Sudah Sembuh, Kenapa Bisa Terinfeksi Covid-19 Lagi?
Senin, 26 Oktober 2020 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga : Jokowi Minta Pengadaan dan Vaksinasi COVID-19 Tak Tergesa-gesa
"Kebanyakan orang yang terinfeksi, 90%, mengembangkan antibodi,” kata Joel Ernst, MD, pakar imunologi yang juga profesor di UCSF School of Medicine. Orang tanpa gejala, memiliki lebih sedikit antibodi dan mungkin tidak terdeteksi. Namun kebanyakan mereka juga mengambangkan respon imun termasuk antibodi penetralisir.
Peneliti telah menemukan bagaimana sel T merespon infeksi Covid-19. Beberapa faktor seperti keparahan penyakit, jenis kelamin pasien (wanita memiliki respon lebih tinggi) turut mempengaruhi. Ditemukan bahwa orang dengan respon sel T yang kuat mengalami penyakit yang lebih ringan.
Sebaliknya, orang dengan sel T yang lemah mengalami penyakit lebih berat. Temuan ini sekaligus menjelaskan, mengapa orang berusia 65 tahun keatas yang punya respon sel T lemah, berisiko tinggi menderita keparahan penyakit bahkan kematian. Imunitas tubuh semakin berkurang seiring pertambahan usia. Apa lagi yang peneliti ketahui? “Virus secara umum tidak bermutasi dengan cepat,” ujar Vardhana.
Ini adalah kabar baik bagi efikasi vaksin. Jika virus cepat berubah, vaksin bisa jadi tidak dapat melawannya. Penelitian lain menemukan, pasien Covid-19 dengan kasus berat,memproduksi antibodi selama empat bulan sejak mereka terkena gejala. Sayangnya, peneliti tidak yakin berapa kadar antibodi dalam darah untuk melindungi tubuh dari serangan virus.
"Kebanyakan orang yang terinfeksi, 90%, mengembangkan antibodi,” kata Joel Ernst, MD, pakar imunologi yang juga profesor di UCSF School of Medicine. Orang tanpa gejala, memiliki lebih sedikit antibodi dan mungkin tidak terdeteksi. Namun kebanyakan mereka juga mengambangkan respon imun termasuk antibodi penetralisir.
Peneliti telah menemukan bagaimana sel T merespon infeksi Covid-19. Beberapa faktor seperti keparahan penyakit, jenis kelamin pasien (wanita memiliki respon lebih tinggi) turut mempengaruhi. Ditemukan bahwa orang dengan respon sel T yang kuat mengalami penyakit yang lebih ringan.
Sebaliknya, orang dengan sel T yang lemah mengalami penyakit lebih berat. Temuan ini sekaligus menjelaskan, mengapa orang berusia 65 tahun keatas yang punya respon sel T lemah, berisiko tinggi menderita keparahan penyakit bahkan kematian. Imunitas tubuh semakin berkurang seiring pertambahan usia. Apa lagi yang peneliti ketahui? “Virus secara umum tidak bermutasi dengan cepat,” ujar Vardhana.
Ini adalah kabar baik bagi efikasi vaksin. Jika virus cepat berubah, vaksin bisa jadi tidak dapat melawannya. Penelitian lain menemukan, pasien Covid-19 dengan kasus berat,memproduksi antibodi selama empat bulan sejak mereka terkena gejala. Sayangnya, peneliti tidak yakin berapa kadar antibodi dalam darah untuk melindungi tubuh dari serangan virus.
Lihat Juga :