Pameran Seni Kontemporer dari Perupa Asia Tenggara di Museum MACAN
Jum'at, 27 November 2020 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Pameran ini menampilkan karya dari delapan perupa dan satu kolaborasi artistik dari: Cian Dayrit (Filipina), Ho Rui An (Singapura), Kawita Vatanajyankur (Thailand), Saleh Husein (Indonesia), Lim Kok Yoong (Malaysia), Souliya Phoumivong (Laos), Maharani Mancanagara (Indonesia), Nge Lay (Myanmar) dan sebuah kolaborasi antara Tan Vatey dan Sinta Wibowo (Kamboja/Belgia).
Lahir di sekitar tahun 1980-an, para perupa ini saling terhubung karena pengalaman universal pada generasi mereka dalam teknologi media; dampak perubahan ekonomi dan diskusi politik di negara mereka masing-masing; juga pendekatan terhadap format estetika yang mencerminkan pergerakan yang subtil antara konteks lokal, regional dan global. Perupa yang dipilih untuk pameran ini adalah figur-figur yang telah berkontribusi aktif dalam berbagai diskusi seni kontemporer di negara masing-masing, juga secara konsisten berpartisipasi dalam percakapan regional dan global.
“Pameran ini menyediakan kesempatan yang menarik untuk mengakses dan membuka dialog antara beberapa perupa kontemporer Asia Tenggara yang patut diperhatikan. Kami berharap untuk menyajikan wawasan tentang kompleksitas multikultur Asia Tenggara. Sebagai sebuah wilayah, Asia Tenggara tidak hanya hadir sebagai blok politis dan ekonomis, namun juga gabungan jejaring, masyarakat dan jalur lintas budaya yang dibentuk dari interaksi manusia.” Ungkap Asep Topan dan Jeong Ok Jeon, ko-kurator di Museum MACAN.
Baca juga : Museum Geologi Bandung Akan Identifikasi Meteor Temuan Hutagalung
Belakangan ini, ada banyak diskusi tentang pentingnya Asia Tenggara dalam perkembangan perspektif global tentang seni kontemporer, dan pihak Museum MACAN pun berharap pameran ini, bersama dengan diskusi daring untuk publik dan program virtualnya dapat berkontribusi pada pemahaman dan pengetahuan yang lebih luas tentang kawasan di mana kita tinggal. Dalam masa penuh pergolakan dan transformasi luar biasa ini, Museum MACAN pun sangat berterima kasih kepada KONNECT ASEAN, mitra proyek dan komisioner pameran ini dan program terkait, serta Festivo, yang bergabung sebagai Mitra Program Virtual terbaru.
Lahir di sekitar tahun 1980-an, para perupa ini saling terhubung karena pengalaman universal pada generasi mereka dalam teknologi media; dampak perubahan ekonomi dan diskusi politik di negara mereka masing-masing; juga pendekatan terhadap format estetika yang mencerminkan pergerakan yang subtil antara konteks lokal, regional dan global. Perupa yang dipilih untuk pameran ini adalah figur-figur yang telah berkontribusi aktif dalam berbagai diskusi seni kontemporer di negara masing-masing, juga secara konsisten berpartisipasi dalam percakapan regional dan global.
“Pameran ini menyediakan kesempatan yang menarik untuk mengakses dan membuka dialog antara beberapa perupa kontemporer Asia Tenggara yang patut diperhatikan. Kami berharap untuk menyajikan wawasan tentang kompleksitas multikultur Asia Tenggara. Sebagai sebuah wilayah, Asia Tenggara tidak hanya hadir sebagai blok politis dan ekonomis, namun juga gabungan jejaring, masyarakat dan jalur lintas budaya yang dibentuk dari interaksi manusia.” Ungkap Asep Topan dan Jeong Ok Jeon, ko-kurator di Museum MACAN.
Baca juga : Museum Geologi Bandung Akan Identifikasi Meteor Temuan Hutagalung
Belakangan ini, ada banyak diskusi tentang pentingnya Asia Tenggara dalam perkembangan perspektif global tentang seni kontemporer, dan pihak Museum MACAN pun berharap pameran ini, bersama dengan diskusi daring untuk publik dan program virtualnya dapat berkontribusi pada pemahaman dan pengetahuan yang lebih luas tentang kawasan di mana kita tinggal. Dalam masa penuh pergolakan dan transformasi luar biasa ini, Museum MACAN pun sangat berterima kasih kepada KONNECT ASEAN, mitra proyek dan komisioner pameran ini dan program terkait, serta Festivo, yang bergabung sebagai Mitra Program Virtual terbaru.
(wur)
Lihat Juga :