Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif saat Pandemi
Selasa, 01 Juni 2021 - 03:39 WIB
loading...
Suasana webinar jelang perhelatan UOB Painting of the Year 2021. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sebagai rangkaian menuju kompetisi seni UOB Painting of the Year 2021 yang diselenggarakan UOB Indonesia, hadir program bertajuk “Melukis Asa”. Acara ini menawarkan topik-topik menarik, kontekstual, dan segar dengan perspektif beragam dari para ahli, praktisi, serta nara sumber yang berkompeten.
Mereka diundang secara berkala dari kurator, seniman, praktisi bisnis art fair, gallerist, ekonom, penulis, sampai eksekutif dan pejabat pemerintah.
Baca Juga: Menikmati Senja di Pantai Menganti, Surga Tersembunyi di Kebumen
Head of Economic and Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memberi pandangan menarik adanya disrupsi masa pandemi sektor ekonomi banyak terpukul, termasuk ekonomi kreatif.
“Saat ini, kita memasuki tantangan baru secara global, disebut VACCINE. Volatility yakni pergerakan cepat disebabkan penguncian ekonomi, dan berangsur-angsur dilepaskan. Ambiguity, kapankah ukuran kesuksesan kecepatan injeksi vaksin membantu recovery ekonomi? Complexity, secara global kompleks keragaman vaksin ada kendala, Confusion kebingungan kontrol medis sejumlah negara berbeda, Inoculation yakni mayoritas populasi melakukan masa kritis penguatan antibodi, New Normal, yaitu mencipta bisnis kenormalan baru, dunia digital di sektor ekonomi, serta Emerging Stronger yakni adaptasi lebih cepat dan lebih baik untuk berubah,” papar Enrico dalam webinar belum lama ini.
Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak menyampaikan bahwa kuncinya pemerintah mulai menerapkan kemungkinan segala adaptasi ekonomi yang baru, yakni digitalisasi.
“Prioritas pemerintah saat ini untuk industri ekonomi kreatif termasuk seni rupa adalah kembalinya produktivitas para pekerja kreatif, pemilik galeri, dan terutama seniman untuk menciptakan kondisi adaptasi digital yang merupakan upaya untuk menemukan beragam inovasi,” ungkapnya.
Mereka diundang secara berkala dari kurator, seniman, praktisi bisnis art fair, gallerist, ekonom, penulis, sampai eksekutif dan pejabat pemerintah.
Baca Juga: Menikmati Senja di Pantai Menganti, Surga Tersembunyi di Kebumen
Head of Economic and Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memberi pandangan menarik adanya disrupsi masa pandemi sektor ekonomi banyak terpukul, termasuk ekonomi kreatif.
“Saat ini, kita memasuki tantangan baru secara global, disebut VACCINE. Volatility yakni pergerakan cepat disebabkan penguncian ekonomi, dan berangsur-angsur dilepaskan. Ambiguity, kapankah ukuran kesuksesan kecepatan injeksi vaksin membantu recovery ekonomi? Complexity, secara global kompleks keragaman vaksin ada kendala, Confusion kebingungan kontrol medis sejumlah negara berbeda, Inoculation yakni mayoritas populasi melakukan masa kritis penguatan antibodi, New Normal, yaitu mencipta bisnis kenormalan baru, dunia digital di sektor ekonomi, serta Emerging Stronger yakni adaptasi lebih cepat dan lebih baik untuk berubah,” papar Enrico dalam webinar belum lama ini.
Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak menyampaikan bahwa kuncinya pemerintah mulai menerapkan kemungkinan segala adaptasi ekonomi yang baru, yakni digitalisasi.
“Prioritas pemerintah saat ini untuk industri ekonomi kreatif termasuk seni rupa adalah kembalinya produktivitas para pekerja kreatif, pemilik galeri, dan terutama seniman untuk menciptakan kondisi adaptasi digital yang merupakan upaya untuk menemukan beragam inovasi,” ungkapnya.
Lihat Juga :