Yuk Deteksi Dini untuk Antisipasi Penyakit Mematikan
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak ada proses penyakit yang terjadi secara tiba-tiba, tetapi manifestasi klinisnya bisa tiba-tiba. Cuma masalahnya gangguan kesehatan harus diidentifikasi dengan pemeriksaan. Cek kesehatan merupakan hal penting yang harus rutin dilakukan sehingga kita tidak akan terkejut bila ada kematian mendadak yang terjadi di sekitar kita," tuturnya.
Dalam deteksi dini kardiovaskular, akan ada banyak pemeriksaan khusus untuk memastikan apakah ada kelainan dari pembuluh darah di jantung. Lamanya pemeriksaan kurang lebih empat jam, pengecekan tersebut terdiri atas EKG (elektrokardiogram) atau rekam listrik jantung, dan foto X-Ray dada (rontgen). Ini menjadi salah satu cara utama mencegah penyakit jantung, selain menjaga pola hidup sehat adalah dengan deteksi awal melalui medical ceck up.
"Untuk laki-laki masuk usia 40 harus dikejar deteksi dini kardiovaskular. Untuk perempuan bisa dilakukan saat memasuki usia 30," ungkap spesialis jantung dan pembuluh darah, Hananto Andriantoro. (Baca juga: Angka KDRT Turun karena Tak Terdeteksi Selama Pandemi)
Selain melakukan deteksi dini kardiovaskular, Hananto menyarankan untuk menjaga pola hidup sehat. Misalnya, dengan menjaga makanan yang bisa menyebabkan diabetes dan kemungkinan menimbulkan penyumbatan. "Seperti fast food. Kalau dia memang ada diabetes, akan ada hiperkolesterol juga," tambahnya.
Berikutnya olahraga. Untuk menjaga kesehatan jantung olahraga yang disarankan adalah aerobik, seperti senam lantai, jalan cepat, berenang, lari, naik sepeda, lompat tali, dan zumba. "Olahraganya dianjurkan aerobik untuk mengatur ritme jantung, tetapi untuk pemula harus dilakukan secara bertahap dan bedakan porsinya jangan disamakan untuk para atlet yang biasa berkompetisi," ujar dr Hananto.
Misalnya, olahraga lari yang dilakukan atlet hingga 100 meter atau olahraga sepeda menanjak hingga 160 kaki sampai 180 kaki. "Kalau dia naik sepeda menanjak mulai 160 kaki sampai 180 kaki itu namanya kompetisi atlet. Itu radikal, yang keluar bukan olahraga untuk menjaga kesehatan jantung," katanya. (Baca juga: Mobilmya Dipasang Bom, Ulama Top Suriah Meninggal)
Dalam deteksi dini kardiovaskular, akan ada banyak pemeriksaan khusus untuk memastikan apakah ada kelainan dari pembuluh darah di jantung. Lamanya pemeriksaan kurang lebih empat jam, pengecekan tersebut terdiri atas EKG (elektrokardiogram) atau rekam listrik jantung, dan foto X-Ray dada (rontgen). Ini menjadi salah satu cara utama mencegah penyakit jantung, selain menjaga pola hidup sehat adalah dengan deteksi awal melalui medical ceck up.
"Untuk laki-laki masuk usia 40 harus dikejar deteksi dini kardiovaskular. Untuk perempuan bisa dilakukan saat memasuki usia 30," ungkap spesialis jantung dan pembuluh darah, Hananto Andriantoro. (Baca juga: Angka KDRT Turun karena Tak Terdeteksi Selama Pandemi)
Selain melakukan deteksi dini kardiovaskular, Hananto menyarankan untuk menjaga pola hidup sehat. Misalnya, dengan menjaga makanan yang bisa menyebabkan diabetes dan kemungkinan menimbulkan penyumbatan. "Seperti fast food. Kalau dia memang ada diabetes, akan ada hiperkolesterol juga," tambahnya.
Berikutnya olahraga. Untuk menjaga kesehatan jantung olahraga yang disarankan adalah aerobik, seperti senam lantai, jalan cepat, berenang, lari, naik sepeda, lompat tali, dan zumba. "Olahraganya dianjurkan aerobik untuk mengatur ritme jantung, tetapi untuk pemula harus dilakukan secara bertahap dan bedakan porsinya jangan disamakan untuk para atlet yang biasa berkompetisi," ujar dr Hananto.
Misalnya, olahraga lari yang dilakukan atlet hingga 100 meter atau olahraga sepeda menanjak hingga 160 kaki sampai 180 kaki. "Kalau dia naik sepeda menanjak mulai 160 kaki sampai 180 kaki itu namanya kompetisi atlet. Itu radikal, yang keluar bukan olahraga untuk menjaga kesehatan jantung," katanya. (Baca juga: Mobilmya Dipasang Bom, Ulama Top Suriah Meninggal)
Lihat Juga :