Kisah Perjuangan Al Rizhal Tisma Wahid Maulana Jadi Imam di UEA dengan Hafal Al-Quran 30 Juz
Sabtu, 08 Mei 2021 - 01:02 WIB
loading...
A
A
A
"Tahap pertama dari Kemenag sendiri ada sekitar 150 orang setelah 150 orang, kemudian disaring menjadi 100 orang, yang ikut di tahap kedua. Tahap kedua yang menyeleksi langsung dari pihak Uni Emirat Arab-nya, ada empat orang Syeikh kalau enggak salah yang menyeleksi, materinya sama dengan tahap pertama," bebernya.
Pria alumni Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM) ini menyebut tahapan tersulit ada di seleksi tahap kedua. Mengingat daya ingat hafalan benar-benar diuji oleh para penguji dari syeikh asal UEA langsung.
"Yang tersulit di nguji hafalan, kalau nguji hafalan (Al-Quran) acak banget. Kalau dari Kemenag itu disuruh baca dari awal diteruskan. Kalau dari syeikhnya acak banget, bisa dari tengah, atau dari belakang, atau dari depan, enggak bisa memprediksi. Kalau yang dari Kemenag di tahap pertama kan bisa diprediksi, surat ini, disuruh baca awal surat. Kalau di tengah-tengah surat susah," paparnya.
Belum lagi kebiasaan Wahid yang membaca Al-Quran hafalan dengan mikrofon membuat dia sedikit grogi saat Syeikh meminta membacanya tanpa mikrofon.
"Ketika membaca ternyata ada yang sesuatu yang enggak pas di telinga syeikhnya, karena selama ini kan di Indonesia biasanya terbiasa membaca dengan mik (mikrofon) kalau tanpa mik kurang pede. Tapi mereka nggak mau, sempat nervous, sempat down juga, ada satu huruf yang dikoreksi juga oleh beliau," terangnya.
Namun, dia mengaku beruntung, materi seleksi lain berupa khutbah dan pemahaman fikih Islam bisa lancar. Bahkan dengan kemampuan bahasa Arabnya, yang didapat dari kampus UM bisa memperlancar seleksi di khutbah dengan bahasa Arab.
Wahid sejak awal mengaku berharap bisa lolos meski dia sebenarnya belum pernah mengeyam pendidikan pondok pesantren. Dirinya belajar menghafal Al-Quran dan agama secara otodidak saat berkuliah di UM. Saat kuliah itu dia bergabung dengan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang fokus menunjang keinginannya belajar menghafal Al-Quran dan memahami agama Islam.
"Saya mondok itu ketika SD kelas 4 SD karena waktu ikut kakek saja, orang tua background-nya bukan pondok, ikut mbah di sana. Cuma sekolah MI, MTS, masuk SMA, akhirnya masuk Sastra Arab UM itu. Dari masuk kuliah itu baru punya keinginan hafalan Al-Quran 30 juz. Kebetulan ada fasilitasnya, ada UKM-nya, ada pembinanya juga. Termasuk membangun kompetensinya di UKM itu juga," jelasnya.
Pria alumni Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM) ini menyebut tahapan tersulit ada di seleksi tahap kedua. Mengingat daya ingat hafalan benar-benar diuji oleh para penguji dari syeikh asal UEA langsung.
"Yang tersulit di nguji hafalan, kalau nguji hafalan (Al-Quran) acak banget. Kalau dari Kemenag itu disuruh baca dari awal diteruskan. Kalau dari syeikhnya acak banget, bisa dari tengah, atau dari belakang, atau dari depan, enggak bisa memprediksi. Kalau yang dari Kemenag di tahap pertama kan bisa diprediksi, surat ini, disuruh baca awal surat. Kalau di tengah-tengah surat susah," paparnya.
Belum lagi kebiasaan Wahid yang membaca Al-Quran hafalan dengan mikrofon membuat dia sedikit grogi saat Syeikh meminta membacanya tanpa mikrofon.
"Ketika membaca ternyata ada yang sesuatu yang enggak pas di telinga syeikhnya, karena selama ini kan di Indonesia biasanya terbiasa membaca dengan mik (mikrofon) kalau tanpa mik kurang pede. Tapi mereka nggak mau, sempat nervous, sempat down juga, ada satu huruf yang dikoreksi juga oleh beliau," terangnya.
Namun, dia mengaku beruntung, materi seleksi lain berupa khutbah dan pemahaman fikih Islam bisa lancar. Bahkan dengan kemampuan bahasa Arabnya, yang didapat dari kampus UM bisa memperlancar seleksi di khutbah dengan bahasa Arab.
Wahid sejak awal mengaku berharap bisa lolos meski dia sebenarnya belum pernah mengeyam pendidikan pondok pesantren. Dirinya belajar menghafal Al-Quran dan agama secara otodidak saat berkuliah di UM. Saat kuliah itu dia bergabung dengan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang fokus menunjang keinginannya belajar menghafal Al-Quran dan memahami agama Islam.
"Saya mondok itu ketika SD kelas 4 SD karena waktu ikut kakek saja, orang tua background-nya bukan pondok, ikut mbah di sana. Cuma sekolah MI, MTS, masuk SMA, akhirnya masuk Sastra Arab UM itu. Dari masuk kuliah itu baru punya keinginan hafalan Al-Quran 30 juz. Kebetulan ada fasilitasnya, ada UKM-nya, ada pembinanya juga. Termasuk membangun kompetensinya di UKM itu juga," jelasnya.
Lihat Juga :