Kisah Perjuangan Al Rizhal Tisma Wahid Maulana Jadi Imam di UEA dengan Hafal Al-Quran 30 Juz

loading...
Kisah Perjuangan Al Rizhal Tisma Wahid Maulana Jadi Imam di UEA dengan Hafal Al-Quran 30 Juz
Al Rizhal Tisma Wahid saat mengikuti seleksi imam masjid UEA tahap kedua. / Foto: dokumen pribadi Wahid for Okezone
MALANG - Al Rizhal Tisma Wahid Maulana menjadi satu dari 27 orang peserta seleksi imam di United Emirat Arab (UEA) yang lolos. Pemuda kelahiran Malang pada 1997 ini menjadi salah satu orang yang bakal berangkat ke Uni Emirat Arab (UEA) atas permintaan khusus Pangeran UEA, Syeikh Mohammed bin Zayed kepada Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Fatimah Az Zahra Kenakan Cadar Usai Dinikahi Ustadz Abdul Somad

Perjuangan pemuda yang beralamatkan di Jalan Gadang X B Nomor 57 Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang, tidaklah mudah. Dia harus bersaing dengan ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia untuk bisa lolos seleksi.

Wahid, panggilan akrabnya, mengaku, mendapat informasi adanya seleksi calon imam dari UEA di akun Instagram Direktorat Jenderal Binmas Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. Dari sanalah dia akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar dengan modal hafalan Al-Quran 30 juz, kemampuan bahasa Arab, dan pemahaman agama islam.



"Ada informasi ada seleksi imam di luar negeri, tapi awalnya enggak tahu di mana. Syaratnya hafal Al-Quran 30 juz, pemahaman Islam moderat, kemampuan komunikasi bahasa Arab dengan dites kebahasaan, harus bisa khutbah. Dari sana mendaftar menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan," ucap Wahid saat ditemui Okezone.com, Jumat (7/5).

Dirinya mengaku termotivasi ikut seleksi karena punya keinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, entah itu ke Timur Tengah atau Eropa. Sejak awal dia memiliki pemikiran visioner meski usianya baru memasuki 24 tahun, apalagi dikatakannya ini kesempatan menuju Timur Tengah, UEA.

"Saya dari lulus kuliah itu ingin ke Timur Tengah atau Eropa lanjut studi. Akhirnya saya ambil itu (seleksi imam di UEA) semoga nanti ada kesempatan studi di sana. Saya pribadi suka kumpul yang punya kegiatan positif. Di kampus ikut UKM yang bisa menghafal Al-Quran selama ikut bisa mengembangkan potensi, dan bisa membantu saya mencapai target yang saya inginkan," katanya saat ditanya alasan mengikuti seleksi.

Dari verifikasi dokumen tersebut nama Wahid akhirnya lolos di seleksi tahap pertama yang diadakan di Jakarta. Di seleksi tahap pertama ini penyeleksi juri dari pihak Kemenag RI. Di mana materi seleksinya meliputi hafalan Al-Quran, bacaan, pemahaman Islam, kemampuan komunikasi berbahasa Arab, dan fikih salat.

"Tahap pertama dari Kemenag sendiri ada sekitar 150 orang setelah 150 orang, kemudian disaring menjadi 100 orang, yang ikut di tahap kedua. Tahap kedua yang menyeleksi langsung dari pihak Uni Emirat Arab-nya, ada empat orang Syeikh kalau enggak salah yang menyeleksi, materinya sama dengan tahap pertama," bebernya.

Pria alumni Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM) ini menyebut tahapan tersulit ada di seleksi tahap kedua. Mengingat daya ingat hafalan benar-benar diuji oleh para penguji dari syeikh asal UEA langsung.



"Yang tersulit di nguji hafalan, kalau nguji hafalan (Al-Quran) acak banget. Kalau dari Kemenag itu disuruh baca dari awal diteruskan. Kalau dari syeikhnya acak banget, bisa dari tengah, atau dari belakang, atau dari depan, enggak bisa memprediksi. Kalau yang dari Kemenag di tahap pertama kan bisa diprediksi, surat ini, disuruh baca awal surat. Kalau di tengah-tengah surat susah," paparnya.

Belum lagi kebiasaan Wahid yang membaca Al-Quran hafalan dengan mikrofon membuat dia sedikit grogi saat Syeikh meminta membacanya tanpa mikrofon.

"Ketika membaca ternyata ada yang sesuatu yang enggak pas di telinga syeikhnya, karena selama ini kan di Indonesia biasanya terbiasa membaca dengan mik (mikrofon) kalau tanpa mik kurang pede. Tapi mereka nggak mau, sempat nervous, sempat down juga, ada satu huruf yang dikoreksi juga oleh beliau," terangnya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top