Pandemi, Edukasi HIV/AIDS di Papua Perlu Lebih Ditingkatkan
Selasa, 01 Desember 2020 - 06:38 WIB
loading...
A
A
A
Melalui data Kemenkes itu, Provinsi Papua masih menjadi provinsi yang memiliki angka penderita AIDS tertinggi. Hal ini tentu saja membutuhkan effort khusus, apalagi dengan karakteristik wilayah dan masyarakat Papua.
Bagian tengah Provinsi Papua merupakan daerah dataran tinggi dengan kelompok penduduk yang secara etnis dan sosioekonomi berbeda dari penduduk di wilayah pesisir. Wilayah pesisir bagian Selatan terdiri dari kota-kota kecil yang sulit dicapai melalui jalan darat. Prevalensi HIV, perilaku seks, pencarian layanan kesehatan, serta akses terhadap layanan juga bervariasi antar wilayah.
Wakil Ketua Umum Yayasan AIDS Indonesia, Shinta W Kamdani melalui keterangan tertulisnya, Senin (30/11), menyebutkan, memang perlu skill khusus dalam kampanye pencegahan dan penyuluhan tentang HIV/AIDS ini. Upaya tersebut juga harus dilakukan dengan semua stakehodler terkait, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
Dalam kacamata Yayasan AIDS Indonesia, penyebab angka ODHA Papua masih tinggi, selain karena wilayah geografisnya, juga lantaran masih minimnya pengetahuan masyarakat akan HIV/AIDS. "Edukasi dan akses terhadap pengobatan yang masih kurang. Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan semua stakeholder di Papua," ujar Shinta.
Shinta sendiri tak menampik jika peran prilaku juga memengaruhi penyebaran HIV/AIDS. Namun kembali lagi, pengetahuan yang terbatas membuat masyarakat di Papua tak menyadari jika prilakunya itu beresiko akan penularan HIV/AIDS. "Edukasi harus jalan terus, jangan nunggu sampai sakit," tegasnya.
Bagian tengah Provinsi Papua merupakan daerah dataran tinggi dengan kelompok penduduk yang secara etnis dan sosioekonomi berbeda dari penduduk di wilayah pesisir. Wilayah pesisir bagian Selatan terdiri dari kota-kota kecil yang sulit dicapai melalui jalan darat. Prevalensi HIV, perilaku seks, pencarian layanan kesehatan, serta akses terhadap layanan juga bervariasi antar wilayah.
Wakil Ketua Umum Yayasan AIDS Indonesia, Shinta W Kamdani melalui keterangan tertulisnya, Senin (30/11), menyebutkan, memang perlu skill khusus dalam kampanye pencegahan dan penyuluhan tentang HIV/AIDS ini. Upaya tersebut juga harus dilakukan dengan semua stakehodler terkait, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
Dalam kacamata Yayasan AIDS Indonesia, penyebab angka ODHA Papua masih tinggi, selain karena wilayah geografisnya, juga lantaran masih minimnya pengetahuan masyarakat akan HIV/AIDS. "Edukasi dan akses terhadap pengobatan yang masih kurang. Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan semua stakeholder di Papua," ujar Shinta.
Shinta sendiri tak menampik jika peran prilaku juga memengaruhi penyebaran HIV/AIDS. Namun kembali lagi, pengetahuan yang terbatas membuat masyarakat di Papua tak menyadari jika prilakunya itu beresiko akan penularan HIV/AIDS. "Edukasi harus jalan terus, jangan nunggu sampai sakit," tegasnya.
Lihat Juga :