Podcast Aksi Nyata: Perusahaan Ini Ubah Sampah Jadi Cuan
Senin, 26 September 2022 - 19:37 WIB
loading...
A
A
A
“Seperti diketahui bersama, kita adalah negara kedua dengan polusi terbesar di dunia setelah China. Jadi aku melihat satu masalah itu, dan aku melihat oh tapi ternyata secara rantai bisnis tuh ternyata sudah ada,” lanjutnya.
Octalia melanjutkan, terobosannya tersebut didasarkan untuk mengatasi harga yang tidak wajar, supply and demand yang tidak stabil serta memudahkan para pengepul menjual sampah plastik langsung ke perusahaan daur ulang.
“Jadi, dari pemulung sudah ada, dari bank sampah juga sudah ada. Cuma di sini masalahnya tidak ter-manage dengan baik saja. Jadi kita hanya ada di aturan buang sampah pada tempatnya, tapi kita nggak punya pilahlah sampah pada tempatnya. Kita tidak dibiasakan dengan itu,” paparnya.
Octalia juga menyebut bahwa saat ini isu tentang lingkungan telah menjadi perhatian utama dan penting dari tahun ke tahun di Indonesia. Salah satunya masalah penanganan sampah plastik yang kurang optimal dan para pelaku daur ulang sampah yang kurang koneksi dan pengetahuan.
“Jadi sebenarnya banyak pelaku pendaur yang sudah punya banyak koneksi, tetapi nggak jalan. Jadi aku liat di situ, oh ternyata mereka butuh knowledge, mereka butuh support. Di situlah aku agak muncul,” ungkapnya.
Octalia melanjutkan, terobosannya tersebut didasarkan untuk mengatasi harga yang tidak wajar, supply and demand yang tidak stabil serta memudahkan para pengepul menjual sampah plastik langsung ke perusahaan daur ulang.
“Jadi, dari pemulung sudah ada, dari bank sampah juga sudah ada. Cuma di sini masalahnya tidak ter-manage dengan baik saja. Jadi kita hanya ada di aturan buang sampah pada tempatnya, tapi kita nggak punya pilahlah sampah pada tempatnya. Kita tidak dibiasakan dengan itu,” paparnya.
Octalia juga menyebut bahwa saat ini isu tentang lingkungan telah menjadi perhatian utama dan penting dari tahun ke tahun di Indonesia. Salah satunya masalah penanganan sampah plastik yang kurang optimal dan para pelaku daur ulang sampah yang kurang koneksi dan pengetahuan.
“Jadi sebenarnya banyak pelaku pendaur yang sudah punya banyak koneksi, tetapi nggak jalan. Jadi aku liat di situ, oh ternyata mereka butuh knowledge, mereka butuh support. Di situlah aku agak muncul,” ungkapnya.
(tsa)
Lihat Juga :