Shenshayba Bazaar, Desa Satu Ginjal yang Penduduknya Terpaksa Jual Organ Demi Bertahan Hidup
Senin, 21 Maret 2022 - 08:42 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 10 Daerah Paling Bahagia di Indonesia, Jakarta Urutan Berapa?
"Saya menyesal sekarang. Saya tidak bisa lagi bekerja. Saya kesakitan dan saya tidak bisa mengangkat apapun yang berat," jelas Nooruddin.
Keluarga Noorudin sekarang bergantung pada putra mereka yang berusia 12 tahun untuk mendapatkan uang. Noorudin mengungkapkan bahwa putranya terpaksa bekerja dengan menyemir sepatu seharga 70 sen sehari.
![Shenshayba Bazaar, Desa Satu Ginjal yang Penduduknya Terpaksa Jual Organ Demi Bertahan Hidup]()
Selain memberi makan keluarga, Noorudin mengaku menjual ginjalnya seharga USD1500 atau setara dengan Rp21 juta, untuk membayar utang. Sementara di Afghanistan sendiri, praktik jual beli ginjal tidak diatur oleh hukum.
Di samping itu, orang Afghanistan yang sangat membutuhkan uang biasanya dipertemukan calon dengan pasien kaya, yang melakukan perjalanan ke Herat dari seluruh negeri. Termasuk dari India dan Pakistan untuk menjual ginjalnya.
Baca Juga: Jadi Perhatian Dunia, MotoGP Mandalika Datangkan Banyak Wisatawan
Penerima ginjal kemudian harus membayar biaya rumah sakit dan donor. Misalnya keluarga Azyta yang memiliki begitu sedikit makanan sehingga dua dari tiga anaknya baru-baru ini dirawat karena kekurangan gizi. Dia merasa tidak punya pilihan selain menjual organ.
"Saya menyesal sekarang. Saya tidak bisa lagi bekerja. Saya kesakitan dan saya tidak bisa mengangkat apapun yang berat," jelas Nooruddin.
Keluarga Noorudin sekarang bergantung pada putra mereka yang berusia 12 tahun untuk mendapatkan uang. Noorudin mengungkapkan bahwa putranya terpaksa bekerja dengan menyemir sepatu seharga 70 sen sehari.

Selain memberi makan keluarga, Noorudin mengaku menjual ginjalnya seharga USD1500 atau setara dengan Rp21 juta, untuk membayar utang. Sementara di Afghanistan sendiri, praktik jual beli ginjal tidak diatur oleh hukum.
Di samping itu, orang Afghanistan yang sangat membutuhkan uang biasanya dipertemukan calon dengan pasien kaya, yang melakukan perjalanan ke Herat dari seluruh negeri. Termasuk dari India dan Pakistan untuk menjual ginjalnya.
Baca Juga: Jadi Perhatian Dunia, MotoGP Mandalika Datangkan Banyak Wisatawan
Penerima ginjal kemudian harus membayar biaya rumah sakit dan donor. Misalnya keluarga Azyta yang memiliki begitu sedikit makanan sehingga dua dari tiga anaknya baru-baru ini dirawat karena kekurangan gizi. Dia merasa tidak punya pilihan selain menjual organ.
Lihat Juga :