Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
Selasa, 30 Juni 2026 - 21:50 WIB
loading...
A
A
A

Salah satu kereta antik di House of Tugu.
Usai sarapan, perjalanan berlanjut menuju area gym di lantai tiga. Kami melintasi Blue Moon Hall di lantai dua. Lampu-lampu biru ukuran besar berbentuk bulan setengah menggantung dari atas. Ruangan multifungsi ini memiliki teras yang menghadap jalan raya dan Sungai Kali Besar. "Blue Moon Hall sering dipakai acara eksklusif," ujar Amanda.
Di area tersebut terdapat tiga kereta tua yang masih menjalani proses restorasi. Salah satunya menyerupai lokomotif penarik. Tulisan Railway Station Old Town Jakarta terpampang pada kaca pintu Blue Moon Hall. Foto-foto lokomotif bersejarah juga dipajang di sana. Pada badan bagian luar salah satu gerbong terdapat kutipan kenangan Anhar tentang stasiun tua dan Kali Besar pada 1960-an:
“Stasiun tua tampak sama persis dengan saat saya turun dari kereta dan menjemput kekasih saya. Kami melangkah perlahan keluar stasiun dan berbelok ke kanan ke rumah kakek saya di Jalan Kalibesar, melintasi banyak perahu dan kapal kecil di sungai - Memori Kalibesar 1960.”
Ke depan, kompleks ini juga akan memiliki The Huang Museum. Museum budaya Peranakan tersebut dijadwalkan dibuka pada 2026 ini. Ribuan artefak koleksi keluarga Tugu, berbagai karya seni, porselen, tekstil, dan benda bersejarah akan dipamerkan kepada publik. Sebagian koleksi bahkan belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
Relaksasi ala Nusantara hingga Banya Rusia
Sebelum meninggalkan House of Tugu, perjalanan ditutup dengan mengunjungi Solek Spa. Tempat relaksasi tersebut menawarkan berbagai perawatan berbasis tradisi Indonesia.

Solek Spa menawarkan berbagai perawatan berbasis tradisi Indonesia.
Tersedia Signature Welcome Massage selama 40 menit bagi tamu yang menginap. Selain itu terdapat jacuzzi terbuka di area rooftop. Pengunjung juga dapat mencoba ice bath, sauna, hingga Russian Banya. Amanda menjelaskan, Russian Banya menggunakan uap bercampur eucalyptus. Setelah tubuh terpapar panas, pengunjung dapat langsung masuk ke kolam rendam dingin. "Konsepnya memulihkan tubuh secara menyeluruh," katanya.
Program yoga dan kelas jamu tradisional juga menjadi bagian pengalaman yang ditawarkan. Dengan demikian, perjalanan di sini tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan kuliner, tetapi juga wellness.
Lorong Waktu yang Membawa Jakarta ke Panggung Dunia
Menjelang tengah hari, waktu check-out akhirnya tiba. Dari balkon kamar di Riverside Suite lantai 4, Sungai Kali Besar kembali terlihat membelah Kota Tua. Bangunan-bangunan kolonial masih berdiri di kedua sisinya. Sebagian telah berganti fungsi, namun kisahnya belum benar-benar hilang.
Amanda mengatakan, tingkat okupansi hotel stabil di atas 50 persen. Mayoritas tamu berasal dari Eropa, Australia, dan China. Setelah itu menyusul wisatawan Indonesia, India, serta berbagai negara lain. "Pasar internasional kami sangat kuat," ujarnya.
Pengakuan dari TIME Magazine menjadi bukti bahwa cerita-cerita lama masih memiliki tempat di dunia modern. Di sini, tamu tidak hanya memesan kamar. Mereka membeli kesempatan untuk berjalan menembus lima abad sejarah Jakarta.
Kami pun meninggalkan kawasan Kota Tua setelah menuntaskan petualangan lintas zaman mengasyikan dalam satu akhir pekan. Perjalanan yang terasa jauh lebih panjang daripada dua hari satu malam. (Tamat)
(wur)
Lihat Juga :