Teknologi Laser EVLA Dinilai Lebih Efisien dan Minim Risiko untuk Terapi Varises
Selasa, 17 Februari 2026 - 15:38 WIB
loading...
Metode terbaru dalam penanganan varises, khususnya melalui teknologi laser EVLA (Endovenous Laser Ablation). Foto/Healthline.
A
A
A
JAKARTA - Klinik Indonesia Vein Center menggelar workshop bertajuk “Efisiensi dan Presisi Penanganan Varises dengan Laser: Solusi Minimal Invasif Masa Kini”. Workshop ini bertujuan mengedukasi tenaga medis, praktisi kesehatan, serta masyarakat umum mengenai metode terbaru dalam penanganan varises, khususnya melalui teknologi laser EVLA (Endovenous Laser Ablation).
Workshop ini membahas secara komprehensif bagaimana perkembangan teknologi medis saat ini memungkinkan penanganan varises dilakukan secara lebih efisien, presisi, dan minim risiko, dibandingkan metode konvensional seperti operasi terbuka.
Melalui metode modern Laser EVLA minimal invasif, pasien kini dapat menjalani tindakan dengan rasa nyeri yang jauh lebih minimal, tanpa rawat inap, serta waktu pemulihan yang lebih cepat.
Baca juga: Waspada Varises, Ancaman Tersembunyi di Balik Kaki Cantik
Kegiatan ini menghadirkan tiga dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular dan endovaskular (BVE) yang telah berpengalaman di bidangnya. Materi pertama disampaikan oleh dr. Harsya Dwindaru Gunardi dengan topik Terapi Konservatif Chronic Venous Insufficiency (CVI).
Dalam paparannya, dr. Harsya menekankan bahwa pemahaman dasar mengenai CVI sangat penting sebelum menentukan jenis terapi lanjutan. “Tidak semua kasus varises harus langsung ditangani dengan tindakan invasif. Terapi konservatif seperti perubahan gaya hidup, penggunaan stoking kompresi, serta edukasi pasien tetap menjadi fondasi utama dalam penanganan CVI,” ujar dr. Harsya.
Varises sendiri merupakan kondisi pelebaran dan kerusakan katup vena yang menyebabkan aliran darah tidak optimal, terutama pada area tungkai. Gejalanya bisa berupa pembengkakan, nyeri, rasa berat di kaki, hingga perubahan warna kulit.
Pada kondisi tertentu, varises juga dapat menimbulkan luka kronis (ulkus) yang sulit sembuh. Untuk itu, Klinik Indonesia Vein Center menekankan pentingnya deteksi dini dan pemilihan metode penanganan yang tepat.
Metode EVLA bekerja dengan memanfaatkan energi laser yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang bermasalah, sehingga menyebabkan vena tersebut menutup secara permanen dan aliran darah dialihkan ke pembuluh yang sehat.
Sementara itu, dr. Charley Simanjuntak memaparkan materi “EVLA in Practice”.Ia membahas secara teknis dan praktis bagaimana prosedur EVLA dilakukan di lapangan, mulai dari tahapan persiapan pasien, proses tindakan, hingga evaluasi pasca tindakan.
“EVLA merupakan terobosan besar dalam dunia bedah vaskular. Dengan bantuan laser, kita dapat menutup pembuluh darah yang bermasalah tanpa sayatan besar, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dalam waktu yang relatif singkat,” jelas dr. Charley.
Ternyata metode EVLA lebih unggul dibandingkan metode konvensional antara lain, Minimal invasif, tanpa sayatan besar, nyeri minimal dan tidak memerlukan pembiusan total, waktu tindakan singkat, rata-rata 30–60 menit, pasien dapat langsung beraktivitas ringan setelah tindakan tanpa perlu rawat inap, dan risiko komplikasi lebih rendah serta hasil yang lebih presisi.
Dalam paparannya, dr. Yuliardy Limengka yang juga merupakan owner Klinik Indonesia Vein Center, membahas topik Tips & Trik penggunaan EVLA.
Iamembagikan pengalaman klinis, strategi pemilihan pasien yang tepat, serta teknik khusus agar hasil EVLA lebih optimal. “Kunci keberhasilan EVLA tidak hanya terletak pada alat, tetapi juga pada ketepatan diagnosis dan keterampilan operator.Dengan teknik yang tepat, EVLA dapat menjadi solusi jangka panjang bagi pasien varises tanpa rasa takut terhadap operasi besar,” ungkap dr. Yuliardy.
