Ini Tips Mengelola Keuangan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19
Jum'at, 15 Mei 2020 - 04:30 WIB
loading...
A
A
A
Pada kesempatan ini, Dr Werner Ria Murhadi memaparkan dampak COVID-19 yang terjadi di masyarakat, antisipasi pemerintah, dan cara mengelola keuangan di masa pandemi. Dosen FBE Ubaya ini memberikan pengantar terkait sejarah krisis ekonomi Indonesia dan tindakan yang dilakukan sehingga dapat bertahan di kondisi tersebut. Hal ini nantinya membantu masyarakat untuk mengetahui cara mengelola keuangan yang baik.
“Pada tahun 2020 ini, krisis dimulai dari sektor kesehatan dengan munculnya COVID-19 dan berimbas pada ekonomi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 35%, kurs rupiah melemah, adanya PSBB dan berujung pada terhentinya produksi. Saat ini benteng pertahanan masyarakat adalah pemerintah dengan kebijakan counter cyclical-nya. Oleh karena itu, kita harus tahu kebijakan apa saja yang dilakukan pemerintah karena nantinya akan berdampak pada keuangan keluarga,” ucap Werner.
Werner menyebutkan, dampak COVID-19 dirasakan oleh masyarakat seluruh dunia. Wabah COVID-19 membuat berbagai negara mengalami lockdown, social distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, ekonomi dunia mengalami penurunan secara drastis.
Berhentinya produksi di masyarakat membuat banyak orang dirumahkan dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan kelangkaan bahan pangan di masyarakat.
Apakah Indonesia mengalami great depression? Mengambil kutipan pemenang Nobel bidang ekonomi yaitu Robert Shiller mengatakan jika kondisi pandemi tidak akan bertahan selama 10 tahun, berbeda dengan depresi besar tahun 1930. Kondisi ini akan berakhir dalam satu atau dua tahun dan bisa dihindari melalui kebijakan fiskal dan moneter di semua negara.
“Ada empat sektor yang tertekan akibat COVID-19 yaitu rumah tangga, UMKM, korporasi, dan keuangan. Berdasarkan data kementerian ketenagakerjaan, lebih dari 1,5 juta orang telah kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. Sedangkan sebanyak 10,6% diantaranya atau sekitar 160.000 orang kehilangan pekerjaannya karena PHK dan 89,4% lainnya dirumahkan.
“Pada tahun 2020 ini, krisis dimulai dari sektor kesehatan dengan munculnya COVID-19 dan berimbas pada ekonomi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 35%, kurs rupiah melemah, adanya PSBB dan berujung pada terhentinya produksi. Saat ini benteng pertahanan masyarakat adalah pemerintah dengan kebijakan counter cyclical-nya. Oleh karena itu, kita harus tahu kebijakan apa saja yang dilakukan pemerintah karena nantinya akan berdampak pada keuangan keluarga,” ucap Werner.
Werner menyebutkan, dampak COVID-19 dirasakan oleh masyarakat seluruh dunia. Wabah COVID-19 membuat berbagai negara mengalami lockdown, social distancing, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, ekonomi dunia mengalami penurunan secara drastis.
Berhentinya produksi di masyarakat membuat banyak orang dirumahkan dan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan kelangkaan bahan pangan di masyarakat.
Apakah Indonesia mengalami great depression? Mengambil kutipan pemenang Nobel bidang ekonomi yaitu Robert Shiller mengatakan jika kondisi pandemi tidak akan bertahan selama 10 tahun, berbeda dengan depresi besar tahun 1930. Kondisi ini akan berakhir dalam satu atau dua tahun dan bisa dihindari melalui kebijakan fiskal dan moneter di semua negara.
“Ada empat sektor yang tertekan akibat COVID-19 yaitu rumah tangga, UMKM, korporasi, dan keuangan. Berdasarkan data kementerian ketenagakerjaan, lebih dari 1,5 juta orang telah kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. Sedangkan sebanyak 10,6% diantaranya atau sekitar 160.000 orang kehilangan pekerjaannya karena PHK dan 89,4% lainnya dirumahkan.
Lihat Juga :