Ketika Kota Menjadi Kanvas, Pusaran Urban 6 Membaca Estetika Kehidupan Modern
Kamis, 23 Juli 2026 - 08:52 WIB
loading...
Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) kembali menggelar Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 di Galeri FSRD IKJ, Jakarta. Foto
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) kembali menggelar Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 di Galeri FSRD IKJ, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).
Memasuki tahun keenam, seminar bertema “Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota: Perspektif Interdisiplin Seni Rupa dan Desain” tersebut untuk pertama kalinya diselenggarakan secara luring. Sejak pertama kali digelar pada masa pandemi, kegiatan ini sebelumnya berlangsung secara daring.
Seminar membahas perubahan kota menjadi ruang hidup yang dipenuhi beragam pesan visual, baik di ruang publik maupun digital. Dalam ekosistem urban saat ini, batas antara pengirim dan penerima pesan semakin kabur karena keduanya dapat bertukar peran dengan cepat.
Narasi visual perkotaan juga tidak lagi sebatas hiruk-pikuk fisik di ruang publik. Kehadirannya meluas ke ruang digital dan berkelindan dengan imajinasi masyarakat terhadap kota tempat mereka tinggal.
Estetika kota pun dinilai bukan sekadar “gincu” atau hiasan permukaan. Praktik visual dapat menjadi cerminan sekaligus ruang negosiasi atas berbagai dinamika sosial, politik, dan ekonomi masyarakat urban.
Melalui pendekatan interdisiplin seni rupa dan desain, seminar ini membedah proses estetika kota diproduksi, dikonsumsi, diperdebatkan, hingga disirkulasikan dalam kebudayaan. Praktik visual di ruang publik dan digital tidak hanya ditempatkan sebagai produk konsumsi, tetapi juga instrumen kritis untuk membaca perkembangan budaya kota modern.
Seminar dibuka oleh Dekan FSRD IKJ Dr. Adlien Fadlia, S.Sn., M.Ds. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ Dr. Martin Suryajaya, M.Hum., Chief Creative Officer Narrada Communications Adi S. Noegroho, peneliti budaya Felencia Hutabarat, serta Artistic Director Enin Supriyanto.
Diskusi dipandu oleh akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ Wili Sandra, M.Hum.
Sebagai pembicara utama, Martin Suryajaya membawakan tema “Estetika sebagai Tindakan Warga Merawat Kota”. Pembahasannya berangkat dari tiga pertanyaan utama, yaitu bagaimana melihat warga berestetika, bagaimana seniman mengestetikakan kota, dan bagaimana warga merawat kota melalui tindakan estetis.
Pembahasan tersebut menempatkan estetika kota tidak hanya pada upaya membangun dan merawat keindahan. Kemacetan, polusi, ketidaknyamanan, serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat juga menjadi bagian dari pengalaman estetis warga.
Nilai estetika negatif dipandang sebagai data penting yang dapat menunjukkan adanya ketidakadilan ruang. Sementara itu, seni dapat menjadi cara bagi warga untuk mengklaim hak atas kota, bukan sekadar dekorasi urban, tetapi juga sarana partisipasi, resistensi, dan pertemuan sosial.
Selain sesi utama, Pusaran Urban 6 diikuti 19 pemakalah yang terbagi dalam tiga bidang keilmuan, yakni Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni. Presentasi makalah berlangsung melalui Zoom dan dimoderatori oleh para dosen FSRD IKJ.
Beragam kajian dipresentasikan, mulai dari Batik Lasem sebagai arsip visual urban dan hibriditas budaya, transformasi visual Semar dalam poster pementasan Mencari Semar Teater Koma, hingga kebaya sebagai narasi identitas serta gaya hidup perempuan perkotaan.
Bidang Seni Murni turut membahas seni urban sebagai estetika politemporal dalam seni kontemporer Jakarta, termasuk keterkaitannya dengan arsip digital, memori visual, dan kritik terhadap linearitas sejarah seni.
