Manfaatkan Puasa Ramadhan untuk Buang Racun dengan Detoks
Kamis, 14 Mei 2020 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Pembatasan nutrisi karena tidak makan dan minum selama berpuasa, juga dapat diproses Autofagi. Kata ini berasal dari bahasa Yunani auto (sendiri) dan phagein (untuk makan). Jadi, kata kata itu, bisa diartikan sebagai suntikan sendiri. Ada triliunan sel yang menyusun tubuh manusia. Selama waktu, molekul-molekul sisa yang terbentuk dari molekul dapat menumpuk di dalam sel dan menyebabkan kerusakan.
Sel yang sudah rusak, tidak perlu lagi dan perlu dibuang. Autofagi merupakan cara tubuh untuk menyelamatkan diri dari sel-sel yang sudah tua dan rusak sehingga dapat membentuk sel-sel baru yang lebih sehat.
Selama autofagi, sel yang dibuang bagian yang tidak diinginkan dan bagian yang sudah tidak bekerja dengan baik. Namun, kadang kala sel juga akan mendaur ulang bagian yang rusak tersebut menjadi komponen baru atau asam amino (bagian yang rusak penyusun protein).
Saat kita berpuasa dan jumlah makanan yang masuk ke tubuh, sel di dalam tubuh akan mendapatkan asupan kalori yang lebih sedikit, sehingga sel harus bekerja lebih efisien. Sel-sel tubuh akan mengeluarkan komponen yang tidak diperlukan dan bagian sel yang sudah rusak, atau mendaur ulang zat-zat tersebut menjadi bagian sel yang masih diproses dengan baik.
Dengan cara ini, sel tubuh dapat bekerja dengan normal . Selain itu, hubungan puasa dengan autofagi juga erat berhubungan dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin dan glukagon adalah hormon yang membantu tubuh dalam kadar gula darah, kedua hormon ini berkebalikan.
Saat tubuh mendapat asupan makanan, khususnya karbohidrat, tubuh akan meningkatkan produksi hormon Insulin, sedangkan hormon glukagon meningkat. Sebaliknya, saat tubuh sedang berpuasa, hormon glukagon akan meningkat dan proses autofagi juga meningkat.
Sayangnya, kompilasi pola makan dan pilihan makanan selama berpuasa sebaliknya lebih banyak yang tidak sehat, rendah gizi, tinggi lemak dan kolesterol, lebih banyak konsumsi makanan olahan atau instan dengan tambahan bahan pengawet, dan antioksidan rendah, akan menyebabkan penumpukan memutar dalam sel-sel tubuh.
Sel yang sudah rusak, tidak perlu lagi dan perlu dibuang. Autofagi merupakan cara tubuh untuk menyelamatkan diri dari sel-sel yang sudah tua dan rusak sehingga dapat membentuk sel-sel baru yang lebih sehat.
Selama autofagi, sel yang dibuang bagian yang tidak diinginkan dan bagian yang sudah tidak bekerja dengan baik. Namun, kadang kala sel juga akan mendaur ulang bagian yang rusak tersebut menjadi komponen baru atau asam amino (bagian yang rusak penyusun protein).
Saat kita berpuasa dan jumlah makanan yang masuk ke tubuh, sel di dalam tubuh akan mendapatkan asupan kalori yang lebih sedikit, sehingga sel harus bekerja lebih efisien. Sel-sel tubuh akan mengeluarkan komponen yang tidak diperlukan dan bagian sel yang sudah rusak, atau mendaur ulang zat-zat tersebut menjadi bagian sel yang masih diproses dengan baik.
Dengan cara ini, sel tubuh dapat bekerja dengan normal . Selain itu, hubungan puasa dengan autofagi juga erat berhubungan dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin dan glukagon adalah hormon yang membantu tubuh dalam kadar gula darah, kedua hormon ini berkebalikan.
Saat tubuh mendapat asupan makanan, khususnya karbohidrat, tubuh akan meningkatkan produksi hormon Insulin, sedangkan hormon glukagon meningkat. Sebaliknya, saat tubuh sedang berpuasa, hormon glukagon akan meningkat dan proses autofagi juga meningkat.
Sayangnya, kompilasi pola makan dan pilihan makanan selama berpuasa sebaliknya lebih banyak yang tidak sehat, rendah gizi, tinggi lemak dan kolesterol, lebih banyak konsumsi makanan olahan atau instan dengan tambahan bahan pengawet, dan antioksidan rendah, akan menyebabkan penumpukan memutar dalam sel-sel tubuh.
Lihat Juga :