Kisah Perjuangan Al Rizhal Tisma Wahid Maulana Jadi Imam di UEA dengan Hafal Al-Quran 30 Juz
Sabtu, 08 Mei 2021 - 01:02 WIB
loading...
A
A
A
Kini dia bersyukur bisa lolos menjadi satu dari 27 orang yang lolos seleksi imam masjid dari Indonesia. Pengorbanan waktunya untuk belajar menghafal Al-Quran selama kuliah dan memperdalam ilmu agama membuahkan hasil.
"Kalau kita ingin sesuatu, kita harus punya waktu khusus untuk latihan khusus, kalau kita punya keinginan ingin bisa basket ya kita alokasikan waktu luang untuk belajar berlatih basket. Kalau kita ingin menghafal Al-Quran ya konsekuensinya harus ada waktu untuk membaca dan menghafal Al-Quran. Main dan nongkrong itu dimanfaatkan untuk membangun kompetensi kita. Sekiranya masih muda kita harus bisa belajar dan memberi manfaat ke orang lain," pesannya.
Saat ini, Wahid masih harap-harap cemas menunggu kepastian kapan keberangkatannya ke UEA, mengingat kepengurusan visa yang masih berlangsung. "Wacana awal katanya Juni setelah Lebaran, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kalau dari pengalaman imam-imam di sana katanya enggak pasti, enggak bareng, jadi ketika dipanggil pihak sana langsung berangkat," ungkapnya.
"Karena memang kita ngikuti dari Emirat-nya kemungkinan kata imam-imam sebelumnya diberangkatkan Juni. Insya Allah kemungkinan besar, soalnya Juni-Juli jadwalnya cuti imam di sana, nanti masih magang di sana sebelum jadi imam tetap," tuturnya.
Dia berharap segala persyaratan bisa segera terselesaikan, sebelum berangkat ke UEA. Apalagi ada dukungan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur yang bakal membantu mengurus visa dan medical checkup-nya. Kebetulan dari Jawa Timur terdapat tiga orang peserta seleksi imam yang lolos dan bakal berangkat ke UEA.
Baca juga: Ketika Khalid bin Walid Harus Memohon Maaf Kepada Ammar bin Yasir
"Ada salah satu peserta yang dipanggil kata (Gubernur Jatim) Bu Khofifah akan dibantu tentang persiapan tentang pemberangkatannya, katanya mau dibantu ngurus visa dan medical checkup-nya. Semoga segera selesai," harapnya.
"Kalau kita ingin sesuatu, kita harus punya waktu khusus untuk latihan khusus, kalau kita punya keinginan ingin bisa basket ya kita alokasikan waktu luang untuk belajar berlatih basket. Kalau kita ingin menghafal Al-Quran ya konsekuensinya harus ada waktu untuk membaca dan menghafal Al-Quran. Main dan nongkrong itu dimanfaatkan untuk membangun kompetensi kita. Sekiranya masih muda kita harus bisa belajar dan memberi manfaat ke orang lain," pesannya.
Saat ini, Wahid masih harap-harap cemas menunggu kepastian kapan keberangkatannya ke UEA, mengingat kepengurusan visa yang masih berlangsung. "Wacana awal katanya Juni setelah Lebaran, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kalau dari pengalaman imam-imam di sana katanya enggak pasti, enggak bareng, jadi ketika dipanggil pihak sana langsung berangkat," ungkapnya.
"Karena memang kita ngikuti dari Emirat-nya kemungkinan kata imam-imam sebelumnya diberangkatkan Juni. Insya Allah kemungkinan besar, soalnya Juni-Juli jadwalnya cuti imam di sana, nanti masih magang di sana sebelum jadi imam tetap," tuturnya.
Dia berharap segala persyaratan bisa segera terselesaikan, sebelum berangkat ke UEA. Apalagi ada dukungan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur yang bakal membantu mengurus visa dan medical checkup-nya. Kebetulan dari Jawa Timur terdapat tiga orang peserta seleksi imam yang lolos dan bakal berangkat ke UEA.
Baca juga: Ketika Khalid bin Walid Harus Memohon Maaf Kepada Ammar bin Yasir
"Ada salah satu peserta yang dipanggil kata (Gubernur Jatim) Bu Khofifah akan dibantu tentang persiapan tentang pemberangkatannya, katanya mau dibantu ngurus visa dan medical checkup-nya. Semoga segera selesai," harapnya.
(nug)
Lihat Juga :