Transformasi OMAI DLBS dari Bahan Alam ke Obat Modern
Senin, 26 Januari 2026 - 08:44 WIB
loading...
Setiap pekerjaan memiliki tantangan. Demikian juga yang terjadi pada saintis di bidang farmasi. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Setiap pekerjaan memiliki tantangan. Demikian juga yang terjadi pada saintis di bidang farmasi. Di dalam benak mereka, selalu ada pertanyaan mendasar: bagaimana membuat obat yang benar-benar berguna bagi pasien? Di Indonesia, tantangan itu berlapis, bukan hanya soal efektivitas, tetapi juga bagaimana memanfaatkan biodiversitas agar tidak berhenti sebagai ramuan tradisional, melainkan bertransformasi menjadi obat modern yang diakui secara ilmiah dan berkualitas.
Di titik inilah Obat Modern Alami Integratif (OMAI) menemukan relevansinya: menjembatani pengetahuan tradisional dengan riset sains mutakhir.
Dari Jamu Tradisional ke Obat Modern Berbasis Sains
Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah. Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah. Titik balik terjadi pada 2005, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menerbitkan sertifikat fitofarmaka bagi produk herbal yang lolos uji klinis. Salah satunya adalah Stimuno dari Dexa Medica, yang menandai lahirnya era Obat Modern Alami Integratif (OMAI).
Stimuno berangkat dari meniran (Phyllanthus niruri L.), tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis, mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO. Pengetahuan turun-temurun ini kemudian menjadi fondasi riset modern melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik. Dari proses inilah lahir Stimuno sebagai imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mewakili lompatan besar OMAI, ketika tradisi dipertemukan dengan sains modern.
OMAI dan Riset Molekuler
Di balik lahirnya obat-obat berbasis bahan alam seperti Inlacin, Redacid, Herbakof, dan Disolf, serta Stimuno terdapat perjalanan riset yang sarat tantangan ilmiah dan ketekunan. Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di titik inilah Obat Modern Alami Integratif (OMAI) menemukan relevansinya: menjembatani pengetahuan tradisional dengan riset sains mutakhir.
Dari Jamu Tradisional ke Obat Modern Berbasis Sains
Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah. Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah. Titik balik terjadi pada 2005, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menerbitkan sertifikat fitofarmaka bagi produk herbal yang lolos uji klinis. Salah satunya adalah Stimuno dari Dexa Medica, yang menandai lahirnya era Obat Modern Alami Integratif (OMAI).
Stimuno berangkat dari meniran (Phyllanthus niruri L.), tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis, mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO. Pengetahuan turun-temurun ini kemudian menjadi fondasi riset modern melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik. Dari proses inilah lahir Stimuno sebagai imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mewakili lompatan besar OMAI, ketika tradisi dipertemukan dengan sains modern.
OMAI dan Riset Molekuler
Di balik lahirnya obat-obat berbasis bahan alam seperti Inlacin, Redacid, Herbakof, dan Disolf, serta Stimuno terdapat perjalanan riset yang sarat tantangan ilmiah dan ketekunan. Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Lihat Juga :