Melalui beragam perspektif tersebut, Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 menjadi ruang diskusi dan refleksi untuk memahami hubungan antara warga, seniman, serta perkembangan ruang perkotaan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi melalui seni dan desain guna mendukung pembangunan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Memasuki tahun keenam, seminar bertema “Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota: Perspektif Interdisiplin Seni Rupa dan Desain” tersebut untuk pertama kalinya diselenggarakan secara luring. Sejak pertama kali digelar pada masa pandemi, kegiatan ini sebelumnya berlangsung secara daring.
Seminar membahas perubahan kota menjadi ruang hidup yang dipenuhi beragam pesan visual, baik di ruang publik maupun digital. Dalam ekosistem urban saat ini, batas antara pengirim dan penerima pesan semakin kabur karena keduanya dapat bertukar peran dengan cepat.
Narasi visual perkotaan juga tidak lagi sebatas hiruk-pikuk fisik di ruang publik. Kehadirannya meluas ke ruang digital dan berkelindan dengan imajinasi masyarakat terhadap kota tempat mereka tinggal.
Estetika kota pun dinilai bukan sekadar “gincu” atau hiasan permukaan. Praktik visual dapat menjadi cerminan sekaligus ruang negosiasi atas berbagai dinamika sosial, politik, dan ekonomi masyarakat urban.
Melalui pendekatan interdisiplin seni rupa dan desain, seminar ini membedah proses estetika kota diproduksi, dikonsumsi, diperdebatkan, hingga disirkulasikan dalam kebudayaan. Praktik visual di ruang publik dan digital tidak hanya ditempatkan sebagai produk konsumsi, tetapi juga instrumen kritis untuk membaca perkembangan budaya kota modern.
Seminar dibuka oleh Dekan FSRD IKJ Dr. Adlien Fadlia, S.Sn., M.Ds. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ Dr. Martin Suryajaya, M.Hum., Chief Creative Officer Narrada Communications Adi S. Noegroho, peneliti budaya Felencia Hutabarat, serta Artistic Director Enin Supriyanto.
Diskusi dipandu oleh akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ Wili Sandra, M.Hum.
Sebagai pembicara utama, Martin Suryajaya membawakan tema “Estetika sebagai Tindakan Warga Merawat Kota”. Pembahasannya berangkat dari tiga pertanyaan utama, yaitu bagaimana melihat warga berestetika, bagaimana seniman mengestetikakan kota, dan bagaimana warga merawat kota melalui tindakan estetis.
Pembahasan tersebut menempatkan estetika kota tidak hanya pada upaya membangun dan merawat keindahan. Kemacetan, polusi, ketidaknyamanan, serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat juga menjadi bagian dari pengalaman estetis warga.
Nilai estetika negatif dipandang sebagai data penting yang dapat menunjukkan adanya ketidakadilan ruang. Sementara itu, seni dapat menjadi cara bagi warga untuk mengklaim hak atas kota, bukan sekadar dekorasi urban, tetapi juga sarana partisipasi, resistensi, dan pertemuan sosial.
Selain sesi utama, Pusaran Urban 6 diikuti 19 pemakalah yang terbagi dalam tiga bidang keilmuan, yakni Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni. Presentasi makalah berlangsung melalui Zoom dan dimoderatori oleh para dosen FSRD IKJ.
Beragam kajian dipresentasikan, mulai dari Batik Lasem sebagai arsip visual urban dan hibriditas budaya, transformasi visual Semar dalam poster pementasan Mencari Semar Teater Koma, hingga kebaya sebagai narasi identitas serta gaya hidup perempuan perkotaan.
Bidang Seni Murni turut membahas seni urban sebagai estetika politemporal dalam seni kontemporer Jakarta, termasuk keterkaitannya dengan arsip digital, memori visual, dan kritik terhadap linearitas sejarah seni.
Melalui beragam perspektif tersebut, Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 menjadi ruang diskusi dan refleksi untuk memahami hubungan antara warga, seniman, serta perkembangan ruang perkotaan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi melalui seni dan desain guna mendukung pembangunan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
(dra)
Lihat Juga :