Pentingnya Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Kesehatan Gigi dan Mulut
Jum'at, 20 November 2020 - 10:03 WIB
loading...
Adaptasi kebiasaan baru dengan menekankan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, yang juga merupakan bagian dari rangkaian perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Adaptasi kebiasaan baru dengan menekankan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, yang juga merupakan bagian dari rangkaian perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Adaptasi kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari ini mencakup rutinitas perawatan gigi dan mulut dengan menambahkan tahapan penggunaan obat kumur (mouthwash) antiseptik dua kali sehari setelah menyikat gigi. (Baca juga: 8 Tips Kecantikan Sederhana untuk Ibu Hamil )
Hal ini sangat penting mengingat mulut merupakan salah satu jalan masuknya mikroorganisme, seperti kuman dan bakteri, ke dalam tubuh, sehingga kesehatannya harus dijaga.
Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah utama yang terjadi pada 57,6% penduduk Indonesia. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut.
"Hanya 2.8% penduduk Indonesia yang sudah menyikat gigi dengan rutin dan benar, yaitu pagi dan malam," kata Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp. BM (K)., MM.
Sikat gigi saja tidak cukup menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sikat gigi hanya menghilangkan 30-53% plak dan tidak bisa menjangkau area-area celah gigi, sehingga banyak area yang terlewatkan. Selain itu, plak juga bisa melekat di seluruh bagian rongga mulut, bukan hanya gigi sehingga kebiasaan ini tidak 100% membuat gigi dan mulut terhindar dari kuman penyebab masalah gigi berlubang, gusi meradang hingga bau mulut.
"Bakteri dalam rongga mulut pembentukan plak, ketika ada pendarahan di rongga mulut, plak terlepas masuk ke dalam aliran darah menyebabkan berbagai penyakit dalam tubuh. Penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes, penyakit pernafasan, kelahiran prematur dan kelahiran dengan berat badan rendah," jelas Dr Seno.
Adaptasi kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari ini mencakup rutinitas perawatan gigi dan mulut dengan menambahkan tahapan penggunaan obat kumur (mouthwash) antiseptik dua kali sehari setelah menyikat gigi. (Baca juga: 8 Tips Kecantikan Sederhana untuk Ibu Hamil )
Hal ini sangat penting mengingat mulut merupakan salah satu jalan masuknya mikroorganisme, seperti kuman dan bakteri, ke dalam tubuh, sehingga kesehatannya harus dijaga.
Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah utama yang terjadi pada 57,6% penduduk Indonesia. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut.
"Hanya 2.8% penduduk Indonesia yang sudah menyikat gigi dengan rutin dan benar, yaitu pagi dan malam," kata Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp. BM (K)., MM.
Sikat gigi saja tidak cukup menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sikat gigi hanya menghilangkan 30-53% plak dan tidak bisa menjangkau area-area celah gigi, sehingga banyak area yang terlewatkan. Selain itu, plak juga bisa melekat di seluruh bagian rongga mulut, bukan hanya gigi sehingga kebiasaan ini tidak 100% membuat gigi dan mulut terhindar dari kuman penyebab masalah gigi berlubang, gusi meradang hingga bau mulut.
"Bakteri dalam rongga mulut pembentukan plak, ketika ada pendarahan di rongga mulut, plak terlepas masuk ke dalam aliran darah menyebabkan berbagai penyakit dalam tubuh. Penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes, penyakit pernafasan, kelahiran prematur dan kelahiran dengan berat badan rendah," jelas Dr Seno.
Lihat Juga :