Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua
Kamis, 25 Juni 2026 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Riverside Suite dan Jendela Menuju Batavia Lama
Kamar kami berada di lantai empat. Tipenya adalah Riverside Suite. Ini merupakan satu dari tiga Riverside Suite yang tersedia di House of Tugu. Koridor pada setiap tingkat memiliki karakter berbeda. ”Di sini tidak ada lantai yang didesain sama,” ungkap Amanda saat mengantar kami menuju kamar.
Tarif Riverside Suite mencapai Rp16 juta per malam. Pintunya menggunakan smart door lock berbasis kata sandi. Begitu masuk, sebuah meja panjang menyambut di seberang pintu. Di atasnya terdapat kartu pos bergambar lukisan pohon kopi karya C. Perieri tahun 1941. Kartu itu dilengkapi prangko Presiden Soekarno serta pesan selamat datang yang sangat personal.
Dinding hijau mendominasi ruangan. Plafon putih dihiasi ukiran klasik. Luas kamar mencapai 86 meter persegi. Sebuah lemari kayu jati hitam berdiri dekat kamar mandi. Di dalamnya tersedia bathrobe dan sandal batik bermotif senada, brankas, serta laundry bag. Sementara itu, kamar mandi yang berdinding marmer dilengkapi bangku khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Bagian paling menarik berada di balkon pribadi. Dua kursi empuk menghadap Kali Besar dan kawasan Kota Tua. Dari balik rimbun dedaunan terlihat kanal bersejarah yang dahulu menjadi nadi perdagangan Batavia. Pada masa lampau, kapal-kapal kecil membawa komoditas menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa bangunan kolonial masih berdiri di seberang jalan. "Dulu kanal ini jauh lebih lebar dan airnya bersih," ujar Amanda.
Kini sebagian bangunan kolonial itu menjadi kantor Jasa Raharja. Sebagian lain berubah fungsi menjadi toko cendera mata dan bangunan komersial. Namun bentuk arsitekturnya masih mengingatkan pada masa kejayaan Batavia.
Kamar dengan ranjang super king ini dilengkapi televisi 85 inci, tablet digital untuk berkomunikasi dengan resepsionis selama 24 jam, serta menu layanan kamar yang bisa diakses langsung. Penunjuk kiblat tersimpan di laci. Fasilitas ini menunjukkan hotel ini ramah Muslim.
Meja di living room area berhiaskan towel art berbentuk kelinci, gajah, dan burung. Buah jeruk, jambu, serta salak disiapkan sebagai pelengkap. Kopi spesial Kawisari dan aneka teh tersedia di meja.
Rahasia Forbidden House of Batavia
Usai salat Asar, perjalanan sejarah dimulai dari lobi. Berbagai artefak di area ini menceritakan kehidupan Kali Besar berabad-abad lalu. Salah satu yang paling menarik adalah plang kuno dari kayu bertuliskan Hoofdkantoor Bataviase Kong Koan De Groote Rivier West Batavia. "Itu kantor pusat Dewan Tionghoa Batavia," jelas Amanda. Ukiran Jawa dan Tionghoa menghiasi bagian bawah papan nama.
Plang tersebut berasal dari kawasan Jalan Tiang Bendera. Lokasinya hanya sekitar sepuluh menit dari hotel. Bangunan aslinya kini sudah tidak ada. Namun artefaknya menjadi pengingat hubungan erat komunitas Tionghoa dan perdagangan Batavia.
Tak jauh dari sana terdapat kisah Forbidden House of Batavia. Amanda menjelaskan, rumah tersebut dibangun imigran dari China, Wang Hao Kwa, pada awal 1600-an. Luas lahannya mencapai lima hektare atau sekitar 50.000 meter persegi. Kawasan itu sangat eksklusif sehingga hanya tamu tertentu yang boleh masuk. "Pemilik rumah ini terkenal sangat tertutup," ujarnya.
Kamar kami berada di lantai empat. Tipenya adalah Riverside Suite. Ini merupakan satu dari tiga Riverside Suite yang tersedia di House of Tugu. Koridor pada setiap tingkat memiliki karakter berbeda. ”Di sini tidak ada lantai yang didesain sama,” ungkap Amanda saat mengantar kami menuju kamar.
Tarif Riverside Suite mencapai Rp16 juta per malam. Pintunya menggunakan smart door lock berbasis kata sandi. Begitu masuk, sebuah meja panjang menyambut di seberang pintu. Di atasnya terdapat kartu pos bergambar lukisan pohon kopi karya C. Perieri tahun 1941. Kartu itu dilengkapi prangko Presiden Soekarno serta pesan selamat datang yang sangat personal.
Dinding hijau mendominasi ruangan. Plafon putih dihiasi ukiran klasik. Luas kamar mencapai 86 meter persegi. Sebuah lemari kayu jati hitam berdiri dekat kamar mandi. Di dalamnya tersedia bathrobe dan sandal batik bermotif senada, brankas, serta laundry bag. Sementara itu, kamar mandi yang berdinding marmer dilengkapi bangku khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Bagian paling menarik berada di balkon pribadi. Dua kursi empuk menghadap Kali Besar dan kawasan Kota Tua. Dari balik rimbun dedaunan terlihat kanal bersejarah yang dahulu menjadi nadi perdagangan Batavia. Pada masa lampau, kapal-kapal kecil membawa komoditas menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa bangunan kolonial masih berdiri di seberang jalan. "Dulu kanal ini jauh lebih lebar dan airnya bersih," ujar Amanda.
Kini sebagian bangunan kolonial itu menjadi kantor Jasa Raharja. Sebagian lain berubah fungsi menjadi toko cendera mata dan bangunan komersial. Namun bentuk arsitekturnya masih mengingatkan pada masa kejayaan Batavia.
Kamar dengan ranjang super king ini dilengkapi televisi 85 inci, tablet digital untuk berkomunikasi dengan resepsionis selama 24 jam, serta menu layanan kamar yang bisa diakses langsung. Penunjuk kiblat tersimpan di laci. Fasilitas ini menunjukkan hotel ini ramah Muslim.
Meja di living room area berhiaskan towel art berbentuk kelinci, gajah, dan burung. Buah jeruk, jambu, serta salak disiapkan sebagai pelengkap. Kopi spesial Kawisari dan aneka teh tersedia di meja.
Rahasia Forbidden House of Batavia
Usai salat Asar, perjalanan sejarah dimulai dari lobi. Berbagai artefak di area ini menceritakan kehidupan Kali Besar berabad-abad lalu. Salah satu yang paling menarik adalah plang kuno dari kayu bertuliskan Hoofdkantoor Bataviase Kong Koan De Groote Rivier West Batavia. "Itu kantor pusat Dewan Tionghoa Batavia," jelas Amanda. Ukiran Jawa dan Tionghoa menghiasi bagian bawah papan nama.
Plang tersebut berasal dari kawasan Jalan Tiang Bendera. Lokasinya hanya sekitar sepuluh menit dari hotel. Bangunan aslinya kini sudah tidak ada. Namun artefaknya menjadi pengingat hubungan erat komunitas Tionghoa dan perdagangan Batavia.
Tak jauh dari sana terdapat kisah Forbidden House of Batavia. Amanda menjelaskan, rumah tersebut dibangun imigran dari China, Wang Hao Kwa, pada awal 1600-an. Luas lahannya mencapai lima hektare atau sekitar 50.000 meter persegi. Kawasan itu sangat eksklusif sehingga hanya tamu tertentu yang boleh masuk. "Pemilik rumah ini terkenal sangat tertutup," ujarnya.
Lihat Juga :