Klinik Indonesia Vein Center sendiri dikenal sebagai klinik yang fokus pada diagnosis dan penanganan penyakit pembuluh darah, terutama varises, dengan dukungan teknologi medis terkini dan tim dokter berpengalaman. Klinik ini telah menangani ribuan kasus varises dari berbagai latar belakang pasien, mulai dari usia produktif hingga lansia.
Melalui workshop ini, Klinik Indonesia Vein Center berharap dapat meningkatkan awareness masyarakat bahwa varises adalah kondisi medis yang dapat dan perlu ditangani secara profesional, bukan sekadar masalah kosmetik. Edukasi ini juga diharapkan mampu mengubah stigma bahwa tindakan varises selalu identik dengan operasi besar dan masa pemulihan yang lama.
“Dengan pendekatan minimal invasif, kami ingin mengedukasi bahwa pasien tidak perlu lagi takut menjalani tindakan varises. Teknologi saat ini memungkinkan hasil yang optimal dengan proses yang jauh lebih nyaman,” tambah dr. Yuliardy.
Workshop ini menjadi bagian dari salah satu upaya berkelanjutan Klinik Indonesia Vein Center dalam mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan vaskular di Indonesia. Varises masih sering dianggap sebagai masalah estetika semata, padahal dalam banyak kasus dapat berkembang menjadi kondisi medis serius seperti nyeri kronis, luka sulit sembuh, hingga trombosis (penyumbatan aliran darah).
Melalui workshop ini, Klinik Indonesia Vein Center berharap dapat menjadi pusat rujukan edukasi sekaligus praktik terbaik dalam penanganan varises berbasis teknologi modern. EVLA diharapkan dapat semakin dikenal sebagai solusi minimal invasif yang efektif, aman, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien.
Sebagai bentuk kolaborasi strategis, kegiatan workshop ini didukung penuh oleh Indomed dan bekerja sama dengan GE Healthcare, MGS, Servier, serta Ardium. Dukungan dari berbagai mitra industri kesehatan ini menjadi bukti nyata pentingnya sinergi antara tenaga medis, institusi layanan kesehatan, dan penyedia teknologi dalam menghadirkan solusi medis yang lebih efektif dan berstandar internasional.
Pun, sekaligus menjadi momentum penting dalam memperkenalkan alat terbaru Laser Endoteq dari Jerman, sebuah perangkat laser generasi terkini yang dirancang khusus untuk menunjang prosedur medis lebih presisi, aman, dan tingkat efisiensi tinggi.
Kehadiran teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan varises di Indonesia, sekaligus membuka akses terhadap standar terapi yang selama ini banyak digunakan di pusat-pusat kesehatan Eropa.
Workshop ini membahas secara komprehensif bagaimana perkembangan teknologi medis saat ini memungkinkan penanganan varises dilakukan secara lebih efisien, presisi, dan minim risiko, dibandingkan metode konvensional seperti operasi terbuka.
Melalui metode modern Laser EVLA minimal invasif, pasien kini dapat menjalani tindakan dengan rasa nyeri yang jauh lebih minimal, tanpa rawat inap, serta waktu pemulihan yang lebih cepat.
Baca juga: Waspada Varises, Ancaman Tersembunyi di Balik Kaki Cantik
Kegiatan ini menghadirkan tiga dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular dan endovaskular (BVE) yang telah berpengalaman di bidangnya. Materi pertama disampaikan oleh dr. Harsya Dwindaru Gunardi dengan topik Terapi Konservatif Chronic Venous Insufficiency (CVI).
Dalam paparannya, dr. Harsya menekankan bahwa pemahaman dasar mengenai CVI sangat penting sebelum menentukan jenis terapi lanjutan. “Tidak semua kasus varises harus langsung ditangani dengan tindakan invasif. Terapi konservatif seperti perubahan gaya hidup, penggunaan stoking kompresi, serta edukasi pasien tetap menjadi fondasi utama dalam penanganan CVI,” ujar dr. Harsya.
Varises sendiri merupakan kondisi pelebaran dan kerusakan katup vena yang menyebabkan aliran darah tidak optimal, terutama pada area tungkai. Gejalanya bisa berupa pembengkakan, nyeri, rasa berat di kaki, hingga perubahan warna kulit.
Pada kondisi tertentu, varises juga dapat menimbulkan luka kronis (ulkus) yang sulit sembuh. Untuk itu, Klinik Indonesia Vein Center menekankan pentingnya deteksi dini dan pemilihan metode penanganan yang tepat.
