COVID-19 Belum Ada Vaksin, Terapi Plasma Konvalesen Jadi Pengobatan Alternatif
Kamis, 02 Juli 2020 - 21:25 WIB
loading...
Terapi plasma konvalesen merupakan terapi yang sudah cukup lama, yakni sejak tahun 1900-an. Foto Ilustrasi/AFP via Getty Images/Thibault Savary
A
A
A
JAKARTA - Terapi plasma konvalesen yang kini kembali digaungkan sebagai salah satu terapi alternatif untuk mengobati pasien positif COVID-19 bukanlah hal baru. Terapi ini telah digunakan sejak satu abad lalu untuk mengobati banyak penyakit, termasuk difteri.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), M.Sc, Ph.D mengungkapkan, perjalanan panjang terapi konvalesen hingga sekarang kembali terdengar.
“Terapi plasma konvalesen merupakan terapi yang sudah cukup lama, yakni sejak tahun 1900-an. Sehingga sudah digunakan untuk penyakit-penyakit seperti difteri, SARS, MERS, dan flu burung. Hanya, masih terbatas untuk uji klinis. Demikian juga dengan COVID-19, dipakai di banyak negara namun hanya sebatas uji klinis,” ujar Erlina, baru-baru ini. (Baca Juga: Sebelum Donor Darah, Lakukan Beberapa Hal Berikut Ini )
Erlina yang masuk dalam Tim Pakar Dokter Gugus Tugas Nasional juga menuturkan bahwa banyak negara telah menggunakan terapi plasma konvalesen dengan hasil yang lumayan bagus dan cukup efektif. Namun demikian, keberhasilan terapi tersebut masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit. Oleh karenanya, saat ini Amerika Serikat tengah melakukan pengujian terapi plasma konvalesen kepada pasien dalam jumlah yang banyak, tapi belum merilis publikasi secara resmi terkait hal tersebut.
“Misalkan di China, di sana terdapat empat studi yang dilaporkan uji klinisnya, tapi sayang pasiennya masih sedikit. Ada yang dilakukan kepada lima pasien, 10 pasien, enam pasien, dan bahkan yang di Korea hanya dua pasien,” tutur Erlina.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), M.Sc, Ph.D mengungkapkan, perjalanan panjang terapi konvalesen hingga sekarang kembali terdengar.
“Terapi plasma konvalesen merupakan terapi yang sudah cukup lama, yakni sejak tahun 1900-an. Sehingga sudah digunakan untuk penyakit-penyakit seperti difteri, SARS, MERS, dan flu burung. Hanya, masih terbatas untuk uji klinis. Demikian juga dengan COVID-19, dipakai di banyak negara namun hanya sebatas uji klinis,” ujar Erlina, baru-baru ini. (Baca Juga: Sebelum Donor Darah, Lakukan Beberapa Hal Berikut Ini )
Erlina yang masuk dalam Tim Pakar Dokter Gugus Tugas Nasional juga menuturkan bahwa banyak negara telah menggunakan terapi plasma konvalesen dengan hasil yang lumayan bagus dan cukup efektif. Namun demikian, keberhasilan terapi tersebut masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit. Oleh karenanya, saat ini Amerika Serikat tengah melakukan pengujian terapi plasma konvalesen kepada pasien dalam jumlah yang banyak, tapi belum merilis publikasi secara resmi terkait hal tersebut.
“Misalkan di China, di sana terdapat empat studi yang dilaporkan uji klinisnya, tapi sayang pasiennya masih sedikit. Ada yang dilakukan kepada lima pasien, 10 pasien, enam pasien, dan bahkan yang di Korea hanya dua pasien,” tutur Erlina.
Lihat Juga :