Karya Seni Pinggir Jalan yang Viral: Ketika Spanduk Pecel Lele Lamongan Curi Perhatian Gen Z di TikTok
Selasa, 14 Juli 2026 - 12:33 WIB
loading...
Fajar, Tiktoker viral yang membagikan proses rumit pembuatan spanduk pecel lele Lamongan.
A
A
A
Spanduk toko Pecel Lele Lamongan telah menjadi salah satu simbol visual yang terlihat di jalanan Indonesia pada malam hari selama berpuluh-puluh tahun. Spanduk itu menggunakan warna-warna yang terang, menampilkan gambar ayam goreng dan ikan lele yang besar, serta tulisan yang mudah dibaca.Selain digunakan untuk mempromosikan, spanduk tersebut juga membentuk bagian dari identitas makanan khas Nusantara.
Sekarang, spanduk khusus tersebut kembali jadi perhatian masyarakat setelah akun TikTok @fajar.spanduk terus membagikan cara membuat spanduk secara manual. Video-video yang menunjukkan proses sapuan kuas, kombinasi warna yang cerah, hingga penyelesaian detail gambar berhasil menarik perhatian ribuan pengguna media sosial, sehingga seni lukis jalanan itu bisa dikenal oleh generasi muda.
Fenomena itu menunjukkan bahwa karya-karya yang dulu dianggap biasa di pinggir jalan justru memiliki nilai seni dan daya tarik visual yang besar ketika diberi bentuk dalam konten digital.
Akun TikTok @fajar.spanduk mengungkapkan keinginannya untuk menjelaskan cara membuat spanduk Lamongan kepada banyak orang. Menurutnya, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya saja, tanpa tahu bahwa ada proses panjang yang harus dilalui hingga spanduk itu siap dipasang di depan warung makan.
Banyak orang menganggap spanduk Lamongan hanya sebuah lukisan biasa. Padahal, setiap garis, warna, dan tulisan dirancang dengan perhitungan agar tampil jelas dari jarak jauh, terutama pada malam hari," kata Fajar.
Konten yang diunggah oleh Fajar tidak hanya menampilkan hasil akhir dari spanduk tersebut, tetapi juga menunjukkan seluruh proses kreatifnya, mulai dari menggambar sketsa awal, mengisi warna dasar, membuat ilustrasi makanan, hingga menambahkan tulisan khas yang menjadi ciri khas warung Lamongan.
Video-video tersebut mendapat respons positif dari warganet. Banyak orang yang menggunakan TikTok mengatakan mereka merasa senang atau puas saat melihat proses menyapu kuas yang membuat warna-warna terang muncul perlahan. Banyak orang baru sadar bahwa semua gambar pada spanduk Lamongan dibuat dengan tangan secara manual, bukan dicetak dengan mesin.
Menurut Fajar, proses kreatif menjadi hal yang menarik karena bisa menunjukkan kemampuan yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Saya ingin orang tahu bahwa membuat spanduk ini membutuhkan perhatian detail, pengalaman, dan kesabaran. "Bukan hanya mengilapkan kain, tetapi membentuk identitas sebuah usaha," ujarnya.
Selain menyenangkan, konten tersebut juga menjelaskan tentang filosofi desain spanduk Lamongan. Warna kuning terang, hijau stabilo, merah terang, hingga hitam pekat dipilih bukan tanpa alasan. Semua warna tersebut dibuat agar bisa memantulkan cahaya dari lampu toko dan tetap terlihat jelas oleh orang yang lewat di malam hari.
Ilustrasi ayam goreng, ikan lele, dan bebek juga dibuat dalam ukuran besar dengan detail yang membuatnya terlihat lezat. Tujuan utamanya adalah agar pembeli tertarik dan mendapat kesan bahwa makanan yang dijual enak dan lezat.
Fajar menjelaskan bahwa para pelukis spanduk tradisional sudah mengerti konsep itu jauh sebelum istilah desain komunikasi visual populer di kalangan masyarakat.
"Kami belajar dari pengalaman. Warna harus mencolok, gambar harus menarik, dan teks harus mudah dibaca dalam beberapa detik. "Semua itu penting agar orang yang lewat langsung tertarik untuk mampir," katanya.
Di tengah perkembangan teknologi cetak digital yang semakin cepat, pekerjaan para pelukis spanduk manual tetap menghadapi berbagai kesulitan. Banner yang dicetak sekarang bisa diproduksi lebih cepat dan harganya lebih terjangkau. Meski begitu, banyak pedagang masih memilih spanduk lukis karena dianggap memiliki tampilan visual yang lebih menonjol.
Menurut Fajar, karya lukis tangan memiliki nilai yang tidak bisa dicapai oleh mesin cetak.
"Spanduk manual punya karakter tersendiri. Setiap kali menggambar dengan kuas, hasilnya selalu berbeda, jadi tidak ada dua spanduk yang benar-benar identik. Itu yang membuatnya terasa hidup," ujarnya.
