Bayer dan YKI Wadahi Masyarakat untuk Laporkan Efek Samping Obat
Minggu, 20 September 2020 - 13:11 WIB
loading...
A
A
A
"Namun, sangatlah penting juga bagi pasien kanker untuk segera melaporkan kepada dokter jika terjadi efek samping setelah menggunakan obat tertentu, agar dokter dapat memberikan advis terhadap perawatan medis tertentu atau mengubah obat apabila harus menjalani perawatan lain. Dengan begitu terlihat bahwa konsep "Patient Safety" perlu dipegang oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pengobatan," urai dr. Aru.
Dalam upaya ini, pasien diajak untuk memahami dan mengelola efek samping obat yang secara umum dapat terjadi pada pasien kanker seperti mual, pusing, bibir pecah, ataupun kelelahan. Untuk itu pasien sebaiknya memahami pengobatan yang dijalankan, berikut dengan efek samping yang bisa atau mungkin terjadi, serta melakukan perubahan gaya hidup dan pola makan yang sesuai untuk meminimalisir efek samping pengobatan bila memungkinkan.
SafeTrack merupakan salah satu bukti komitmen Bayer yang memperioritaskan keselamatan dan keamanan pasien pengguna produk Bayer. Platform ini dirancang khusus agar dapat dipergunakan secara sederhana oleh pasien atau keluarganya.
“Tim Farmakovigilans Bayer terus berupaya mengumpulkan data, menganalisis, dan mempelajari pola efek samping obat-obatan. Setelah melakukan penilaian, barulah diputuskan tindakan seperti apa yang harus diambil, seperti meminimalkan efek samping jika memang memungkinkan. Baik pasien, keluarga pasien maupun perawat/caregiver diimbau untuk sadar akan pentingnya pelaporan efek samping sehingga kami dapat terus melakukan evaluasi terhadap proses pengobatan pasien,” tutur dr. Dewi Muliatin Santoso, Head of Medical Dept. Divisi Pharmaceuticals Bayer Indonesia . (Baca Juga: Dampak Pandemi, 83% Tenaga Kesehatan di Indonesia Alami Burnout Syndrome )
Bayer berkomitmen pada kepatuhan pengawasan keamanan obat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk komitmen serta upaya yang telah dilakukan, Bayer Indonesia telah mendapatkan penghargaan Pharmacovigilance dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) pada 2018.
Dalam upaya ini, pasien diajak untuk memahami dan mengelola efek samping obat yang secara umum dapat terjadi pada pasien kanker seperti mual, pusing, bibir pecah, ataupun kelelahan. Untuk itu pasien sebaiknya memahami pengobatan yang dijalankan, berikut dengan efek samping yang bisa atau mungkin terjadi, serta melakukan perubahan gaya hidup dan pola makan yang sesuai untuk meminimalisir efek samping pengobatan bila memungkinkan.
SafeTrack merupakan salah satu bukti komitmen Bayer yang memperioritaskan keselamatan dan keamanan pasien pengguna produk Bayer. Platform ini dirancang khusus agar dapat dipergunakan secara sederhana oleh pasien atau keluarganya.
“Tim Farmakovigilans Bayer terus berupaya mengumpulkan data, menganalisis, dan mempelajari pola efek samping obat-obatan. Setelah melakukan penilaian, barulah diputuskan tindakan seperti apa yang harus diambil, seperti meminimalkan efek samping jika memang memungkinkan. Baik pasien, keluarga pasien maupun perawat/caregiver diimbau untuk sadar akan pentingnya pelaporan efek samping sehingga kami dapat terus melakukan evaluasi terhadap proses pengobatan pasien,” tutur dr. Dewi Muliatin Santoso, Head of Medical Dept. Divisi Pharmaceuticals Bayer Indonesia . (Baca Juga: Dampak Pandemi, 83% Tenaga Kesehatan di Indonesia Alami Burnout Syndrome )
Bayer berkomitmen pada kepatuhan pengawasan keamanan obat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk komitmen serta upaya yang telah dilakukan, Bayer Indonesia telah mendapatkan penghargaan Pharmacovigilance dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) pada 2018.
(tsa)
Lihat Juga :