Setahun Pandemi Covid-19, Berharap Pariwisata Bangkit Kembali
Rabu, 03 Maret 2021 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
Ia juga menjelaskan bahwa pandemi mengubah tren pariwisata dari mass tourism ke sustainable tourism. Preferensi traveling customized, personalized, localized, dan smaller in size untuk mengurangi transit dan contactless.
“Sekarang yang banyak dicari adalah pariwisata berbasis budaya berbasis alam terbuka. Nature dan culture. dari tadinya hanya melihat laut pasir putih sinar matahari sekarangmencari keheningan, keberlanjutan, spiritualitas dari kunjungannya ke tempat pariwisata. Program lain yang disiapkan adalah destinasi yang didasari free covid corridor di mana destinasi di daerah zona hijau mulai dibuka untuk pariwisata mancanegara," imbuh dia.
Baca Juga : Nikmati Keindahan Nihi Sumba secara Virtual
Sandi menyebut pariwisata Bali benar-benar terdampak sangat dalam akibat pandemi. Dampak itu lebih dalam dari bom Bali dan krisis moneter."Dibandingkan bom bali satu dan dua, krisis moneter maupun krisis global tidak pernah kita mengalami krisis sedalam ini," kata Sandi.
Sandi mengibaratkan Bali saat ini sedang sakit demam tinggi dan kekurangan darah sehingga sudah selayaknya dibantu. Apalagi selama ini Bali menyumbangkan 55% devisa nasional. Dia meminta pengusaha hotel dan restoran tetap optimistis dan yakin badai ini pasti berlalu. "Di balik kesulitan ada kemudahan. Dan kita harus yakin Tuhan tidak akan mencoba suatu kaum di luar batas kemampuan," pungkasnya. wuri
“Sekarang yang banyak dicari adalah pariwisata berbasis budaya berbasis alam terbuka. Nature dan culture. dari tadinya hanya melihat laut pasir putih sinar matahari sekarangmencari keheningan, keberlanjutan, spiritualitas dari kunjungannya ke tempat pariwisata. Program lain yang disiapkan adalah destinasi yang didasari free covid corridor di mana destinasi di daerah zona hijau mulai dibuka untuk pariwisata mancanegara," imbuh dia.
Baca Juga : Nikmati Keindahan Nihi Sumba secara Virtual
Sandi menyebut pariwisata Bali benar-benar terdampak sangat dalam akibat pandemi. Dampak itu lebih dalam dari bom Bali dan krisis moneter."Dibandingkan bom bali satu dan dua, krisis moneter maupun krisis global tidak pernah kita mengalami krisis sedalam ini," kata Sandi.
Sandi mengibaratkan Bali saat ini sedang sakit demam tinggi dan kekurangan darah sehingga sudah selayaknya dibantu. Apalagi selama ini Bali menyumbangkan 55% devisa nasional. Dia meminta pengusaha hotel dan restoran tetap optimistis dan yakin badai ini pasti berlalu. "Di balik kesulitan ada kemudahan. Dan kita harus yakin Tuhan tidak akan mencoba suatu kaum di luar batas kemampuan," pungkasnya. wuri
(wur)
Lihat Juga :