Melalui akun TikTok @fajar.spanduk, seni menghiasi spanduk khas Lamongan kini tidak hanya digunakan sebagai media iklan warung makan saja. Konten tersebut berhasil mengubah cara masyarakat melihat karya para pelukis tradisional sebagai bagian dari warisan budaya visual Indonesia yang layak dihargai.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu membawa tren yang hanya berlangsung singkat. Dengan kreator yang tepat, platform digital justru bisa menjadi tempat untuk mengenalkan kembali karya-karya lokal kepada generasi muda sekaligus memastikan tradisi seni lukis spanduk Lamongan tetap hidup meski di tengah arus modernisasi yang cepat.
Sekarang, spanduk khusus tersebut kembali jadi perhatian masyarakat setelah akun TikTok @fajar.spanduk terus membagikan cara membuat spanduk secara manual. Video-video yang menunjukkan proses sapuan kuas, kombinasi warna yang cerah, hingga penyelesaian detail gambar berhasil menarik perhatian ribuan pengguna media sosial, sehingga seni lukis jalanan itu bisa dikenal oleh generasi muda.
Fenomena itu menunjukkan bahwa karya-karya yang dulu dianggap biasa di pinggir jalan justru memiliki nilai seni dan daya tarik visual yang besar ketika diberi bentuk dalam konten digital.
Akun TikTok @fajar.spanduk mengungkapkan keinginannya untuk menjelaskan cara membuat spanduk Lamongan kepada banyak orang. Menurutnya, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya saja, tanpa tahu bahwa ada proses panjang yang harus dilalui hingga spanduk itu siap dipasang di depan warung makan.
Banyak orang menganggap spanduk Lamongan hanya sebuah lukisan biasa. Padahal, setiap garis, warna, dan tulisan dirancang dengan perhitungan agar tampil jelas dari jarak jauh, terutama pada malam hari," kata Fajar.
Konten yang diunggah oleh Fajar tidak hanya menampilkan hasil akhir dari spanduk tersebut, tetapi juga menunjukkan seluruh proses kreatifnya, mulai dari menggambar sketsa awal, mengisi warna dasar, membuat ilustrasi makanan, hingga menambahkan tulisan khas yang menjadi ciri khas warung Lamongan.
Video-video tersebut mendapat respons positif dari warganet. Banyak orang yang menggunakan TikTok mengatakan mereka merasa senang atau puas saat melihat proses menyapu kuas yang membuat warna-warna terang muncul perlahan. Banyak orang baru sadar bahwa semua gambar pada spanduk Lamongan dibuat dengan tangan secara manual, bukan dicetak dengan mesin.
Menurut Fajar, proses kreatif menjadi hal yang menarik karena bisa menunjukkan kemampuan yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Saya ingin orang tahu bahwa membuat spanduk ini membutuhkan perhatian detail, pengalaman, dan kesabaran. "Bukan hanya mengilapkan kain, tetapi membentuk identitas sebuah usaha," ujarnya.
Selain menyenangkan, konten tersebut juga menjelaskan tentang filosofi desain spanduk Lamongan. Warna kuning terang, hijau stabilo, merah terang, hingga hitam pekat dipilih bukan tanpa alasan. Semua warna tersebut dibuat agar bisa memantulkan cahaya dari lampu toko dan tetap terlihat jelas oleh orang yang lewat di malam hari.
Ilustrasi ayam goreng, ikan lele, dan bebek juga dibuat dalam ukuran besar dengan detail yang membuatnya terlihat lezat. Tujuan utamanya adalah agar pembeli tertarik dan mendapat kesan bahwa makanan yang dijual enak dan lezat.
Fajar menjelaskan bahwa para pelukis spanduk tradisional sudah mengerti konsep itu jauh sebelum istilah desain komunikasi visual populer di kalangan masyarakat.
"Kami belajar dari pengalaman. Warna harus mencolok, gambar harus menarik, dan teks harus mudah dibaca dalam beberapa detik. "Semua itu penting agar orang yang lewat langsung tertarik untuk mampir," katanya.
Di tengah perkembangan teknologi cetak digital yang semakin cepat, pekerjaan para pelukis spanduk manual tetap menghadapi berbagai kesulitan. Banner yang dicetak sekarang bisa diproduksi lebih cepat dan harganya lebih terjangkau. Meski begitu, banyak pedagang masih memilih spanduk lukis karena dianggap memiliki tampilan visual yang lebih menonjol.
Menurut Fajar, karya lukis tangan memiliki nilai yang tidak bisa dicapai oleh mesin cetak.
"Spanduk manual punya karakter tersendiri. Setiap kali menggambar dengan kuas, hasilnya selalu berbeda, jadi tidak ada dua spanduk yang benar-benar identik. Itu yang membuatnya terasa hidup," ujarnya.
Melalui akun TikTok @fajar.spanduk, seni menghiasi spanduk khas Lamongan kini tidak hanya digunakan sebagai media iklan warung makan saja. Konten tersebut berhasil mengubah cara masyarakat melihat karya para pelukis tradisional sebagai bagian dari warisan budaya visual Indonesia yang layak dihargai.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu membawa tren yang hanya berlangsung singkat. Dengan kreator yang tepat, platform digital justru bisa menjadi tempat untuk mengenalkan kembali karya-karya lokal kepada generasi muda sekaligus memastikan tradisi seni lukis spanduk Lamongan tetap hidup meski di tengah arus modernisasi yang cepat.
(unt)
Lihat Juga :