Buku Resep Sedianya Udah Fery Farhati, Ruang Melestarikan Tradisi dan Cerita Keluarga
Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:37 WIB
loading...
Fery Farhati baru saja memperkenalkan buku resep masakan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fery Farhati baru saja memperkenalkan buku resep masakan. Namun, tidak hanya sekadar daftar menu makanan, tetapi buku berjudul Sedianya Udah ini menjadi ruang untuk melestarikan nilai, tradisi dan cerita keluarga.
Fery yang merupakan Ketua TP PKK DKI Jakarta periode 2017–2022 ini mengatakan dapur memiliki peran penting dalam menjaga memori dan identitas keluarga.
“Dapur lebih dari sekadar tempat memasak, ia adalah ruang untuk melestarikan nilai, tradisi, dan cerita keluarga. Momentum Hari Ibu menjadi pengingat akan peran penting keluarga, khususnya ibu, dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai tersebut. Melalui kampanye seperti #KembaliKeDapur, anak muda diajak kembali memahami dan menghargai makna itu,” ujar Fery dalam diskusi Proyek Ujian Akhir Semester (UAS) Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie dalam kampanye Public Relations bertajuk Kembali ke Dapur di Jakarta.
Fery mengatakan latar dari lahirnya buka Sedianya Udah ini lantaran ada banyak hal-hal yang mungkin terlupakan yang sebetulnya sangat sangat penting dari fungsi keluarga, tempat kembali, tempat seseorang mendapatkan rasa aman dari apa yang dilakukan dalam keseharian
"Dengan adanya interaksi digital, waktu jadi perjalanan hidup dan membuat kita semakin banyak motivasi selama di luar dan rumah menjadi tempat terakhir, tapi waktu sudah enggak ada, bahkan ruang-ruang kita juga sama sampai ke rumah juga tidak memiliki waktu," tuturnya.
"Jangan sampai kita sebagai orang tua terlupakan oleh anak-anak kita. Saya membuat buku ini dengan harapan bisa mendokumentasikan cintanya orang tua kepada anak. Ada resep keluarga di sini dan ini bisa diteruskan turun temurun," ujar dia lagi.
Makanan yang dihadirkan pun mungkin tidak terbayangkan. Ada banyak menu rumahan. Fery mengaku paling suka dengan telur dadar, bukan ayam atau makanan kekinian, termasuk makanan Korea atau Jepang.
"Makanan rumahan, makanan tradisional yang sebetulnya kita semua memakannya.Jadi, sebetulnya apa yang kita makan itu semua sama. Bedanya bagaimana orang tua mempresentasikan kepada kita," katanya.
Menu lainnya, yakni sayur tahu dan tempe goreng. Menurutnya menu itu cukup mudah dibuat, tetapi jika resepnya semakin tergerus, maka menu dengan rasa tradisional ini bisa hilang.
"Kalay tidak ditulis, makanan tradisional bisa hilang dan yang ada makanan Korea Jepang. Jadi, penting juga bagiamana anak muda bisa menyukai makanan tradisional dan itu bisa dimulai dari dapur di rumah," ujar Fery.
Sementara, mahasiswa Universitas Bakrie ikut menggaungkan kampanye Kembali ke Dapur, mengajak generasi muda memaknai kembali dapur sebagai ruang kebersamaan dan pelestarian tradisi keluarga.
Pendampingan juga diberikan oleh praktisi industri. Diah Andrini Dewi selaku Executive Account Director VERO Agency menilai dalam praktik Public Relations, kreativitas perlu berjalan seiring dengan pemahaman yang menyeluruh.
"Kampanye tidak hanya dituntut harus menarik, tetapi juga relevan dengan konteks, memahami target audiens, dan memiliki tujuan yang terukur. Melalui proyek ini, mahasiswa belajar merancang kampanye secara terintegrasi dan berbasis insight, sesuai dengan tuntutan praktik di industri,” ujar Diah.
Fery yang merupakan Ketua TP PKK DKI Jakarta periode 2017–2022 ini mengatakan dapur memiliki peran penting dalam menjaga memori dan identitas keluarga.
“Dapur lebih dari sekadar tempat memasak, ia adalah ruang untuk melestarikan nilai, tradisi, dan cerita keluarga. Momentum Hari Ibu menjadi pengingat akan peran penting keluarga, khususnya ibu, dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai tersebut. Melalui kampanye seperti #KembaliKeDapur, anak muda diajak kembali memahami dan menghargai makna itu,” ujar Fery dalam diskusi Proyek Ujian Akhir Semester (UAS) Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie dalam kampanye Public Relations bertajuk Kembali ke Dapur di Jakarta.
Fery mengatakan latar dari lahirnya buka Sedianya Udah ini lantaran ada banyak hal-hal yang mungkin terlupakan yang sebetulnya sangat sangat penting dari fungsi keluarga, tempat kembali, tempat seseorang mendapatkan rasa aman dari apa yang dilakukan dalam keseharian
"Dengan adanya interaksi digital, waktu jadi perjalanan hidup dan membuat kita semakin banyak motivasi selama di luar dan rumah menjadi tempat terakhir, tapi waktu sudah enggak ada, bahkan ruang-ruang kita juga sama sampai ke rumah juga tidak memiliki waktu," tuturnya.
"Jangan sampai kita sebagai orang tua terlupakan oleh anak-anak kita. Saya membuat buku ini dengan harapan bisa mendokumentasikan cintanya orang tua kepada anak. Ada resep keluarga di sini dan ini bisa diteruskan turun temurun," ujar dia lagi.
Makanan yang dihadirkan pun mungkin tidak terbayangkan. Ada banyak menu rumahan. Fery mengaku paling suka dengan telur dadar, bukan ayam atau makanan kekinian, termasuk makanan Korea atau Jepang.
"Makanan rumahan, makanan tradisional yang sebetulnya kita semua memakannya.Jadi, sebetulnya apa yang kita makan itu semua sama. Bedanya bagaimana orang tua mempresentasikan kepada kita," katanya.
Menu lainnya, yakni sayur tahu dan tempe goreng. Menurutnya menu itu cukup mudah dibuat, tetapi jika resepnya semakin tergerus, maka menu dengan rasa tradisional ini bisa hilang.
"Kalay tidak ditulis, makanan tradisional bisa hilang dan yang ada makanan Korea Jepang. Jadi, penting juga bagiamana anak muda bisa menyukai makanan tradisional dan itu bisa dimulai dari dapur di rumah," ujar Fery.
Sementara, mahasiswa Universitas Bakrie ikut menggaungkan kampanye Kembali ke Dapur, mengajak generasi muda memaknai kembali dapur sebagai ruang kebersamaan dan pelestarian tradisi keluarga.
Pendampingan juga diberikan oleh praktisi industri. Diah Andrini Dewi selaku Executive Account Director VERO Agency menilai dalam praktik Public Relations, kreativitas perlu berjalan seiring dengan pemahaman yang menyeluruh.
"Kampanye tidak hanya dituntut harus menarik, tetapi juga relevan dengan konteks, memahami target audiens, dan memiliki tujuan yang terukur. Melalui proyek ini, mahasiswa belajar merancang kampanye secara terintegrasi dan berbasis insight, sesuai dengan tuntutan praktik di industri,” ujar Diah.
(dra)
Lihat Juga :