7 Budaya Pacaran yang Sebenarnya Toxic tapi Diromantisasi
loading...

Budaya pacaran sejak dulu banyak yang berbahaya atau toxic, tapi masih terus diromantisasi sampai kini. Foto/Milan Popovic, Unsplash
A
A
A
JAKARTA - Istilah pacaran tentu bukanlah hal baru, sebab sejak dulu istilah ini digunakan untuk menandai hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan yang hendak melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Budaya pacaran menurut Beth L. Bailey dalam buku From Front Porch to Back Seat: Courtship in Twentieth Century America diperkirakan dimulai sejak tahun 1920 dengan maksud mencari pasangan yang cocok dan sesuai keinginan para anak muda. Ini sebagai bentuk pemberontakan atas budaya perjodohan.
Sayangnya, ada juga beberapa budaya pacaran yang ada sejak zaman dulu yang sebenarnya tidak baik, berbahaya alias toxic tapi masih sering dibenarkan dan diromantisasi. Alhasil, masih banyak orang yang mewajarkan budaya pacaran tersebut bahkan terus mengangkatnya dalam cerita-cerita.
Nah, berikut budaya pacaran yang toxic tapi masih sering diromantisasi.
1. Harus Laki-laki yang Menyatakan Cinta Terlebih Dulu
![7 Budaya Pacaran yang Sebenarnya Toxic tapi Diromantisasi]()
Foto:Pixabay/Pexels
Sebelum budaya pacaran terbentuk, sudah jadi kebiasaan bahwa laki-lakilah yang harus menyatakan cinta, sedangkan perempuan menunggu. Bila perempuan 'menembak' lebih dulu, biasanya ia akan langsung dicap negatif.
Nyatanya dalam penelitian Women and men in love: who really feels it and says it first?”yang dilakukan Harrison pada 2011 menunjukkan bahwa laki-laki memang lebih sering mengakui perasaannya lebih dulu dibanding perempuan. Namun bukan berarti perempuan haram mengungkapkan perasaannya lebih dulu.
Pasalnya, hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa laki-laki tetap menyukai pengakuan cinta dari perempuan, dan pernyataan cinta perempuan tersebut menandakan dirinya sudah siap untuk berkomitmen.
2. Laki-laki yang Harus Membayar Semuanya
Budaya pacaran menurut Beth L. Bailey dalam buku From Front Porch to Back Seat: Courtship in Twentieth Century America diperkirakan dimulai sejak tahun 1920 dengan maksud mencari pasangan yang cocok dan sesuai keinginan para anak muda. Ini sebagai bentuk pemberontakan atas budaya perjodohan.
Sayangnya, ada juga beberapa budaya pacaran yang ada sejak zaman dulu yang sebenarnya tidak baik, berbahaya alias toxic tapi masih sering dibenarkan dan diromantisasi. Alhasil, masih banyak orang yang mewajarkan budaya pacaran tersebut bahkan terus mengangkatnya dalam cerita-cerita.
Nah, berikut budaya pacaran yang toxic tapi masih sering diromantisasi.
1. Harus Laki-laki yang Menyatakan Cinta Terlebih Dulu

Foto:Pixabay/Pexels
Sebelum budaya pacaran terbentuk, sudah jadi kebiasaan bahwa laki-lakilah yang harus menyatakan cinta, sedangkan perempuan menunggu. Bila perempuan 'menembak' lebih dulu, biasanya ia akan langsung dicap negatif.
Nyatanya dalam penelitian Women and men in love: who really feels it and says it first?”yang dilakukan Harrison pada 2011 menunjukkan bahwa laki-laki memang lebih sering mengakui perasaannya lebih dulu dibanding perempuan. Namun bukan berarti perempuan haram mengungkapkan perasaannya lebih dulu.
Pasalnya, hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa laki-laki tetap menyukai pengakuan cinta dari perempuan, dan pernyataan cinta perempuan tersebut menandakan dirinya sudah siap untuk berkomitmen.
2. Laki-laki yang Harus Membayar Semuanya
Lihat Juga :