Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia
Kamis, 15 Januari 2026 - 21:52 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Upaya eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga hambatan sosial berupa stigma dan diskriminasi.
Tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi orang yang terdampak kusta dan keluarganya.
Dalam konteks tersebut, The Habibie Center menyelenggarakan Media Briefing bertajuk “Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia” yang diselenggarakan di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk semakin memperkuat pemahaman publik, mendorong dialog kebijakan berbasis bukti, serta menegaskan komitmen lintas pemangku kepentingan dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Media briefing ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Mr. Yohei Sasakawa, serta Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA, IPU, ASEAN Eng. Diskusi dipandu oleh Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, M.A.
Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit kusta di Indonesia.
Bisa dikatakan, keterlibatan Mr. Yohei Sasakawa sebagai WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination ini pun turut memperkuat perspektif global dan komitmen bersama dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Melalui Sasakawa Health Foundation (SHF), Sasakawa menekankan penanganan kusta tidak hanya soal pengobatan medis, tetapi juga penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya.
“Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi serta memberikan simpati. Saya berharap kita dapat bersama-sama melakukan pendekatan yang tepat untuk menghilangkan kusta secara menyeluruh,” kata Yohei Sasakawa dalam acara Media Briefing di Wisma Habibie-Ainun, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Sasakawa menyebut Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian serius karena masih termasuk tiga besar negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia. Menurutnya, penyebaran kusta diperparah oleh minimnya edukasi kepada masyarakat, khususnya pemahaman bahwa kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dan tidak mudah menular.
“Sebagaimana kita ketahui, kusta memiliki tanda-tanda medis yang jelas, namun juga menghadapi masalah stigma akibat miskomunikasi yang harus segera diatasi,” ujarnya.
Di kesempatan sama, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyambut baik komitmen Sasakawa. Menkes Budi berharap upaya pemberantasan kusta di Indonesia dapat dilakukan secara lebih komprehensif melalui kolaborasi lintas sektor, terutama dalam hal edukasi publik.
“Kalau ada yang mengisolasi atau membuang saudaranya karena terkena lepra, itu disinformasi. Tidak ada scientific evidence-nya. Bukti ilmiahnya, begitu seseorang terkena bakteri lepra dan minum antibiotik, kurang dari seminggu sudah berhenti menular,” tegas Menkes Budi.
Sementara, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie, mengatakan dalam upaya memberantas kusta di Indonesia, memerlukan pendekatan melalui kebijakan medis seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), sosial, hingga agama.
"Memberantas kusta perlu adanya pendekatan kebijakan medis, sosial, bahkan agama. Dari segi pemerintah, semenjak tahun lalu skrining untuk mengetahui apakah seseorang terkena kusta atau tidak merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Jika mengetahui secara dini apakah kita terkena kusta atau tidak kemungkinan cacatnya kecil," kata Ilham
Ia mengatakan, meskipun sudah diterangkan berkali-kali masih banyak ketidakpercayaan di kalangan masyarakat tentang kusta. Karena mereka punya stigma bahwa kusta merupakan kutukan yang sudah lama dan menjadi bagian dari budaya.
"Jadi biarpun mereka sudah sembuh dari kusta, tapi mereka diam-diam tidak mau diketahui pernah terkena kusta, Jadi selain ada pendekatan dari segi agama misalnya ada fatwa Atau apa Untuk memberikan dorongan Bahwa ini benar-benar sesuatu hal Yang harus kita ketahui Dan ini sesuai dengan berbagai macam ilmu bahkan sama dari agama," ungkap putra pertama dari B.J Habibie tersebut.
Ilham menjelaskan The Habibie Center ikut bagian dalam upaya eliminasi kusta di Indonesia karena kesehatan seperti kusta dan stunting merupakan perhatian terhadap demokrasi. Alhasil, dia menyatakan kesiapan untuk dapat berkolaborasi dengan Sasakawa Health Foundation dan Kementerian Kesehatan dalam memerangi kusta di Indonesia.
“Habibie Center bergerak dalam isu demokrasi, dan demokrasi tidak hanya soal sistem politik. Ada kualitas hidup, kesejahteraan, kesehatan, dan keadilan. Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang tidak terpisahkan dari demokrasi,”ungkap Ilham Habibie.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menyoroti kompleksitas permasalahan kusta di Indonesia, bahwa riset yang kami lakukan dengan tim belum selesai yang dilakukan 4 wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata.
“Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek,” kata Ansori.
Menurut Mohammad Hasan Ansori, berdasarkan observasi yang dilakukan tim riset, tantangan utama meliputi permasalahan sosial dan literasi pengetahuan masyarakat. Banyak individu yang belum memahami secara benar tentang penyakit kusta, bahkan ada yang memiliki pemahaman keliru.
“Seperti di Papua banyak orang yang bergaul dengan penderita kusta tapi tidak tahu namanya. Banyak di wilayah juga tahunya kusta adalah penyakit santet, ilmu hitam, dan sebagainya,” tambahnya, menggambarkan bagaimana mitos dan kepercayaan lokal masih memengaruhi persepsi terhadap kusta.
Adanya masalah stigma ini, masih menjadi hambatan besar bagi penderita kusta. Baik penderita maupun mereka yang sudah sembuh kerap mengalami diskriminasi. Dampaknya beragam, mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan, dikucilkan dari lingkungan sosial, hingga rasa takut untuk kembali berinteraksi dengan masyarakat meskipun kondisi medis mereka telah pulih.
“Selain persoalan diskriminasi, tantangan lainnya yakni dana yang minim dan persoalan obat yang sedikit sementara pasien sangat membutuhkan,” pungkas Ansori, menggarisbawahi keterbatasan sumber daya yang juga menghambat upaya eliminasi kusta.
Tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi orang yang terdampak kusta dan keluarganya.
Dalam konteks tersebut, The Habibie Center menyelenggarakan Media Briefing bertajuk “Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia” yang diselenggarakan di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk semakin memperkuat pemahaman publik, mendorong dialog kebijakan berbasis bukti, serta menegaskan komitmen lintas pemangku kepentingan dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Media briefing ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Mr. Yohei Sasakawa, serta Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA, IPU, ASEAN Eng. Diskusi dipandu oleh Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, M.A.
Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit kusta di Indonesia.
Bisa dikatakan, keterlibatan Mr. Yohei Sasakawa sebagai WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination ini pun turut memperkuat perspektif global dan komitmen bersama dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Melalui Sasakawa Health Foundation (SHF), Sasakawa menekankan penanganan kusta tidak hanya soal pengobatan medis, tetapi juga penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya.
“Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi serta memberikan simpati. Saya berharap kita dapat bersama-sama melakukan pendekatan yang tepat untuk menghilangkan kusta secara menyeluruh,” kata Yohei Sasakawa dalam acara Media Briefing di Wisma Habibie-Ainun, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Sasakawa menyebut Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian serius karena masih termasuk tiga besar negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia. Menurutnya, penyebaran kusta diperparah oleh minimnya edukasi kepada masyarakat, khususnya pemahaman bahwa kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dan tidak mudah menular.
“Sebagaimana kita ketahui, kusta memiliki tanda-tanda medis yang jelas, namun juga menghadapi masalah stigma akibat miskomunikasi yang harus segera diatasi,” ujarnya.
Di kesempatan sama, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyambut baik komitmen Sasakawa. Menkes Budi berharap upaya pemberantasan kusta di Indonesia dapat dilakukan secara lebih komprehensif melalui kolaborasi lintas sektor, terutama dalam hal edukasi publik.
“Kalau ada yang mengisolasi atau membuang saudaranya karena terkena lepra, itu disinformasi. Tidak ada scientific evidence-nya. Bukti ilmiahnya, begitu seseorang terkena bakteri lepra dan minum antibiotik, kurang dari seminggu sudah berhenti menular,” tegas Menkes Budi.
Sementara, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie, mengatakan dalam upaya memberantas kusta di Indonesia, memerlukan pendekatan melalui kebijakan medis seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), sosial, hingga agama.
"Memberantas kusta perlu adanya pendekatan kebijakan medis, sosial, bahkan agama. Dari segi pemerintah, semenjak tahun lalu skrining untuk mengetahui apakah seseorang terkena kusta atau tidak merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Jika mengetahui secara dini apakah kita terkena kusta atau tidak kemungkinan cacatnya kecil," kata Ilham
Ia mengatakan, meskipun sudah diterangkan berkali-kali masih banyak ketidakpercayaan di kalangan masyarakat tentang kusta. Karena mereka punya stigma bahwa kusta merupakan kutukan yang sudah lama dan menjadi bagian dari budaya.
"Jadi biarpun mereka sudah sembuh dari kusta, tapi mereka diam-diam tidak mau diketahui pernah terkena kusta, Jadi selain ada pendekatan dari segi agama misalnya ada fatwa Atau apa Untuk memberikan dorongan Bahwa ini benar-benar sesuatu hal Yang harus kita ketahui Dan ini sesuai dengan berbagai macam ilmu bahkan sama dari agama," ungkap putra pertama dari B.J Habibie tersebut.
Ilham menjelaskan The Habibie Center ikut bagian dalam upaya eliminasi kusta di Indonesia karena kesehatan seperti kusta dan stunting merupakan perhatian terhadap demokrasi. Alhasil, dia menyatakan kesiapan untuk dapat berkolaborasi dengan Sasakawa Health Foundation dan Kementerian Kesehatan dalam memerangi kusta di Indonesia.
“Habibie Center bergerak dalam isu demokrasi, dan demokrasi tidak hanya soal sistem politik. Ada kualitas hidup, kesejahteraan, kesehatan, dan keadilan. Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang tidak terpisahkan dari demokrasi,”ungkap Ilham Habibie.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menyoroti kompleksitas permasalahan kusta di Indonesia, bahwa riset yang kami lakukan dengan tim belum selesai yang dilakukan 4 wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata.
“Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek,” kata Ansori.
Menurut Mohammad Hasan Ansori, berdasarkan observasi yang dilakukan tim riset, tantangan utama meliputi permasalahan sosial dan literasi pengetahuan masyarakat. Banyak individu yang belum memahami secara benar tentang penyakit kusta, bahkan ada yang memiliki pemahaman keliru.
“Seperti di Papua banyak orang yang bergaul dengan penderita kusta tapi tidak tahu namanya. Banyak di wilayah juga tahunya kusta adalah penyakit santet, ilmu hitam, dan sebagainya,” tambahnya, menggambarkan bagaimana mitos dan kepercayaan lokal masih memengaruhi persepsi terhadap kusta.
Adanya masalah stigma ini, masih menjadi hambatan besar bagi penderita kusta. Baik penderita maupun mereka yang sudah sembuh kerap mengalami diskriminasi. Dampaknya beragam, mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan, dikucilkan dari lingkungan sosial, hingga rasa takut untuk kembali berinteraksi dengan masyarakat meskipun kondisi medis mereka telah pulih.
“Selain persoalan diskriminasi, tantangan lainnya yakni dana yang minim dan persoalan obat yang sedikit sementara pasien sangat membutuhkan,” pungkas Ansori, menggarisbawahi keterbatasan sumber daya yang juga menghambat upaya eliminasi kusta.
(unt)
Lihat Juga :