Ini Saran Ahli Agar Mendapatkan Manfaat Puasa Sebulan Penuh Saat Corona
Kamis, 23 April 2020 - 09:32 WIB
loading...
Menjalankan puasa Ramadhan saat pandemi Covid-19 bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kesehatan ekstra agar tubuh tetap sehat dan bisa mendapatkan manfaat ibadah yang dijalani. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Menjalankan puasa Ramadhan selama pandemi Covid-19 bukanlah perkara mudah. Dalam situasi seperti saat ini, dibutuhkan kesehatan ekstra agar tubuh tetap sehat dan bisa mendapatkan manfaat dari menjalankan puasa Ramadhan semaksimal mungkin. Salah satunya bisa didapat dengan cara menjaga daya tahan tubuh.
"Ingin mendapat manfaat puasa yang baik, harus tidak konsumsi makanan yang tidak menaikkan gula darah yang sangat banyak. Makanan yang kita konsumsi harus makanan yang tidak membuat inflamasi," kata akademisi dan praktisi gizi, Dr Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK saat acara Puasa: Sehat dan Menyehatkan, Rabu (22/4/2020).
Inflamasi saat puasa umumnya terjadi saat mengonsumsi makanan bergula tinggi, lemak jenuh dan trans yang tinggi seperti teh manis dan minuman manis lainnya serta aneka gorengan. Seperti diketahui, teh manis dan gorengan merupakan salah satu hidangan yang kerap tersaji saat berbuka puasa. Meski terasa nikmat, namun faktanya, mengonsumsi gula dan gorengan secara berlebihan menyebabkan inflamasi.
"Buka puasa biasanya gorengan dan minuman manis. Ini sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebihan," jelas Dr Tirta.
Namun, jika tetap ingin mengonsumsi makanan manis, Dr Tirta menyarankan untuk memilih sumber gula yang juga mengandung serat. Misalnya kurma yang selalu dikonsumsi sebanyak tiga buah saat berbuka puasa seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Kurma juga banyak mengandung air untuk mensuplai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
"Rasul tidak mencontohkan buka puasa dengan teh manis dan minum sirup. Di teh ada gula. Karena bisa mentrigger adanya inflamasi," imbuhnya.
Seperti halnya ketika dalam kondisi normal, saat puasa konsumsi makanan dengan gizi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga imun tubuh terlebih selama pandemi seperti saat ini. Adapun indikator seimbangnya makanan yang dimakan dapat dilihat dari variasi jenis dan warna yang terhidang dalam piring makan. Pastikan selalu mengonsumsi protein hewani dan nabati, karbohidrat yang diutamakan mengandung serat tinggi seperti nasi merah, umbi, jagung atau nasi putih yang ditambahkan dengan aneka biji-bijan.
Selain itu, penting juga sumber lemak baik yang bisa diperoleh dari alpukat dan minyak tidak jenuh ganda lainnya. Protein hewani akan mensuplai asam amino yang lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Pastikan selalu ada setidaknya 1- 2 porsi protein hewani. Jenis white meat seperti unggas dan ikan merupakan pilihan terbaik. Namun, sebutir telur perhari bisa menjadi alternatif untuk sumber protein berkualitas.
"Selain zat gizi makro, zat gizi mikro juga sangat dibutuhkan. Pastikan dipiring ada sayuran dan buah dengan lima warna berbeda menjadi penanda baik bahwa asupan vitamin dan mineral tercukupi," lanjutnya.
Tidak hanya urusan berbuka puasa, Dr Tirta juga menekankan untuk memperhatikan asupan saat sahur. Dalam hal ini, disarankan untuk hindari makanan berlemak dan sebagai gantinya, mengonsumsi serat serta protein agar kenyang lebih lama dan mengonsumsi makanan secukupnya.
"Puasa juga gaya hidup. Gaya hidup baik bisa rusak karena mengonsumsi makanan yang salah. Terapkan pola konsusmi yang benar. Puasa untuk penguatan pengendalian diri kita," tandasnya.
"Ingin mendapat manfaat puasa yang baik, harus tidak konsumsi makanan yang tidak menaikkan gula darah yang sangat banyak. Makanan yang kita konsumsi harus makanan yang tidak membuat inflamasi," kata akademisi dan praktisi gizi, Dr Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK saat acara Puasa: Sehat dan Menyehatkan, Rabu (22/4/2020).
Inflamasi saat puasa umumnya terjadi saat mengonsumsi makanan bergula tinggi, lemak jenuh dan trans yang tinggi seperti teh manis dan minuman manis lainnya serta aneka gorengan. Seperti diketahui, teh manis dan gorengan merupakan salah satu hidangan yang kerap tersaji saat berbuka puasa. Meski terasa nikmat, namun faktanya, mengonsumsi gula dan gorengan secara berlebihan menyebabkan inflamasi.
"Buka puasa biasanya gorengan dan minuman manis. Ini sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebihan," jelas Dr Tirta.
Namun, jika tetap ingin mengonsumsi makanan manis, Dr Tirta menyarankan untuk memilih sumber gula yang juga mengandung serat. Misalnya kurma yang selalu dikonsumsi sebanyak tiga buah saat berbuka puasa seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Kurma juga banyak mengandung air untuk mensuplai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
"Rasul tidak mencontohkan buka puasa dengan teh manis dan minum sirup. Di teh ada gula. Karena bisa mentrigger adanya inflamasi," imbuhnya.
Seperti halnya ketika dalam kondisi normal, saat puasa konsumsi makanan dengan gizi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga imun tubuh terlebih selama pandemi seperti saat ini. Adapun indikator seimbangnya makanan yang dimakan dapat dilihat dari variasi jenis dan warna yang terhidang dalam piring makan. Pastikan selalu mengonsumsi protein hewani dan nabati, karbohidrat yang diutamakan mengandung serat tinggi seperti nasi merah, umbi, jagung atau nasi putih yang ditambahkan dengan aneka biji-bijan.
Selain itu, penting juga sumber lemak baik yang bisa diperoleh dari alpukat dan minyak tidak jenuh ganda lainnya. Protein hewani akan mensuplai asam amino yang lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Pastikan selalu ada setidaknya 1- 2 porsi protein hewani. Jenis white meat seperti unggas dan ikan merupakan pilihan terbaik. Namun, sebutir telur perhari bisa menjadi alternatif untuk sumber protein berkualitas.
"Selain zat gizi makro, zat gizi mikro juga sangat dibutuhkan. Pastikan dipiring ada sayuran dan buah dengan lima warna berbeda menjadi penanda baik bahwa asupan vitamin dan mineral tercukupi," lanjutnya.
Tidak hanya urusan berbuka puasa, Dr Tirta juga menekankan untuk memperhatikan asupan saat sahur. Dalam hal ini, disarankan untuk hindari makanan berlemak dan sebagai gantinya, mengonsumsi serat serta protein agar kenyang lebih lama dan mengonsumsi makanan secukupnya.
"Puasa juga gaya hidup. Gaya hidup baik bisa rusak karena mengonsumsi makanan yang salah. Terapkan pola konsusmi yang benar. Puasa untuk penguatan pengendalian diri kita," tandasnya.
(tdy)
Lihat Juga :