Indonesia Kita Ke-37 Tampilkan Perempuan-Perempuan Pilihan dalam Format Ludruk
Rabu, 14 September 2022 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Lakon yang diproduksi oleh Kayan Production ini ditulis dan disutradarai oleh Agus Noor dan menampilkan pendiri Indonesia Kita, Butet Kartaredjasa, dan para pemain panggung Indonesia, yaitu Dira Sugandi, Rieke Diah Pitaloka, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Rosianna Silalahi, Sruti Respati, Wisben, Joned, Sri Krishna Encik, Mia Ismi, Merlyn Sopjan, SAHITA dan Catur Benyek Kuncoro. Suguhan tari yang dikoreografi oleh Maria Bernadeta Aprianti (Etty Kajol) dan iringan musik yang diaransemen oleh Bintang Indrianto dan Koor oleh Bianglala Voices juga semakin mewarnai pementasan ini. Selain itu, pementasan ini juga semakin meriah dan unik, karena seluruh pemain yang tampil, baik itu pemain laki-laki, akan muncul dalam karakter perempuan.
Atas lakon yang kali ini diusung, pendiri Indonesia Kita, Butet Kartaredjasa menyatakan bahwa inilah untuk kesekian kali, Indonesia Kita menggelar lakon yang dipersembahkan bagi para perempuan. Di antaranya Nyonya-Nyonya Istana (2012), Nyonya Nomor Satu (2015), dan Princess Pantura (2018). “Lakon ini memperlihatkan sekaligus menyadarkan kita, pernahkah kita memberikan kesempatan yang layak dan sepantasnya kepada perempuan untuk mengemban tanggung jawab politik dan pemerintahan. Di sisi lain, lakon ini juga memetaforakan situasi yang mengajak kita bertanya apakah situasi dominasi satu pihak menjadi jawaban untuk meraih kehidupan bernegara yang aman sentosa dan sejahtera?” ujar Butet Kartaredjasa.
Butet Kartaredjasa juga menambahkan “Bukankah negara ini dibentuk dengan landasan Bhinneka Tunggal Ika, yang memberikan tempat bagi keberagaman. Saya rasa, lakon ini tidak hanya semata-mata akan bicara tentang perempuan, namun sebuah situasi metafora yang menyadarkan kita akan fondasi negara kita yang disusun dari kontribusi semua pihak, golongan, dan gender.”
Bagi Direktur Artistik Indonesia Kita, Agus Noor, jalinan kisah ini menjadi sangat menarik dan kontekstual di tengah arus pemberitaan hangat yang beredar di media massa akan persiapan pencarian sosok pemimpin di masa depan, menjelang pesta politik 2024. “Pertanyaan akan sosok pemimpin mau tidak mau akan juga dikaitkan dengan gender. Lewat lakon ini, kita justru ingin mengajak penonton untuk melihat bahwa gender bukanlah hal yang harus menjadi faktor dalam menilai kemampuan seseorang, apalagi dalam memimpin. Dan itu akan kami perlihatkan dalam bentuk seni tradisi bernama ludruk yang sedari dulu tak pernah membatasi para seniman yang tampil dalam pengkotak-kotakan gender. Justru konsep pemanggungan ludruk ini akan menantang seni peran para seniman,” ujar Agus Noor yang menulis dan menyutradarai pertunjukan ini.
Pementasan Indonesia Kita ini juga didukung oleh Pertamina, salah satu Badan Usaha Milik Negara Indonesia. Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia, Erick Thohir yang hadir dalam pentas pertama Indonesia Kita setelah pandemi. Beliau mengungkapkan bahwa “BUMN mendukung penuh para seniman dan seni pertunjukan bangkit kembali”. Dukungan inilah yang terus menyemangati panggung Indonesia Kita untuk menjaga dan melestarikan budaya yang kita miliki.
Atas lakon yang kali ini diusung, pendiri Indonesia Kita, Butet Kartaredjasa menyatakan bahwa inilah untuk kesekian kali, Indonesia Kita menggelar lakon yang dipersembahkan bagi para perempuan. Di antaranya Nyonya-Nyonya Istana (2012), Nyonya Nomor Satu (2015), dan Princess Pantura (2018). “Lakon ini memperlihatkan sekaligus menyadarkan kita, pernahkah kita memberikan kesempatan yang layak dan sepantasnya kepada perempuan untuk mengemban tanggung jawab politik dan pemerintahan. Di sisi lain, lakon ini juga memetaforakan situasi yang mengajak kita bertanya apakah situasi dominasi satu pihak menjadi jawaban untuk meraih kehidupan bernegara yang aman sentosa dan sejahtera?” ujar Butet Kartaredjasa.
Butet Kartaredjasa juga menambahkan “Bukankah negara ini dibentuk dengan landasan Bhinneka Tunggal Ika, yang memberikan tempat bagi keberagaman. Saya rasa, lakon ini tidak hanya semata-mata akan bicara tentang perempuan, namun sebuah situasi metafora yang menyadarkan kita akan fondasi negara kita yang disusun dari kontribusi semua pihak, golongan, dan gender.”
Bagi Direktur Artistik Indonesia Kita, Agus Noor, jalinan kisah ini menjadi sangat menarik dan kontekstual di tengah arus pemberitaan hangat yang beredar di media massa akan persiapan pencarian sosok pemimpin di masa depan, menjelang pesta politik 2024. “Pertanyaan akan sosok pemimpin mau tidak mau akan juga dikaitkan dengan gender. Lewat lakon ini, kita justru ingin mengajak penonton untuk melihat bahwa gender bukanlah hal yang harus menjadi faktor dalam menilai kemampuan seseorang, apalagi dalam memimpin. Dan itu akan kami perlihatkan dalam bentuk seni tradisi bernama ludruk yang sedari dulu tak pernah membatasi para seniman yang tampil dalam pengkotak-kotakan gender. Justru konsep pemanggungan ludruk ini akan menantang seni peran para seniman,” ujar Agus Noor yang menulis dan menyutradarai pertunjukan ini.
Pementasan Indonesia Kita ini juga didukung oleh Pertamina, salah satu Badan Usaha Milik Negara Indonesia. Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia, Erick Thohir yang hadir dalam pentas pertama Indonesia Kita setelah pandemi. Beliau mengungkapkan bahwa “BUMN mendukung penuh para seniman dan seni pertunjukan bangkit kembali”. Dukungan inilah yang terus menyemangati panggung Indonesia Kita untuk menjaga dan melestarikan budaya yang kita miliki.
(atk)
Lihat Juga :