Manajemen Hipertensi Penyakit Jantung saat Pandemi
Selasa, 17 November 2020 - 01:38 WIB
loading...
A
A
A
“Pertama, bagi pasien hipertensi isolasi mandiri, obat hipertensi harus tetap diminum (tidak boleh dihentikan), melakukan monitoring tekanan darah sendiri di rumah dengan Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) atau home blood pressure monitoring (HBPM),” saran dr. Ario. (Baca juga: Tips Mudah Mengelola Hipertensi )
Dia menekankan, tidak diperlukan evaluasi klinik rutin, konsultasi dengan dokter dapat dilakukan via telepon atau melalui video bila diperlukan. Kedua, bagi pasien hipertensi dengan COVID-19 positif rawat inap, pasien harus tetap mengkonsumsi obat anti-hipertensi (tidak boleh dihentikan), tidak perlu mengganti jenis obat anti hipertensi, monitoring aritmia yang sering terjadi pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung.
“Serta cek kadar kalium karena rendahnya kadar kalium dalam darah (hypokalemia) sering terjadi pada pasien COVID-19 yang dirawat,” tambahnya.
Konsensus InaSH (Dokter Hipertensi Indonesia) menunjukkan bahwa beberapa golongan obat dapat menjadi pilihan pertama, seperti golongan CCB, ACEi / ARB dan diuretik, namun obat yang ideal adalah bukan hanya mencapai target yang diinginkan namun juga mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam waktu 24 jam.
Pengelolaan tekanan darah 24 jam sangat penting dalam mengurangi risiko kardiovaskular. Mengingat peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik di pagi hari meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.
Dia menekankan, tidak diperlukan evaluasi klinik rutin, konsultasi dengan dokter dapat dilakukan via telepon atau melalui video bila diperlukan. Kedua, bagi pasien hipertensi dengan COVID-19 positif rawat inap, pasien harus tetap mengkonsumsi obat anti-hipertensi (tidak boleh dihentikan), tidak perlu mengganti jenis obat anti hipertensi, monitoring aritmia yang sering terjadi pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung.
“Serta cek kadar kalium karena rendahnya kadar kalium dalam darah (hypokalemia) sering terjadi pada pasien COVID-19 yang dirawat,” tambahnya.
Konsensus InaSH (Dokter Hipertensi Indonesia) menunjukkan bahwa beberapa golongan obat dapat menjadi pilihan pertama, seperti golongan CCB, ACEi / ARB dan diuretik, namun obat yang ideal adalah bukan hanya mencapai target yang diinginkan namun juga mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam waktu 24 jam.
Pengelolaan tekanan darah 24 jam sangat penting dalam mengurangi risiko kardiovaskular. Mengingat peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik di pagi hari meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.
(tdy)
Lihat Juga :