncul, kecemasan bertambah, hingga kualitas hidup dan hubungan sosial yang ikut terpengaruh. Penyebabnua pun tak jauh dari interaksi kita dengan dunia digital.
Di mana platform media sosial saat ini dirancang untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Misalnya dengan guliran tanpa batas, notifikasi real-time, dan algoritma yang memunculkan konten baru setiap detik.
Baca juga: Tren Salmon Candied Viral, Tapi Ternyata Berbahaya Jika Tak Diolah dengan Benar
Hal ini merangsang dopamin dan membuat otak ‘ketagihan’ rangsangan instan, mirip pola yang terjadi pada kecanduan. Peneliti Gloria Mark juga menyebut bahwa rentang fokus manusia merosot drastis dari rata-rata 2,5 menit pada 2004, kini menjadi hanya 47 detik.
Bahkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 menemukan bahwa internet membuat perubahan semakin sering kita terpapar konten cepat, semakin sulit otak mempertahankan fokus mendalam. Akhirnya para ahli pun menyarankan beberapa langkah untuk mengatasi hal ini, di antaranya:
1. Buat Batasan dengan Teknologi
Kurangi waktu layar dan batasi aplikasi tertentu
Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting
Ciptakan ruang dan waktu bebas teknologi misalnya menjauhkan ponsel selama jam kerja
Lakukan digital detox di akhir pekan untuk menurunkan ketergantungan dopamin
Melakukan hal kecil seperti ini dapat meningkatkan fokus secara signifikan dan mengurangi rasa lelah mental.
2. Bangun Rutinitas Harian yang Terstruktur
Selain langkah di atas, bisa juga dengan menetapkan pola kerja dengan ritme yang jelas. Beri jeda secara teratur untuk membantu otak kembali terbiasa pada fokus jangka panjang.
Bisa juga dengan melakukan hal sederhana seperti mengawali hari dengan membaca, journaling, atau menata meja kerja. Popcorn Brain memang cerminan dari gaya hidup modern.
Teknologi menawarkan kenyamanan, tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan mengontrol diri. Dengan batasan yang tepat, kita bisa kembali mengajarkan otak untuk fokus.
(nnz)
Lihat Juga :