Apakah Operasi Katarak dengan Lensa Artifisial Bisa Pulihkan Penglihatan?
Kamis, 27 Oktober 2022 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Pemeriksaan objektif, seperti Snellen Chart, tidak bisa mendeteksi adanya gangguan penglihatan yang dikeluhkan pasien tersebut. Karenanya, penelitian ini tidak berhenti pada perbedaan kualitas penglihatan antara kedua kelompok, tetapi juga mengetahui komponen optikal yang turut memengaruhi.
Penelitian ini selaras dengan visi JEC Eye Hospitals & Clinics sebagai eye care leader di Indonesia untuk mengoptimalkan penglihatan dan kualitas hidup masyarakat di Tanah Air.
RS Mata JEC memiliki peralatan diagnostic yang sangat lengkap untuk mengukur berbagai komponen optikal yang mempengaruhi kualitas penglihatan, seperti pengukuran diameter pupil dalam cahaya terang (photopic) ataupun temaram (mesopic), kelengkungan kornea, kualitas air mata secara non invasif (NIKBUT), serta alat wavefront analyzer untuk melihat adanya aberasi optikal (higher order aberration).
Salah satu temuan penelitian memperlihatkan nilai lapisan air mata dengan pengukuran NIKBUT (Non Invasive Keratograph Break-up Time) sebesar 9,93 detik - dan dianggap sebagai nilai kritis, dimana pasien mengalami keluhan gangguan penglihatan secara subjektif dan dibuktikan dengan wavefront analyzer terjadinya peningkatan aberasi optikal (higher order aberration) padahal tidak ada keluhan mata kering.
Penelitian DR. Dr. Johan A. Hutauruk, SpM(K) memberikan pencerahan di bidang kesehatan mata; bahwa pasien pasca-operasi katarak dengan NIKBUT di bawah 9,93 detik berpotensi mengalami keluhan gangguan secara subjektif, meskipun tidak mengalami mata kering.
Nilai ini bisa digunakan sebagai acuan prediksi bagi pasien pseudofakia untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan penglihatan, misalnya dengan memberikan tetes air mata buatan. Artinya, pengecekan pasca-operasi secara berkelanjutan sangat krusial untuk mengantisipasi kualitas penglihatan yang menurun.
Penelitian ini selaras dengan visi JEC Eye Hospitals & Clinics sebagai eye care leader di Indonesia untuk mengoptimalkan penglihatan dan kualitas hidup masyarakat di Tanah Air.
RS Mata JEC memiliki peralatan diagnostic yang sangat lengkap untuk mengukur berbagai komponen optikal yang mempengaruhi kualitas penglihatan, seperti pengukuran diameter pupil dalam cahaya terang (photopic) ataupun temaram (mesopic), kelengkungan kornea, kualitas air mata secara non invasif (NIKBUT), serta alat wavefront analyzer untuk melihat adanya aberasi optikal (higher order aberration).
Salah satu temuan penelitian memperlihatkan nilai lapisan air mata dengan pengukuran NIKBUT (Non Invasive Keratograph Break-up Time) sebesar 9,93 detik - dan dianggap sebagai nilai kritis, dimana pasien mengalami keluhan gangguan penglihatan secara subjektif dan dibuktikan dengan wavefront analyzer terjadinya peningkatan aberasi optikal (higher order aberration) padahal tidak ada keluhan mata kering.
Penelitian DR. Dr. Johan A. Hutauruk, SpM(K) memberikan pencerahan di bidang kesehatan mata; bahwa pasien pasca-operasi katarak dengan NIKBUT di bawah 9,93 detik berpotensi mengalami keluhan gangguan secara subjektif, meskipun tidak mengalami mata kering.
Nilai ini bisa digunakan sebagai acuan prediksi bagi pasien pseudofakia untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan penglihatan, misalnya dengan memberikan tetes air mata buatan. Artinya, pengecekan pasca-operasi secara berkelanjutan sangat krusial untuk mengantisipasi kualitas penglihatan yang menurun.
Lihat Juga :