Metode EVLA bekerja dengan memanfaatkan energi laser yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang bermasalah, sehingga menyebabkan vena tersebut menutup secara permanen dan aliran darah dialihkan ke pembuluh yang sehat.
Sementara itu, dr. Charley Simanjuntak memaparkan materi “EVLA in Practice”.Ia membahas secara teknis dan praktis bagaimana prosedur EVLA dilakukan di lapangan, mulai dari tahapan persiapan pasien, proses tindakan, hingga evaluasi pasca tindakan.
“EVLA merupakan terobosan besar dalam dunia bedah vaskular. Dengan bantuan laser, kita dapat menutup pembuluh darah yang bermasalah tanpa sayatan besar, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dalam waktu yang relatif singkat,” jelas dr. Charley.
Ternyata metode EVLA lebih unggul dibandingkan metode konvensional antara lain, Minimal invasif, tanpa sayatan besar, nyeri minimal dan tidak memerlukan pembiusan total, waktu tindakan singkat, rata-rata 30–60 menit, pasien dapat langsung beraktivitas ringan setelah tindakan tanpa perlu rawat inap, dan risiko komplikasi lebih rendah serta hasil yang lebih presisi.
Dalam paparannya, dr. Yuliardy Limengka yang juga merupakan owner Klinik Indonesia Vein Center, membahas topik Tips & Trik penggunaan EVLA.
Iamembagikan pengalaman klinis, strategi pemilihan pasien yang tepat, serta teknik khusus agar hasil EVLA lebih optimal. “Kunci keberhasilan EVLA tidak hanya terletak pada alat, tetapi juga pada ketepatan diagnosis dan keterampilan operator.Dengan teknik yang tepat, EVLA dapat menjadi solusi jangka panjang bagi pasien varises tanpa rasa takut terhadap operasi besar,” ungkap dr. Yuliardy.
Klinik Indonesia Vein Center sendiri dikenal sebagai klinik yang fokus pada diagnosis dan penanganan penyakit pembuluh darah, terutama varises, dengan dukungan teknologi medis terkini dan tim dokter berpengalaman. Klinik ini telah menangani ribuan kasus varises dari berbagai latar belakang pasien, mulai dari usia produktif hingga lansia.
Melalui workshop ini, Klinik Indonesia Vein Center berharap dapat meningkatkan awareness masyarakat bahwa varises adalah kondisi medis yang dapat dan perlu ditangani secara profesional, bukan sekadar masalah kosmetik. Edukasi ini juga diharapkan mampu mengubah stigma bahwa tindakan varises selalu identik dengan operasi besar dan masa pemulihan yang lama.
“Dengan pendekatan minimal invasif, kami ingin mengedukasi bahwa pasien tidak perlu lagi takut menjalani tindakan varises. Teknologi saat ini memungkinkan hasil yang optimal dengan proses yang jauh lebih nyaman,” tambah dr. Yuliardy.
Workshop ini menjadi bagian dari salah satu upaya berkelanjutan Klinik Indonesia Vein Center dalam mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan vaskular di Indonesia. Varises masih sering dianggap sebagai masalah estetika semata, padahal dalam banyak kasus dapat berkembang menjadi kondisi medis serius seperti nyeri kronis, luka sulit sembuh, hingga trombosis (penyumbatan aliran darah).
Melalui workshop ini, Klinik Indonesia Vein Center berharap dapat menjadi pusat rujukan edukasi sekaligus praktik terbaik dalam penanganan varises berbasis teknologi modern. EVLA diharapkan dapat semakin dikenal sebagai solusi minimal invasif yang efektif, aman, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien.
Sebagai bentuk kolaborasi strategis, kegiatan workshop ini didukung penuh oleh Indomed dan bekerja sama dengan GE Healthcare, MGS, Servier, serta Ardium. Dukungan dari berbagai mitra industri kesehatan ini menjadi bukti nyata pentingnya sinergi antara tenaga medis, institusi layanan kesehatan, dan penyedia teknologi dalam menghadirkan solusi medis yang lebih efektif dan berstandar internasional.
Pun, sekaligus menjadi momentum penting dalam memperkenalkan alat terbaru Laser Endoteq dari Jerman, sebuah perangkat laser generasi terkini yang dirancang khusus untuk menunjang prosedur medis lebih presisi, aman, dan tingkat efisiensi tinggi.
Kehadiran teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan varises di Indonesia, sekaligus membuka akses terhadap standar terapi yang selama ini banyak digunakan di pusat-pusat kesehatan Eropa.
(nnz)
Lihat Juga :