Buku Crisis Public Relations, Mengatasi Krisis Reputasi dengan Pendekatan Populer
Kamis, 10 Desember 2020 - 14:49 WIB
loading...
Peluncuran dan bedah buku Crisis Public Relation. Foto/Dok Nexus
A
A
A
JAKARTA - Apa yang harusnya dilakukan jika sebuah brand atau perusahaan menghadapi krisis komunikasi? Bagaimana juga cara merancang strategi komunikasi efektif ketika sebuah perusahaan menghadapi konflik? Bagaimana juga relasi antara public relations dan kerja jurnalistik dalam merespons krisis yang menerpa image maupun reputasi sebuah brand atau perusahaan?
Deretan pertanyaan itu sesungguhnya terangkum melalui buku terbaru berjudul Crisis Public Relations. Buku yang ditulis oleh dua praktisi PR dan seorang jurnalis ini menyuguhkan contoh kasus sekaligus pemecahan atas krisis komunikasi maupun public relations . "Buku ini tidak sekadar menghadirkan teori-teori komunikasi saja tapi diperkuat dengan studi kasus yang sebagian besarnya berangkat dari pengalaman para penulisnya," kata Dr Firsan Nova, salah satu penulis Crisis PR ini.
Baca juga : Prosesi Pemakaman Melisha Sidabutar Diiringi Isak Tangis Keluarga
Secara umum, buku setebal 428 halaman ini menghadirkan enam chapter dengan total 16 bab. Buku itu ditulis oleh Firsan Nova, Dian Agustine Nuriman dan Mohammad Akbar. Firsan dan Dian merupakan praktisi PR yang telah banyak menangani berbagai persoalan krisis komunikasi. Sementara Akbar adalah jurnalis dari media nasional yang juga pemegang gelar master di bidang ilmu komunikasi.
Firsan mengatakan hadirnya buku ini menjadi semacam oase akademis untuk melihat krisis yang muncul dari pandemi Covid-19. "Bisa dibilang buku Crisis PR ini menjadi salah satu buku rujukan berbahasa Indonesia paling lengkap yang membahas krisis, public relations, termasuk juga bagaimana solusi menghadapi krisis akibat pandemi seperti sekarang," ujarnya.
Sebagai salah satu srikandi penulis pada buku ini, Dian mengaku sangat tertantang untuk menuangkan pengalamannya melalui tulisan. Ia juga menyadari public relations itu sangat identik dengan kerja wanita. “Tapi justru pria yang mendominasi untuk terlibat langsung ketika menangani krisis PR pada sebuah perusahaan, terutama saat berhadapan langsung dengan khalayak di lapangan,” ujarnya.
Dian juga mengatakan kekuatan dari buku ini adalah menguliti secara detail hal-hal mendasar dari komunikasi publik, aktifitas public relations, strategi pemetaan isu, bagaimana menangani konflik hingga usaha melakukan proses engangement ketika krisis terjadi.
Deretan pertanyaan itu sesungguhnya terangkum melalui buku terbaru berjudul Crisis Public Relations. Buku yang ditulis oleh dua praktisi PR dan seorang jurnalis ini menyuguhkan contoh kasus sekaligus pemecahan atas krisis komunikasi maupun public relations . "Buku ini tidak sekadar menghadirkan teori-teori komunikasi saja tapi diperkuat dengan studi kasus yang sebagian besarnya berangkat dari pengalaman para penulisnya," kata Dr Firsan Nova, salah satu penulis Crisis PR ini.
Baca juga : Prosesi Pemakaman Melisha Sidabutar Diiringi Isak Tangis Keluarga
Secara umum, buku setebal 428 halaman ini menghadirkan enam chapter dengan total 16 bab. Buku itu ditulis oleh Firsan Nova, Dian Agustine Nuriman dan Mohammad Akbar. Firsan dan Dian merupakan praktisi PR yang telah banyak menangani berbagai persoalan krisis komunikasi. Sementara Akbar adalah jurnalis dari media nasional yang juga pemegang gelar master di bidang ilmu komunikasi.
Firsan mengatakan hadirnya buku ini menjadi semacam oase akademis untuk melihat krisis yang muncul dari pandemi Covid-19. "Bisa dibilang buku Crisis PR ini menjadi salah satu buku rujukan berbahasa Indonesia paling lengkap yang membahas krisis, public relations, termasuk juga bagaimana solusi menghadapi krisis akibat pandemi seperti sekarang," ujarnya.
Sebagai salah satu srikandi penulis pada buku ini, Dian mengaku sangat tertantang untuk menuangkan pengalamannya melalui tulisan. Ia juga menyadari public relations itu sangat identik dengan kerja wanita. “Tapi justru pria yang mendominasi untuk terlibat langsung ketika menangani krisis PR pada sebuah perusahaan, terutama saat berhadapan langsung dengan khalayak di lapangan,” ujarnya.
Dian juga mengatakan kekuatan dari buku ini adalah menguliti secara detail hal-hal mendasar dari komunikasi publik, aktifitas public relations, strategi pemetaan isu, bagaimana menangani konflik hingga usaha melakukan proses engangement ketika krisis terjadi.
Lihat Juga :